POJOKSATU.ID- Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Dra. Sumaryati, menjelaskan gas karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer hingga sebulan.
Menurutnya, lamanya gas tersebut bertahan bergantung pada kondisi atmosfer serta proses fotokimia yang dipengaruhi radiasi matahari.
“Karbon monoksida di atmosfer bisa bertahan beberapa hari, beberapa minggu, sampai maksimal sebulan. Tergantung kondisi atmosfernya,” ujar Sumaryati dikutip RRI, Jumat 23 Oktober 2026.
Sumaryati menambahkan, asap kebakaran hutan dan lahan dapat mengurangi radiasi matahari sehingga memperlambat proses penguraian karbon monoksida di atmosfer. Kondisi tersebut membuat polutan berpotensi bertahan lebih lama, sementara penyebarannya sulit dikendalikan setelah dilepaskan ke udara.
“Kalau sudah dilepas di atmosfer, kita tidak bisa lagi mengendalikan bagaimana atmosfer membawa polutan tersebut,” ujarnya.
Ia mengingatkan, konsentrasi karbon monoksida yang tinggi perlu diwaspadai, meskipun tingkat bahayanya tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan visualisasi satelit. Menurutnya, pengamatan satelit mencakup wilayah luas dan mengukur kandungan kolom atmosfer, sedangkan instrumen pemantauan permukaan memiliki titik pengukuran terbatas.
Sumaryati menilai, partikel asap kebakaran hutan dan lahan juga perlu mendapat perhatian karena dapat mengendap dekat permukaan ketika atmosfer stabil. Ia menyarankan masyarakat menggunakan masker untuk membantu menyaring partikel, sembari memahami bahwa masker biasa tidak efektif melindungi dari paparan gas karbon monoksida.
Sebelumnya, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh penampakan karbon monoksida (CO) yang mengepung seluruh wilayah, berdasarkan hasil citra satelit NASA. Citra satelit itu menggambarkan konsentrasi gas CO yang pekat, ditandai warna merah gelap menyelimuti peta Tanah Air.
Mengutip laman Kementerian Kesehatan, CO yang terhirup dapat berikatan dengan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Ikatan tersebut membentuk karboksihemoglobin atau COHb.
Pembentukan COHb menghambat kemampuan darah mengangkut oksigen. Akibatnya, jaringan tubuh dapat mengalami kekurangan oksigen atau hipoksia. Gas ini dapat membawa dampak yang sangat serius karena karbon monoksida dikenal sebagai silent killer atau pembunuh senyap yang dapat meracuni darah manusia tanpa terasa.
Paparan gas karbon monoksida memiliki tingkatan bahaya yang berbeda. Pada konsentrasi rendah, dapat menyebabkan kelelahan dan nyeri dada bagi penderita jantung***




