JEMBER, POJOKSATU.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menggelar malam puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 melalui lantunan Dzikir dan Salawat di Alun-Alun Jember, Kamis (22/10/2026) malam.

Acara penuh khidmat tersebut menjadi pamungkas dari seluruh rangkaian peringatan HSN yang telah bergulir sejak 10 Oktober lalu.

Di hadapan ribuan jamaah yang memadati alun-alun, Bupati Jember, Gus Fawait, menegaskan komitmennya sebagai kepala daerah berlatar belakang santri yang siap menyetarakan hak seluruh elemen masyarakat.

Gus Fawait menekankan bahwa kalangan pesantren memiliki rekam jejak perjuangan yang sangat kuat dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

"Santri itu punya saham besar atas kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Gus Fawait di atas panggung HSN 2026, Kamis (22/10/2026) malam.

"Oleh sebab itu, menjadi kewajiban bagi Pemkab Jember untuk memastikan santri mendapatkan porsi perhatian dan keadilan yang sama dengan elemen masyarakat lain," tegasnya.

Sebagai wujud kepedulian konkrit, Gus Fawait memaparkan berbagai pijakan kebijakan strategis yang telah direalisasikan selama memimpin Kabupaten Jember.

Salah satu langkah terobosan yakni peningkatan alokasi anggaran beasiswa daerah periode 2025-2029 yang secara khusus memasukkan kategori penerima bagi para santri.

Tak hanya itu, Pemkab Jember juga rutin menyalurkan insentif terhormat serta proteksi BPJS Ketenagakerjaan bagi guru ngaji Muslim maupun non-Muslim dan marbot masjid.

Mulai tahun 2026, apresiasi tersebut diperluas dengan memberikan insentif khusus bagi para ketua kelompok pengajian yang aktif membina keagamaan warga.

Di sektor sosial dan kesehatan, Pemkab Jember bahkan mengalihkan anggaran operasional kendaraan dinas pejabat untuk membiayai program kesehatan rakyat.

Masyarakat pemilik KTP Jember kini dapat menikmati layanan berobat gratis di berbagai fasilitas kesehatan, lengkap dengan fasilitas armada 'Mobil Cinta' untuk mengantar pasien kurang mampu kelas 3 pulang dari rumah sakit daerah.

Gus Fawait menyampaikan bahwa deretan capaian program tersebut dibeberkan bukan untuk kesombongan, melainkan sebagai wujud rasa syukur sekaligus bukti nyata kapasitas lulusan pesantren dalam mengelola pemerintahan.

Keberhasilan berbagai program kerakyatan ini membuktikan bahwa santri memiliki daya saing tinggi dan mumpuni dalam memegang pimpinan birokrasi.

"Santri disuruh mengaji bisa, ceramah mampu, dan memimpin daerah pun sanggup," tegas Gus Fawait membakar semangat ribuan jamaah.

"Jangan pernah ragu atau minder menjadi bagian dari santri," pungkasnya.