JAKARTA, POJOKSATU.id-- Pemerintah Pusat melalui Menko PMK mencairkan dana Rp1,235 triliun bagi tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dari tujuh provinsi terdampak karhutla di Pulau Kalimantan dan Sumatera, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tidak termasuk padahal sudah sempat meliburkan anak sekolah.

Selain itu, hingga Jumat (23/10/2026), kondisi kabut asap terpantau masih pekat di beberapa wilayah di Sumut, salah satunya Mandailing Natal.

Menko PMK Sugiono mengatakan, tujuh provinsi penerima bantuan tersebut meliputi Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Riau.

Selain pemerintah provinsi, bantuan juga diberikan kepada 35 pemerintah kabupaten/kota yang terdampak karhutla di wilayah tersebut.

Dikatakan Sugiono, bantuan telah disalurkan dalam dua tahap, yakni pada 7 September 2026 dan 22 Oktober 2026, sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.

“Hari ini bantuan pemerintah pusat tahap kedua tersebut sudah ditransfer. Total bantuan pemerintah pusat adalah sebesar Rp1,235 triliun,” kata Sugiono dalam keterangannya, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.

Sugiono menjelaskan, Presiden Prabowo terus memantau secara langsung perkembangan penanganan karhutla setiap hari.

Presiden meminta agar bantuan anggaran diprioritaskan untuk melindungi masyarakat terdampak, termasuk melalui pelayanan kesehatan, penyediaan rumah oksigen, serta penanganan warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Prioritas berikutnya tentu saja untuk upaya-upaya pemadaman, kemudian upaya-upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan, penambahan sarana seperti alat perlengkapan diri atau alat pelindung diri, kemudian pompa air, tangki air, selang pemadaman,” jelasnya.

“Kemudian, alat suntik air untuk lahan gambut, pembuatan sumur bor, dan juga operasional dan mobilisasi personil, dalam rangka pemadaman karhutla,” ucap dia.

Selain kebutuhan pemadaman, bantuan juga dialokasikan untuk mendukung logistik personel yang bertugas di lapangan.

Sugiono menyebut sekitar 71 ribu personel saat ini dikerahkan untuk menangani karhutla melalui operasi darat dan udara.

“Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan tanggap darurat karhutla, kemudian membantu masyarakat yang terdampak semaksimal mungkin, dan juga merupakan wujud dari upaya keras pemerintah dalam rangka menangani kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Madina Masih Kabut Asap

Sementara itu kondisi di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sumut hingga Jumat (23/10/2026) masih diselimuti kabut asap pekat.

Menurut keterangan Kepala BPBD Madina Mukhsin Nasution, Kamis (22/10), kabut asap ini berasal dari daerah lain.

“Kita tidak bisa memastikan dari provinsi mana, karena ini kan arah angin. Yang jelas di beberapa provinsi terjadi karhutla, termasuk Sumsel, Jambi. Kemudian Kalimantan. Kemudian Pulau Jawa,” katanya.

“Kenapa asap sampai ke Mandailing Natal karena arah angin masih didominasi dari Timur, Tenggara, menuju ke Barat Laut dan Utara,” ujarnya.

“Mungkin bisa dari Sumsel, karena arah angin dari Timur dan Tenggara. Mungkin saja dari Sumatera Selatan,” jelasnya.

Menurutnya, siswa TK, SD, SMP di Madina tidak libur sekolah dan tetap masuk seperti biasa.

“Sesuai hasil rapat Forkopimda kemarin, sekolah tetap (masuk), kita akan membagikan masker kepada anak sekolah,” jelasnya.

“Kalau keterangan BMKG, kategori di Sumatera Utara masih sedang. Sebaran asap di Sumatera Utara, kategorinya masih sedang,” ujarnya lagi.***