POJOKSATU.ID- Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal tersebut menyusul lonjakan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Indonesia.
Hingga 23 Oktober 2026 pagi, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 1.350 titik. Dan ini meningkat 542 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan, peningkatan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat patroli. Lalu Verifikasi lapangan, dan operasi pemadaman, terutama di wilayah yang mengalami lonjakan titik panas signifikan.
“Data hotspot menjadi indikator awal untuk mengarahkan patroli dan groundcheck. Bukan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar,” ujar Ristianto seperti dikutip, Jumat, 23 Oktober 2026.
Berdasarkan pemantauan sistem SiPongi Kemenhut, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 874 titik. Angka tersebut melonjak dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 198 titik.
Di Kalimantan Selatan, jumlah hotspot juga meningkat dari 52 menjadi 99 titik. Sementara itu, Sumatra Selatan mencatat penurunan dari 131 menjadi 59 titik.
Adapun Kalimantan Barat mencatat 39 titik, naik dari 38 titik. Jambi mengalami penurunan dari 27 menjadi 7 titik, sedangkan Riau masih nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Secara keseluruhan, jumlah hotspot di enam provinsi prioritas karhutla meningkat dari 446 menjadi 1.078 titik. Kemenhut menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
“Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi. Sehingga seluruh indikasi perlu diverifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” ucapnya.
Merespons lonjakan tersebut, Kemenhut memperkuat patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman langsung. Serta penyekatan penjalaran api, hingga pendinginan di lokasi yang masih ditemukan api maupun bara.
Penanganan juga dilakukan melalui penyisiran bara dan mopping up untuk memastikan tidak ada api berpotensi memicu kebakaran kembali. Perhatian khusus diberikan pada lahan gambut.
Karena itu, operasi pemadaman tidak cukup hanya dengan mematikan api yang terlihat. Pembasahan dan pendinginan perlu dilanjutkan untuk mencegah kebakaran kembali muncul.
Dukungan operasi udara juga disiagakan melalui 49 unit armada. Yang terdiri atas 32 unit untuk pengeboman air (water bombing) serta 17 unit untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BNPB bersama TNI dan BMKG turut mengoptimalkan OMC, termasuk menguji penggunaan dry icedalam penyemaian awan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi atmosfer untuk membantu proses pembentukan kristal es pada awan dan meningkatkan peluang terjadinya hujan***




