JEMBER, POJOKSATU.id - Kabupaten Jember mencatatkan sejarah baru dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Jember pada Maret 2026 mengalami penurunan drastis sebanyak 15,98 ribu jiwa.
Angka tersebut menempatkan Jember sebagai daerah dengan penurunan jumlah penduduk miskin terbesar di antara 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Jika pada Maret 2025 total warga prasejahtera di Jember masih menyentuh 216,76 ribu jiwa, setahun berselang angka tersebut sukses ditekan menjadi 200,77 ribu jiwa.
Capaian luar biasa ini membuat Jember berhasil keluar dari jajaran dua besar wilayah dengan tingkat kemiskinan absolut tertinggi di Jawa Timur.
Peringkat jumlah penduduk miskin terbanyak yang sebelumnya diduduki Jember di urutan kedua kini bergeser ke peringkat ketiga di bawah Kabupaten Malang dan Kabupaten Sampang.
Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait), mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian positif tersebut.
"Alhamdulillah, Jember hari ini sudah on the track," ujar Gus Fawait, Rabu (21/10/2026).
Ia menegaskan bahwa selama bertahun-tahun Jember selalu berada di posisi kedua secara absolut dalam hal tingkat kemiskinan di tingkat provinsi, namun kerja keras lintas sektor kini membuahkan hasil nyata.
"Selama bertahun-tahun kemiskinan kita selalu nomor dua secara absolut di Jawa Timur, dalam sejarahnya hari ini kita sudah on the track ada perbaikan, kita tidak nomor dua lagi, tapi sudah nomor tiga dengan adanya penurunan kemiskinan yang cukup signifikan di Kabupaten Jember," lanjut Gus Fawait.
Dari sisi proporsi, tingkat kemiskinan Jember menyentuh angka 8,00 persen pada Maret 2026, yang merupakan rekor terendah dalam kurun waktu satu dekade terakhir.
Persentase tersebut bahkan berhasil melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 yang dipatok pada angka 8,36 persen.
Posisi Jember kini berada di bawah rata-rata tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Timur yang tercatat sebesar 9,06 persen serta sedikit lebih baik dibanding angka nasional di level 8,07 persen.
Karakteristik kemiskinan di Jember juga menunjukkan tren kualitas yang lebih positif, tercermin dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di angka 0,71 dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) sebesar 0,10 yang jauh di bawah rata-rata regional maupun nasional.
Dalam lingkup regional kawasan Sekar Kijang, Jember keluar sebagai yang tercepat dalam menekan angka kemiskinan dengan menyumbang separuh dari total penurunan regional seluas lima wilayah.
Gus Fawait menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen, baik pemerintah maupun pihak swasta di Jember.
Pertumbuhan ekonomi daerah didorong oleh peningkatan signifikan dalam pengeluaran pemerintah serta tren investasi yang positif sepanjang tahun 2025 hingga 2026.
Sejumlah program prioritas terbukti ampuh menekan angka kemiskinan secara efektif, di antaranya pengobatan gratis Universal Health Coverage (UHC), layanan Homecare, fasilitas pengantaran pasien pulang menggunakan Mobil Cinta, hingga alokasi beasiswa bagi sekitar 11 ribu mahasiswa.
"Berbagai intervensi pasar murah, program Bunga Desaku yang menyediakan paket sembako, serta penyaluran bantuan pangan terbukti efektif menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan laju inflasi," imbuh Gus Fawait.
Meski telah menunjukkan progres luar biasa, Pemkab Jember berkomitmen untuk terus melangkah maju dengan menargetkan angka kemiskinan merosot hingga di bawah 200.000 jiwa pada tahun-tahun mendatang.
Langkah ini diambil sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto bahwa filosofi berbangsa dan bernegara adalah kesejahteraan yang ditandai dengan pengentasan kemiskinan.








