JAKARTA, POJOKSATU.id - Pusat Bahasa Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan (Kemhan) menutup rangkaian pelatihan bahasa isyarat.

Penutupan ini bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026.

Pelatihan ini bertujuan memperluas akses pelayanan internal dan publik yang inklusif.

Khususnya, program ini menyasar lingkungan kesehatan dan satuan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan media komunikasi.

Materi pelatihan dibawakan oleh narasumber dari Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tunarungu Indonesia atau PERTRI.

Peserta mempelajari Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) serta Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).

SIBI bertujuan untuk dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar namun BISINDO merupakan Bahasa isyarat yang berkembang secara alami terutama dalam komunitas masyarakat tunarungu.

Sehingga SIBI dalam pendekatan pendidikan sedangkan BISINDO pendekatan komunikasi sosial.

Kepala Pusat Bahasa BPSDM Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Heru Prayitno, menyatakan pelatihan ini diprioritaskan bagi satuan penerangan dan rumah sakit.

Unit tersebut dinilai paling sering berinteraksi langsung dengan penyandang disabilitas.

"Yang semula kami memberikan pendidikan delapan bahasa asing ditambah bahasa Indonesia, setelah adanya validasi organisasi dan adanya pilot project yang tahun lalu, sehingga fungsi kami bertambah satu," ujar Brigjen TNI Heru Prayitno.

"Selain delapan bahasa asing dan bahasa Indonesia, ditambah lagi dengan bahasa isyarat. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan pelatihan bahasa yang ada di Pusbahasa ini termasuk bahasa isyarat."

Selain teori di kelas, peserta juga terjun langsung ke lapangan untuk mengaplikasikan pengetahun atau ketrampilan yang dimiliki.

Mereka melakukan kunjungan edukatif ke SLB Santi Rama dan sejumlah tempat kerja yang memiliki pegawai disabilitas tunarungu.

Salah seorang peserta mengaku sangat terbantu dan semakin memahami arti kesetaraan dalam berkomunkasi dengan adanya program ini.

Praktik langsung di lapangan membantunya memahami pentingnya kesetaraan dalam berkomunikasi dengan teman tuli dan teman dengar.

Melalui pelatihan ini, personel TNI dan pegawai ASN Kemhan diharapkan semakin siap memberikan pelayanan inklusif.

Pelayanan tersebut diharapkan dapat menjangkau dan bermanfaat di berbagai wilayah Indonesia nantinya. ***