POJOKSATU.id, JEMBER – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global yang kian memanas, perekonomian di wilayah Sekarkijang (Sub-Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang) justru mencatatkan performa membanggakan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember, Achmad, membeberkan bahwa pertumbuhan ekonomi di lima kabupaten wilayah kerjanya melaju kencang hingga menembus angka 5,86 persen (YoY) pada Triwulan II 2026.
Capaian ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tingkat provinsi Jawa Timur maupun nasional.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Media Briefing dan Gathering di Yogyakarta, Rabu, 23/9/2026.
Achmad menggambarkan kondisi ekonomi dunia saat ini seperti ombak di Pantai Selatan Jawa yang bergemuruh penuh ketidakpastian.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah hingga konflik Rusia-Ukraina menjadi pemicu utama tertahannya laju ekonomi dunia.
Baca Juga: Korban Kebakaran di Kebayoran Lama di Data Petugas Dukcapil untuk Mengurus Dokumen yang Hilang
Achmad mengungkapkan bahwa gejolak di kawasan Selat Hormuz telah mengganggu lalu lintas sekitar 20 persen energi dunia.
Kondisi ini memberikan tekanan tajam bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara net importer minyak bumi.
"Kondisi kita saat ini masih penuh dengan ketidakpastian. Terusan Selat Hormuz yang menjadi jalur lalu lintas energi dunia bermasalah, dan dampak inflasi global mendorong bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga," kata Achmad saat memaparkan materi perekonomian.
Baca Juga: Dosen Ini Sebut Gugatan Denny Indrayana Cs Berpotensi Tidak Diterima Mahkamah Konstitusi
Dampak dari tekanan global tersebut membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diturunkan dari 3,5 persen menjadi 3,0 persen, dengan tingkat inflasi global yang masih berada di atas 4,5 persen.
Meski ekonomi global dibayang-bayangi ketidakpastian, Indonesia patut bersyukur karena ekonomi nasional masih mampu tumbuh di atas 5 persen dengan inflasi yang terjaga.
Kondisi positif ini berbanding lurus di tingkat regional Jawa Timur yang tumbuh 5,78 persen, serta wilayah Sekarkijang yang melejit hingga 5,86 persen.
Achmad menegaskan bahwa torehan manis ekonomi Sekarkijang, yang meliputi Kabupaten Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan Lumajang, didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, akselerasi investasi, serta geliat berbagai event Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
"Wilayah Sekarkijang ekonominya tumbuh sebesar 5,86 persen secara year-on-year. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian nasional maupun Jawa Timur," ujar Achmad.
Baca Juga: Kesaksian Pegawai Kantin KM Virgo Detik Tenggelamnya Kapal, Tak Sampai 15 Menit Langsung Terbalik
Selain pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat inflasi di wilayah Sekarkijang, khususnya Kabupaten Jember dan Banyuwangi, juga berada dalam koridor terukur dan terkendali sesuai target nasional, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi daerah tak lepas dari strategi yang diterapkan oleh KPwBI Jember.
Achmad menjelaskan bahwa Bank Indonesia tidak hanya merumuskan kebijakan di atas kertas, melainkan terjun langsung melakukan pembinaan end-to-end kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta klaster pertanian.
Baca Juga: Mayat ABK Kapal Pembawa 5 Jurnalis Terbawa Arus ke Enggano Bengkulu, Jauh dari Anak Krakatau
Diketahui, strategi penguatan UMKM dilakukan secara terstruktur melalui tiga tahapan utama
Pertama, FGD Sinergi Pengembangan UMKM & Klaster Pangan yang melibatkan 5 Pemerintah Kabupaten di wilayah kerja BI Jember.
Kedua, kurasi UMKM menuju ajang tahunan Sekarkijang Creative Fest 2026.
Baca Juga: Mayat ABK Kapal Pembawa 5 Jurnalis Terbawa Arus ke Enggano Bengkulu, Jauh dari Anak Krakatau
Kemudian yang ketiga, onboarding UMKM untuk menyiapkan pelaku usaha daerah menembus ekosistem digital dan pasar yang lebih luas.
Tak berhenti di situ, program capacity building juga menyasar sektor-sektor strategis daerah, seperti pelatihan klaster pertanian padi dan cabai, pendampingan UMKM hijau, kemandirian ekonomi pesantren di Ponpes Mambaul Ulum Banyuwangi, inkubasi desainer fashion, hingga peningkatan mutu kopi specialty melalui penerapan Good Roasting Practice.
"Kami di Bank Indonesia tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tapi di daerah kami langsung turun ke sawah, turun langsung ke UMKM lewat berbagai program pembinaan kelembagaan, kapasitas SDM, hingga permodalan," tegas Achmad.
BI Jember juga aktif berkolaborasi memajukan ekonomi daerah melalui panggung event strategis, seperti Jember Fashion Carnaval (JFC), Segoro Topeng Kaliwungu di Lumajang, Banyuwangi Ethno Carnaval, hingga peringatan Hari Jadi Kabupaten dan Harlah NU.
Di era serba digital, KPwBI Jember terus memacu ekosistem pembayaran non-tunai.
Hasilnya, Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemda (IETPD) di seluruh wilayah Sekarkijang berada di kriteria Digital.
Baca Juga: Perhutani Pastikan Area Hutan Di Situ Cigangsa Tidak Akan Ditebang
Adapun penggunaan QRIS tumbuh signifikan. Jumlah merchant QRIS di Sekarkijang melonjak lebih dari 28 persen hingga mencatatkan angka lebih dari 640 ribu merchant.
Achmad menyebutkan bahwa transaksi QRIS kini telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pusat perbelanjaan hingga pedagang kaki lima dan kurir layanan harian.
"Di era digital sekarang, transaksi masyarakat kian mudah. Penggunaan QRIS di wilayah Sekarkijang terus meningkat signifikan, bahkan biaya transaksi untuk usaha mikro kita gratiskan agar UMKM makin berdaya," pungkas Achmad.
Baca Juga: The Intern Versi Korea Segera Tayang, Choi Min-sik Jadi Anak Magang di Perusahaan Han So-hee
Melalui sinergi kuat antara Bank Indonesia, OJK, LPS, pemerintah daerah, dan masyarakat, perekonomian Sekarkijang optimis terus melaju positif dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas. ***



