POJOKSATU.id - Strategi pendanaan perguruan tinggi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Sebagian kampus masih bergantung pada Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebagai sumber pendapatan utama, dengan kontribusi mencapai 50 hingga 70 persen.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah universitas luar negeri yang telah mengembangkan sumber pendanaan alternatif melalui aktivitas riset, hibah penelitian, kerja sama industri, hingga komersialisasi hasil penelitian.
Salah satu contohnya University of Oxford di Inggris. Universitas yang pernah menjadi tempat mengajar Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, itu hanya mengandalkan biaya kuliah mahasiswa sekitar 3 persen dari total pendapatannya.
Fauzan mengungkapkan perbandingan tersebut dalam acara Strategic Platform for Action, Research, and Collaboration (SPARC) 2026 di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta Timur, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, perguruan tinggi Indonesia yang tergolong bagus mungkin sudah bisa menekan kontribusi UKT hingga sekitar 30 persen.
Namun, tidak sedikit kampus yang masih memiliki ketergantungan lebih tinggi.
"Ketergantungan mereka terhadap UKT, kalau di Indonesia, kita kampus yang bagus saja bisa mungkin 30% gitu ya, sudah bagus begitu, mungkin banyak di 50, ada yang di 70%.
Kalau Oxford University itu di 3%. Jadi UKT itu kontribusinya sudah sangat kecil. Tapi (strategi pendidikan) tidak begitu bisa dicontoh," kata Fauzan.
Pendapatan Riset Oxford University Capai Rp18 Triliun
Lantas, dari mana Oxford University mendapatkan sebagian besar pendapatannya jika bukan dari biaya kuliah mahasiswa?
Fauzan menjelaskan, aktivitas riset menjadi salah satu sumber pendapatan utama universitas tersebut.
Berdasarkan laporan tahun 2025, pendapatan Oxford University dari sektor riset mencapai sekitar 800 juta pound sterling atau setara Rp18 triliun.
Pendapatan tersebut berasal dari berbagai sumber, antara lain hibah penelitian, grants, kerja sama dengan industri, serta komersialisasi dan lisensi hasil riset.
Besarnya pendapatan tersebut bahkan melampaui total anggaran riset tahunan Indonesia yang dikelola Kemdiktisaintek bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Fauzan menyebut, gabungan anggaran riset kedua lembaga pemerintah tersebut berada di kisaran Rp10 triliun per tahun.
Artinya, pendapatan riset satu universitas di Inggris itu mencapai sekitar dua kali lipat anggaran riset gabungan dua lembaga tersebut di Indonesia.
"Sekarang anggaran riset kita ditambah dengan di Kemdiktisaintek dengan di BRIN itu kurang lebih di sekitar Rp10 triliun.
Jadi anggaran riset kita satu tahun satu negara itu kurang lebih setengahnya pendapatan riset satu kampus. Artinya memang kita jauh, kita tahu kita jauh," bebernya.
Perbandingan tersebut menggambarkan besarnya potensi pendanaan yang dapat dikembangkan perguruan tinggi melalui riset.
Kampus tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga dapat menghasilkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan dibutuhkan industri.
Berusia Ratusan Tahun, Oxford Tetap Mampu Beradaptasi
Selain strategi pendanaan, Fauzan juga menyoroti kemampuan Oxford University dalam menghadapi perubahan zaman.
Universitas yang memiliki sejarah sekitar 800 hingga 900 tahun tersebut dinilainya tetap mampu mengembangkan sistem pengelolaan organisasi yang dinamis.
Menurut Fauzan, usia institusi yang sudah mencapai ratusan tahun tidak membuat Oxford tertinggal dalam menghadapi perkembangan teknologi maupun disrupsi global.
Sebaliknya, tata kelola organisasinya justru mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang berlangsung cepat.
"Tetapi kalau Bapak dan Ibu sekalian masuk ke sistemnya, itu sangat agile dan saya juga boleh dibilang kaget. Bagaimana mereka sangat tumbuh secara organisasi, kompatibel dengan disrupsi yang terjadi di dunia yang begitu cepatnya," ujar Fauzan.
Pengalaman Oxford tersebut menjadi gambaran bahwa penguatan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan pembiayaan pendidikan dari mahasiswa.
Diversifikasi sumber pendapatan, pengembangan riset berkualitas, kerja sama dengan industri, serta kemampuan mengomersialkan hasil penelitian menjadi bagian penting dalam membangun perguruan tinggi yang mandiri dan berdaya saing. ***






