POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan bahwa prestasi perguruan tinggi dalam pemeringkatan global harus sejalan dengan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kampus tidak cukup hanya mengejar posisi tinggi dalam pemeringkatan internasional melalui jumlah penelitian, sitasi, maupun reputasi akademik.

Lebih dari itu, keunggulan perguruan tinggi harus mampu diterjemahkan menjadi solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan pendidikan tinggi harus menjadi katalis utama dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka konferensi internasional QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 bertajuk Advancing Education for Purpose and Impact di Bali International Convention Centre, Bali, Selasa (3/11/2026).

Dalam kesempatan tersebut, BINUS University dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum diskusi pendidikan tinggi tersebut.

Badri menilai pemeringkatan universitas tetap menjadi indikator penting untuk mengukur kapasitas dan daya saing perguruan tinggi di tingkat global. Namun, capaian tersebut harus memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar prestise.

"Selama bertahun-tahun, sebagian orang merasa konsep keduanya berbeda, atau punya tujuan bertabrakan. Pemeringkatan universitas tradisional selama ini didorong metrik internal, jumlah riset, jumlah sitasi, dan reputasi kampus di lingkungan akademik.

Benchmark itu tetap indikator penting untuk persaingan global, tapi harus kita tanyakan pada diri sendiri, apa tujuan prestise ini?" ucapnya.

Peringkat Tinggi Kampus Harus Berdampak bagi Masyarakat

Menurut Badri, posisi tinggi dalam pemeringkatan internasional mencerminkan kapasitas sebuah perguruan tinggi. Namun, nilai sesungguhnya dari capaian tersebut harus dilihat dari kemampuan kampus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Dengan kata lain, prestise global yang diperoleh perguruan tinggi harus menjadi pendorong untuk menghasilkan perubahan positif di masyarakat.

"Prestise global yang ditangkap metrik itu harus jadi mesin pendorong untuk berdampak di lingkungan masyarakat. Ketika universitas meningkat di taraf global, maka ada tanggung jawab agar dunia di sekitarnya juga meningkat," ucapnya.

Badri juga menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan tinggi. Memajukan pendidikan untuk suatu tujuan berarti mengubah pola pembelajaran yang kaku menjadi pembelajaran intensional dan pendidikan yang visioner.

Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kompetensi teknis. Mereka juga perlu memahami alasan dan tujuan di balik kegiatan inovasi maupun penelitian yang dilakukan.

Selain itu, perguruan tinggi perlu menanamkan nilai kebermanfaatan, pemikiran kritis, tanggung jawab etis, dan empati kepada mahasiswa.

Dengan bekal tersebut, hasil penelitian dan inovasi kampus diharapkan tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok marginal.

Penelitian Kampus Harus Menjawab Persoalan Nyata

Badri memberikan contoh bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

Penelitian di bidang pertanian, misalnya, dapat membantu petani lokal menghadapi dampak perubahan iklim.

Begitu pula pengembangan teknologi energi bersih oleh mahasiswa teknik yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan akses listrik di permukiman pelosok.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya publikasi ilmiah atau tingginya posisi dalam pemeringkatan global.

Lebih jauh, kampus harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil, membantu mengentaskan kemiskinan, serta berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

"Dampak diukur dari seberapa efektif perguruan tinggi mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil, mengentaskan kemiskinan, dan menjaga planet kita yang rentan.

Pemeringkatan memberi kita kredibilitas untuk memimpinnya, dan dampak adalah bukti bahwa kita sudah memimpin dengan baik," pungkasnya. ***