POJOKSATU.id - Indonesia memiliki sekitar 29.000 jurnal ilmiah yang menjadi wadah publikasi artikel dan hasil penelitian akademisi. Namun, jumlah jurnal yang memiliki kualitas tertinggi berdasarkan akreditasi nasional ternyata masih sangat terbatas.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Ahmad Najib Burhani, mengungkapkan dari total tersebut, sekitar 16.000 jurnal sudah terakreditasi.
Namun, jurnal yang berhasil mencapai peringkat SINTA 1 hanya sekitar 200-an.
"Kita itu sebetulnya memiliki 29.000 jurnal di Indonesia. 16.000 di antaranya itu sudah terakreditasi. Tetapi yang memiliki akreditasi misalnya SINTA 1, itu hanya sekitar 200-an," ungkap Ahmad Najib Burhani dalam jumpa pers di Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam memperkuat ekosistem publikasi ilmiah nasional.
Untuk itu, Kemdiktisaintek akan menggelar Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI) untuk pertama kalinya pada 9 November 2026.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Universitas Ciputra Surabaya dengan melibatkan komunitas akademik, pengelola jurnal, perpustakaan, hingga penerbit jurnal internasional.
70 Persen Jurnal Terakreditasi Masuk SINTA 4, 5, dan 6
Najib menjelaskan, banyaknya jurnal ilmiah di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan kualitas publikasi yang merata.
Dari sekitar 16.000 jurnal yang sudah terakreditasi, sekitar 70 persen masih berada pada kategori SINTA 4, SINTA 5, dan SINTA 6.
Sementara itu, jurnal dengan peringkat SINTA 1 hanya sekitar 1,5 persen dari total jurnal terakreditasi.
"Jadi meskipun kita memiliki banyak jurnal, sebetulnya dari segi kualitas itu mungkin yang berdasarkan kategori SINTA itu yang SINTA 1 itu hanya 1,5 persen dari total 16.000 jurnal yang kita miliki," sambung Ahmad Najib.
Menurutnya, KTJI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas publikasi, tetapi juga memperkuat integritas dan kredibilitas akademik di Indonesia.
Sebab, masih terdapat berbagai persoalan dalam ekosistem jurnal ilmiah, mulai dari praktik jurnal predator, jurnal bodong, hingga publikasi karya yang tidak berintegritas.
"Ada banyak persoalan tentu saja yang terkait dengan predatory, yang terkait dengan jurnal bodong, yang terkait dengan karya-karya yang tidak berintegritas dan sebagainya, nah kita mencoba untuk membangun ekosistem yang baik dalam kaitannya dengan produksi pengetahuan yang ada di Indonesia," jelasnya.
KTJI 2026 Bahas Akreditasi dan Tata Kelola Jurnal
Dalam pelaksanaannya, KTJI 2026 akan memperkenalkan berbagai aspek penting dalam pengelolaan publikasi ilmiah.
Materi yang dibahas meliputi proses akreditasi jurnal, peraturan menteri tentang akreditasi jurnal, keputusan direktur jenderal terkait proses akreditasi, hingga standar pengelolaan jurnal yang baik secara nasional.
Najib mengatakan kegiatan ini lebih banyak berfokus pada penguatan produksi pengetahuan dan komunitas akademik.
"Intinya sebetulnya kegiatan kita itu lebih banyak berkaitan dengan produksi pengetahuan, berkaitan dengan komunitas akademik seperti perpustakaan, kemudian pengelola jurnal yang ada di kampus," jelas Najib.
Antusiasme terhadap kegiatan tersebut juga terlihat dari jumlah pendaftar.
Data sementara, tercatat sebanyak 879 orang mendaftar untuk mengikuti kegiatan secara langsung atau offline.
Selain itu, sekitar 1.000 peserta lainnya dijadwalkan mengikuti KTJI secara daring.
Ada SINTA Award untuk 9 Jurnal Terbaik
Agenda KTJI 2026 juga akan diisi dengan pemberian SINTA Award kepada sembilan jurnal ilmiah terbaik di Indonesia.
Penghargaan tersebut diberikan dalam tiga kelompok disiplin ilmu, yakni:
STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Sosial Humaniora (Soshum).
Multidisiplin.
Sembilan jurnal penerima penghargaan diharapkan menjadi tolok ukur atau benchmark bagi pengelola jurnal lainnya.
Pemerintah juga berharap jurnal-jurnal tersebut dapat meningkatkan kualitas hingga mampu menembus publikasi internasional.
Salah satu upaya yang didorong adalah membangun kolaborasi dengan penerbit jurnal bereputasi dunia, seperti Elsevier serta Taylor & Francis.
"Nah sembilan jurnal itu yang diantaranya kita harapkan akan menjadi benchmark daripada jurnal-jurnal lain yang ada di Indonesia dan kita harapkan menjadi bagian daripada pola untuk kemudian di-upgrade menjadi internasional, yang berkolaborasi dengan misalnya penerbit yang sudah establis di dunia, semisal Elsevier, Taylor & Francis," ujar Ahmad Najib.
Hadirkan Penerbit Jurnal Internasional
KTJI 2026 juga akan menghadirkan sejumlah perwakilan penerbit jurnal internasional dalam sesi diskusi paralel.
Beberapa penerbit yang dijadwalkan terlibat di antaranya:
Elsevier
Taylor & Francis
SAGE Publications
iGroup Asia Pacific
Emerald
Wiley
Springer
Masing-masing penerbit akan membahas tema berbeda seputar tata kelola, integritas, teknologi penerbitan, serta peningkatan reputasi jurnal ilmiah di era kecerdasan buatan (AI).
Najib membeberkan, Elsevier akan membahas peran editor di tengah perkembangan teknologi digital.
Sementara itu, Taylor & Francis mengangkat tema building trust, impact, and global visibility in the age of AI.
iGroup Asia Pacific akan membahas perjalanan riset menuju dampak global, termasuk kepercayaan, visibilitas, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Adapun SAGE Publications akan mengulas teknologi penerbitan serta penguatan tata kelola, integritas, akses, dan praktik publikasi di era AI.
Emerald juga membawa tema khusus mengenai peningkatan reputasi jurnal Indonesia di tingkat internasional.
"From SINTA to global impact, how Indonesian journals can increase visibility, citations, and international recognition without compromising research integrity," lanjut Najib.
Melalui KTJI 2026, pemerintah berharap pengelola jurnal di Indonesia tidak hanya mengejar peningkatan peringkat akreditasi, tetapi juga membangun publikasi ilmiah yang berkualitas, berintegritas, dan diakui secara internasional.
Sebab, kemajuan dunia akademik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya penelitian yang dihasilkan, tetapi juga oleh seberapa kuat kepercayaan publik terhadap pengetahuan yang dipublikasikan. ***






