SURABAYA, POJOKSATU.id - Kolaborasi media dan industri kreatif dinilai menjadi salah satu kunci untuk membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas pasar di era digital.
Melalui kekuatan cerita, jangkauan audiens, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), media berpeluang membantu pelaku usaha meningkatkan eksposur produk dan daya saing.
Peluang tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Panel 3 Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 bertajuk "Peluang Kolaborasi Media dan Industri Kreatif di Era Konten Digital".
Kegiatan yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) itu berlangsung di Shangri-La Hotel, Surabaya, 28-29 Oktober 2026.
Para narasumber menyoroti pentingnya sinergi antara media, pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Kolaborasi tidak hanya menyangkut promosi produk, tetapi juga pengembangan keterampilan digital, peningkatan kualitas usaha, dan perluasan akses pasar.
AI dan Media Bisa Perkuat Ekonomi Kreatif
Staf Ahli Bidang Riset Pendidikan dan Hubungan Kelembagaan Kementerian Ekonomi Kreatif, Dian Permanasari, mengatakan media dan produksi konten digital merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
"Pemanfaatan AI dapat mendukung berbagai proses kerja, mulai dari pengolahan data dan analisis hingga penyuntingan serta pengembangan produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi," ujar Dian seperti dikutip Pojoksatu.id.
Kementerian Ekonomi Kreatif juga mendorong pemetaan 21 subsektor ekonomi kreatif untuk memperkuat pengembangan industri.
Dalam proses tersebut, kolaborasi media dibutuhkan untuk mendorong lahirnya produk bernilai tambah, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta memberikan edukasi mengenai aspek hukum.
"Pertumbuhan ekonomi kreatif perlu diukur melalui indikator yang berkelanjutan, termasuk kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, ekspor, dan investasi," tegas dia.
Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi lintas sektor, pelaku industri kreatif diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan konten, tetapi juga mengembangkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Kekuatan Media Bantu UMKM
Editor-in-Chief Good News From Indonesia (GNFI), Akhyari Hananto, menilai media memiliki modal penting untuk membantu UMKM memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Modal tersebut mencakup jangkauan audiens, kemampuan bercerita, serta kepercayaan publik yang dibangun melalui proses kurasi dan kerja redaksional.
"Media punya jangkauan audiens, kekuatan bercerita, dan kepercayaan publik. Itu bisa menjadi modal untuk membantu UMKM memperkenalkan produknya kepada masyarakat," kata Akhyari.
Menurutnya, promosi UMKM tidak harus selalu berfokus pada produk. Media juga dapat mengangkat kisah perjuangan, proses kreatif, dan pencapaian pelaku usaha melalui pendekatan human stories.
"Pendekatan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal nilai di balik sebuah produk, mulai dari gagasan awal, proses produksi, hingga upaya pelaku usaha mempertahankan bisnisnya," jelas dia.
Akhyari memaparkan, jaringan situs GNFI mencatat sekitar 3,9 miliar tayangan sepanjang 2025. Pada 2026, GNFI menargetkan sekitar 4,5 miliar hingga mendekati 5 miliar tayangan.
Potensi jangkauan tersebut, menurut Akhyari, dapat menjadi peluang untuk membantu produk UMKM memperoleh eksposur lebih luas.
GNFI juga merencanakan kolaborasi dengan sekolah yang memiliki kurikulum konten kreatif dan digital. Melalui skema tersebut, siswa akan didampingi untuk membantu UMKM memproduksi konten secara berkala. Konten yang dihasilkan kemudian dikurasi, disunting, dan dipublikasikan melalui kanal media.
Skema ini berpotensi mempertemukan kebutuhan UMKM terhadap promosi digital dengan kesempatan bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan produksi konten.
Pemerintah Dorong IKM Naik Kelas Lewat Digitalisasi
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala UPT Pengembangan Mutu Produk Industri-Teknologi Kreatif Surabaya, Fitri Arishanty Hamsy, menjelaskan upaya mendorong industri kecil dan menengah (IKM) agar mampu meningkatkan kualitas produk dan memperluas pemasaran.
Fitri menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tercatat 5,84 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen. Sementara itu, sektor industri pengolahan tumbuh 6,02 persen.
Ia juga menyebut terdapat sekitar 870.688 unit usaha industri di Jawa Timur, yang mayoritas merupakan IKM.
"Penguatan IKM tidak hanya melalui peningkatan kualitas produk, tetapi juga legalitas, perlindungan merek, desain kemasan, dan pemanfaatan pemasaran digital," jelas Fitri.
Pemerintah memberikan sejumlah fasilitasi, di antaranya sertifikasi halal, perlindungan merek, desain kemasan, konsultasi pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), serta pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk.
Pembinaan juga memanfaatkan kanal digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk memperluas jangkauan informasi.
Selain itu, promosi produk IKM dilakukan melalui pameran dan misi dagang. Fitri berharap kerja sama publikasi dapat melibatkan media nasional maupun lokal agar informasi tentang program pembinaan, layanan, dan kegiatan pemerintah menjangkau lebih banyak pelaku usaha.
Kolaborasi publikasi tersebut diharapkan membantu pelaku IKM mengetahui peluang yang tersedia, termasuk akses pendampingan dan promosi produk.
Pelaku UMKM Butuh Dukungan Promosi
Perspektif pelaku usaha disampaikan Founder dan Owner Namira Ecoprint, Yayuk Eko Agustin. Ia mengatakan keterbatasan anggaran masih menjadi salah satu tantangan bagi UMKM dalam mempromosikan produk.
"Bagi UMKM yang memiliki keterbatasan anggaran promosi, dukungan media sangat penting agar produk lebih dikenal dan bisa menjangkau pasar yang lebih luas," ujar Yayuk.
Namira Ecoprint mengembangkan produk kain bermotif alami dengan memanfaatkan bahan tumbuhan, antara lain daun alang-alang, mengkudu, dan pakis.
Bagi Yayuk, kreativitas dan inovasi menjadi pembeda produk UMKM. Namun, kualitas dan keunikan produk perlu diikuti publikasi agar semakin banyak masyarakat mengenal serta mempertimbangkan produk tersebut.
Yayuk juga menceritakan pengalamannya mengikuti ajang Karya Kreatif Indonesia yang diselenggarakan Bank Indonesia di Jakarta.
Pengalaman itu menunjukkan pentingnya hubungan dengan media dan berbagai pihak untuk membuka peluang promosi sekaligus memperluas jaringan usaha.
Ia berharap informasi mengenai program pemerintah dan kesempatan promosi dapat menjangkau pelaku UMKM hingga tingkat bawah.
Dengan begitu, usaha kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya tetap mempunyai peluang untuk berkembang.
Kolaborasi jadi Kunci
Paparan para narasumber dalam IDMC 2026 menunjukkan bahwa penguatan industri kreatif membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Media dapat membantu memperkenalkan produk melalui cerita dan distribusi konten, pemerintah menyediakan dukungan pembinaan, lembaga pendidikan mengembangkan keterampilan digital, sedangkan pelaku usaha menjaga kualitas serta inovasi produk.
Pemanfaatan AI juga membuka peluang untuk mendukung proses produksi dan pengembangan konten. Namun, teknologi tersebut perlu diiringi strategi yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan karakter masing-masing usaha.
Bagi UMKM, tantangannya bukan sekadar hadir di media sosial, melainkan bagaimana membuat produk lebih dikenal, membangun kepercayaan konsumen, dan menjangkau pasar yang relevan.
Sementara itu, bagi media, kolaborasi dengan industri kreatif membuka ruang untuk mengembangkan peran sekaligus mencari peluang bisnis baru tanpa meninggalkan kualitas dan kredibilitas jurnalistik.
Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 diselenggarakan AMSI pada 28-29 Oktober 2026 di Shangri-La Hotel, Surabaya, dengan tema “Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI & Content Creator”.
Konferensi tersebut didukung Pertamina, Astra, BNI, Djarum, Alamtri, PLN, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Freeport, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Jago, Bank Mandiri, GoTo, Bank Syariah Indonesia (BSI), Astra Honda Motor, dan INALUM.








