JEMBER, POJOKSATU.id - Dibalik dinding anyaman bambu yang berdiri sederhana, ternyata tersimpan kisah pilu seorang ibu rumah tangga di Jember yang harus berjuang seorang diri demi menghidupi ketiga buah hatinya.

Kehidupan keras yang ia jalani mendadak menjadi sorotan publik setelah ia terpaksa mengambil tiga karung beras semata-mata untuk mengisi perut anak-anaknya yang kelaparan.

Saat dikunjungi langsung oleh Anggota DPRD Jember, David Handoko Seto, di kediamannya, Senin (2/11/2026) terungkap bagaimana kondisi asli Ibu tersebut.

Untuk menyambung hidup di tengah himpitan ekonomi yang menghimpit, ia hanya bisa mengandalkan pekerjaan serabutan di sekitar lingkungannya.

Ia mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap sejak kontrak kerjanya berakhir.

"Saya kerja di tembakau, di sini, tapi bukan gudang," ujarnya saat menceritakan aktivitas sehari-harinya.

Selama lima bulan terakhir, ia mencoba bertahan dengan menitipkan aneka jajanan rumahan, mulai dari jenang mutiara, aneka gorengan, hingga nasi bungkus ke warung-warung terdekat.

Namun, hasil dari jerih payahnya tak seberapa; jika seluruh dagangannya habis, ia hanya bisa membawa pulang uang sekitar Rp50 ribu, bahkan kerap kali kurang dari itu.

"Sudah lima bulan tidak bekerja, karena tembakau tidak musim, kami mencari makan serabutan, hingga kami melakukan tindakan itu (mencuri beras), kami menyesal telah melakukan itu, dan kami mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi," ungkap Sunani saat ditemui di kediamannya.

Keterbatasan ekonomi membuat hari-hari yang dilewatinya jadi makin berat, terutama ketika persediaan makanan di rumahnya habis.

Puncak dari segala keputusasaan itu terjadi pada 25 Oktober 2026 silam.

Dikarenakan rasa lapar dan desakan kebutuhan pangan anak-anaknya, ia nekat mengambil tiga karung beras di sebuah toko kawasan Perumahan Bumi Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.

Aksi nekat tersebut sempat terekam kamera pengawas (CCTV) toko, hingga kemudian polisi berhasil menelusuri jejaknya sampai ke rumahnya di Desa Wirowongso.

Kendati demikian, perkara hukum tersebut akhirnya berhasil diselesaikan melalui jalur restorative justice.

Pemilik toko berbesar hati memaafkan perbuatan Sunani sehingga proses hukum tidak dilanjutkan ke peradilan umum.

Sunani sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa penyesalannya dan menyampaikan penyesalan mendalam

Ia mengakui kekhilafannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa di masa mendatang.

“Saya tidak akan mengulangi lagi, ini karena terpaksa,” ucap Sunani.

Kendati demikian, di hadapan aparat dan warga yang mendatanginya, ia tidak dapat menyangkal perbuatannya dan menyampaikan penyesalan mendalam.

Mendapati kenyataan pahit dan melihat langsung kondisi tempat tinggal ibu tersebut yang jauh dari kata layak, Ketua Fraksi NasDem DPRD Jember, David Handoko Seto, menyampaikan respons mendalam.

Ia menilai apa yang menimpa warga kecil tersebut bukan sekadar persoalan hukum, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang menyangkut urusan perut.

"Kami melihat, apa yang dilakukan oleh Ibu Sunani, adalah bencana kemanusiaan, ini semata-mata urusan perut, untuk tindak pidananya kami sepakat tidak mendukung, tapi kalau urusan perut, ini yang harus difikirkan," tegas David usai melihat langsung kondisi di dalam rumah sederhana tersebut.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral wakil rakyat, David memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) untuk mempercepat pengurusan adminduk Sunani agar bisa mengakses berbagai bantuan sosial pemerintah.

Selain itu, ia juga berkomitmen memfasilitasi anak bungsu Sunani agar bisa kembali mengenyam pendidikan melalui program Sekolah Rakyat, serta mencarikan peluang pekerjaan tetap bagi Sunani di sektor perkebunan lokal.