MEDAN, POJOKSATU.id - Banjir yang melanda Kota Medan pada Kamis (29/10/2026) memaksa 617 warga mengungsi ke 10 titik penampungan.

Kecamatan Medan Johor dan Medan Maimun menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, dengan ketinggian air mencapai 100-150 sentimeter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan menyatakan penanganan saat ini difokuskan pada evakuasi warga terdampak dan pendistribusian makanan siap saji.

Sekretaris BPBD Kota Medan, Suriono, mengatakan hingga laporan tersebut disampaikan belum ditemukan warga yang mengalami luka-luka. Distribusi logistik juga masih dapat menjangkau lokasi terdampak.

"Saat ini belum ada ditemukan warga yang terluka. Dan akses distribusi logistik masih aman dan dapat dijangkau petugas," ujar Suriono.

Berdasarkan data BPBD, dari total 617 pengungsi, sebanyak 44 orang merupakan balita, 189 anak-anak, 295 orang dewasa, 90 lansia, dan satu penyandang disabilitas.

Sementara itu, sebanyak 36 warga telah berhasil dievakuasi.

Medan Johor menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 332 jiwa. Disusul Medan Maimun sebanyak 229 jiwa, Medan Helvetia 31 jiwa, dan Medan Tuntungan 25 jiwa.

Pemko Medan Antisipasi Ancaman Air Kiriman

Di tengah penanganan banjir, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan bahwa ancaman banjir tidak hanya dipengaruhi hujan yang mengguyur wilayah perkotaan, tetapi juga curah hujan tinggi di kawasan hulu sungai.

Hal itu disampaikan Rico saat memimpin Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi di Balai Kota Medan, Rabu (28/10/2026).

Menurut Rico, kenaikan debit sungai tetap dapat terjadi meskipun Kota Medan tidak mengalami hujan lebat.

Ia mencontohkan kondisi beberapa hari sebelumnya, ketika debit air sungai meningkat sekitar 50-60 sentimeter akibat hujan di kawasan hulu.

“Hujan di hulu saja bisa menyebabkan air kita bisa naik, bagaimana lagi apabila terjadi hujan yang cukup lebat juga terjadi di Kota Medan. Ini bisa kita pantau dari Kecamatan Medan Tuntungan dan Kecamatan Medan Selayang,” kata Rico.

Rapat koordinasi tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Medan Erfin Fachrurrazi, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan perangkat daerah, para camat, serta perwakilan BMKG, Balai Wilayah Sungai (BWS), TNI, Polri, Basarnas, Kejaksaan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Kesiapsiagaan ini dilakukan dengan mempertimbangkan pengalaman banjir besar pada 27 November 2025, yang dilaporkan melumpuhkan 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan.

Warga Diminta Siapkan Tas Darurat

Selain penanganan oleh petugas, BPBD mengingatkan masyarakat agar mengantisipasi kemungkinan banjir susulan. Warga diminta memantau informasi cuaca melalui kanal resmi pemerintah serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Suriono juga mengimbau warga menyiapkan tas tanggap bencana sejak dini untuk mempercepat proses evakuasi apabila ketinggian air meningkat.

Tas tersebut dapat berisi dokumen penting, seperti KTP, kartu keluarga, surat tanah, ijazah, serta obat-obatan yang dibutuhkan anggota keluarga.

“Dokumen penting sudah dikumpulkan dalam satu tas atau wadah. Bukan BPBD yang menyimpan, tapi masing-masing orang. Sehingga, pada saat banjir besar datang tinggal dibawa,” katanya.