POJOKSATU.ID- Yayasan Mangrove Reserve Formation (MRF) resmi menggandeng kalangan mahasiswa dan organisasi masyarakat di Kota Langsa untuk menggalakkan aksi pemulihan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove di kawasan pesisir Aceh.

Langkah kolaboratif ini dirancang guna memadukan riset akademis dan aksi berbasis komunitas dalam menjaga benteng alam wilayah pesisir.

Pendiri MRF, Muhammad Rayyan Fallsa dan Allya Takeisha Fallsa, memimpin langsung konsolidasi awal bersama jajaran pengurus yayasan. Melalui forum ini, MRF membuka keran kemitraan strategis di bidang pendidikan, penelitian ekologi, hingga gerakan konservasi berkelanjutan.

Sinergi Kampus: Dorong Inovasi dan Penelitian Lingkungan

MRF mengawali rangkaian programnya lewat pertemuan perdana bersama mahasiswa Universitas Samudra di Mr. Kofie, Alur Dua, Kota Langsa. Kegiatan yang didukung penuh oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) setempat ini berfokus pada pemaparan visi-misi perlindungan pesisir serta urgensi keberadaan ekosistem mangrove.

"Mangrove bukan sekadar benteng fisik dari ancaman abrasi pantai, melainkan juga penyerap karbon efektif, ruang hidup satwa liar, dan fondasi perekonomian warga pesisir," ujar perwakilan pengurus MRF dalam sesi diskusi.

Melalui forum ini, MRF memfasilitasi peran aktif mahasiswa dalam bentuk riset ilmiah, program edukasi publik, kampanye kesadaran lingkungan, hingga keterlibatan langsung dalam aksi restorasi lahan mangrove.

Selain Universitas Samudra, diskusi interaktif turut digelar bersama mahasiswa IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa. Pertemuan tersebut dimanfaatkan sebagai wadah pemetaan tantangan sosial-ekologi setempat. Mahasiswa secara aktif menyalurkan berbagai aspirasi dan solusi kritis, yang diserap MRF sebagai bahan acuan pengembangan program konservasi berbasis kebutuhan riil masyarakat lokal.

Aksi Akar Rumput: Koperasi Bina Meupakat Alihkan Fokus ke Konservasi

Gerakan pelestarian mangrove ini mendapat dorongan signifikan dari sektor kemasyarakatan. Salah satu bentuk dukungan konkrit ditunjukkan oleh Koperasi Bina Meupakat.

Dalam Rapat Tahunan Koperasi yang diselenggarakan pada Minggu (25/10), Koperasi Bina Meupakat secara resmi menyepakati perubahan haluan kegiatan usaha. Koperasi yang sebelumnya bergerak di sektor pemanfaatan hasil kayu kini beralih penuh mendukung perlindungan dan pelestarian ekosistem mangrove pesisir.

Langkah berani ini merupakan wujud nyata komitmen yang telah dirintis sejak tiga tahun lalu saat koperasi memegang izin pemanfaatan kayu. Dengan transisi ini, Koperasi Bina Meupakat memilih mengedepankan prinsip keberlanjutan ekologis demi menjamin penghidupan masyarakat pesisir jangka panjang.

Inisiatif terpadu yang mempertemukan lembaga konservasi, akademisi muda, serta pegiat ekonomi lokal ini diharapkan mampu menjadi model restorasi lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan bagi kawasan pesisir Aceh.***