PALEMBANG, POJOKSATU.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman bagi kesehatan warga Palembang, Sumatera Selatan.

Meski ketebalan asap pada Sabtu (24/10/2026) pagi terlihat berkurang dibandingkan hari sebelumnya, sejumlah warga masih beraktivitas di luar ruangan, termasuk berolahraga tanpa menggunakan masker.

Padahal, kualitas udara di Palembang masih berada pada kategori berbahaya. Berdasarkan pemantauan IQAir, indeks kualitas udara tercatat mencapai 321 pada pukul 05.00 WIB.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya ketebalan asap secara visual tidak serta-merta menandakan udara aman untuk dihirup.

Partikel polutan berukuran sangat kecil masih berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan.

Pada Sabtu (24/10/2026) menunjukkan kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang. Ketebalannya dapat berubah dalam waktu singkat mengikuti arah angin yang membawa asap dari wilayah kebakaran.

Konsentrasi PM2.5 Sempat Mendekati 900 Mikrogram per Meter Kubik

Ancaman pencemaran udara di Palembang terlihat dari tingginya konsentrasi partikel halus PM2.5 sehari sebelumnya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengungkapkan konsentrasi PM2.5 pada Jumat (23/10/2026) sempat mencapai 898,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 02.00 WIB.

Angka tersebut kemudian turun menjadi 857,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 03.00 WIB. Namun, hingga pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 masih tercatat sebesar 301,3 mikrogram per meter kubik.

Menurut Wandayantolis, buruknya kualitas udara tersebut diduga kuat berkaitan dengan karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan wilayah sekitarnya.

Tingginya konsentrasi PM2.5 perlu diwaspadai karena partikel berukuran kecil ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.

Paparan asap juga berisiko memperburuk kondisi orang yang memiliki gangguan pernapasan, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya.

Karhutla di Sejumlah Wilayah Memperburuk Kualitas Udara

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan menjadi salah satu faktor yang memperparah pencemaran udara di Palembang.

Sejumlah wilayah yang dilaporkan mengalami kebakaran meliputi Kabupaten OKI, Ogan Ilir (OI), Banyuasin, serta beberapa titik di Kota Palembang.

Kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar. Sementara itu, perubahan arah angin memungkinkan asap dari lokasi kebakaran terbawa menuju kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.

Situasi ini membuat kualitas udara berpotensi berubah sepanjang hari. Karena itu, masyarakat tidak disarankan hanya mengandalkan penglihatan untuk menentukan apakah kondisi udara sudah aman.

Warga Diimbau Membatasi Olahraga di Luar Ruangan

Di tengah kondisi udara yang belum membaik, masyarakat diimbau lebih berhati-hati saat menjalankan aktivitas akhir pekan. Olahraga di ruang terbuka sebaiknya ditunda atau dialihkan ke dalam ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya.

Warga yang harus keluar rumah dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator N95 atau KN95, serta mengurangi durasi aktivitas di luar ruangan.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit jantung atau paru-paru perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan mengalami dampak paparan polusi.

Masyarakat juga disarankan memantau perkembangan kualitas udara melalui sumber pemantauan yang tepercaya sebelum beraktivitas.

Meski asap terlihat menipis, kondisi tersebut belum menjadi jaminan bahwa udara telah aman bagi kesehatan. Selama konsentrasi polutan masih tinggi dan karhutla belum terkendali, membatasi paparan asap menjadi langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga.