POJOKSATU.id - Tekanan ekonomi global masih menjadi tantangan bagi Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan fenomena higher for longer.
Higher for longer yaitu suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lama.
Hal tersebut berpotensi merugikan negara berkembang karena dapat mendorong investor memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari ketidakpastian global yang masih tinggi.
Menurut Destry, tekanan geopolitik, kenaikan harga minyak, inflasi, serta pelebaran defisit fiskal di sejumlah negara turut memengaruhi arah kebijakan moneter dunia.
"Karena ketidakpastiannya sampai sekarang kan masih tinggi sekali. Mulai dari faktor geopolitik yang berdampak pada kenaikan harga minyak, inflasi meninggi, dan defisit fiscal yang melebar," kata Destry sebagaimana data yang dilihat pojoksatu dalam program Central Banking CNBC Indonesia pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Salah satu perhatian utama berasal dari Amerika Serikat (AS).
Destry menjelaskan, inflasi di negara tersebut masih berada di atas target, sementara kebutuhan belanja pemerintah yang besar turut memperlebar defisit anggaran.
Ia menyebut target inflasi AS berada di kisaran 2 persen, tetapi angkanya telah melampaui 3 persen.
Sementara itu, inflasi di negara maju lainnya yang menjadi pembanding dalam penjelasannya disebut mencapai 4,6 persen, di atas target sekitar 3 persen.
Di saat bersamaan, defisit fiskal AS disebut mendekati 6 persen.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu menerbitkan lebih banyak obligasi untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Peningkatan pasokan obligasi dapat mendorong kenaikan imbal hasil atau yield.
Ketika imbal hasil obligasi pemerintah meningkat, aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor.
Perkembangan ini turut memperketat kondisi keuangan global dan menambah tekanan terhadap negara-negara berkembang.
Situasi tersebut juga membuat arah kebijakan bank sentral negara maju menjadi perhatian.
Sikap yang lebih ketat atau hawkish dalam merespons inflasi dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.
Dampaknya tidak berhenti di negara maju.
Ketika imbal hasil aset di AS meningkat, investor global memiliki alasan lebih kuat untuk mengalihkan sebagian investasinya dari pasar negara berkembang menuju instrumen yang dinilai lebih aman.
Destry menyebut fenomena itu sebagai capital flight to quality, yakni perpindahan dana menuju aset yang dianggap memiliki risiko lebih rendah.
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi bagian dari kondisi yang mendorong pergerakan tersebut.
"Jadi ada penguatan dolar, ada kenaikan bond yield, tentu ini menyebabkan terjadinya capital flight to quality. Investor asing mencari aset-aset yang sekiranya relatif aman, termasuk dolar AS. Jadi kita mulai melihat banyak capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Itu dampak langsung, yang paling terasa di pasar keuangan kita," jelas Destry.
Bagi Indonesia, arus modal keluar dapat menambah tekanan di pasar keuangan.
Perubahan aliran investasi asing berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan kondisi likuiditas.
Besarnya dampak akan bergantung pada perkembangan ekonomi global serta respons kebijakan di dalam negeri.
Karena itu, fenomena suku bunga tinggi berkepanjangan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.
Perkembangan inflasi, harga energi, imbal hasil obligasi AS, dan keputusan bank sentral negara maju akan terus menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen investor terhadap pasar Indonesia.***






