JAKARTA, POJOKSATU.ID- Harapan terhadap membaiknya sentimen pasar sempat membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (3/11) dengan perkasa.
Namun, euforia pembukaan tak bertahan lama setelah indeks saham domestik berbalik arah ke zona merah pada awal sesi.
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.14 WIB, IHSG terkoreksi 8,78 poin atau 0,17 persen ke level 5.088,05. Padahal, saat bel pembukaan dibunyikan, indeks sempat melesat 29,70 poin atau 0,58 persen hingga menyentuh posisi 5.126,53.
Tekanan tidak hanya melanda indeks acuan utama, tetapi juga menjalar ke sejumlah indeks tematik dan sektoral:
LQ45: Turun 0,05% ke level 517,64
IDX30: Terkoreksi 0,12% ke posisi 290,88
Jakarta Islamic Index (JII): Melemah 0,10% ke 292,67
Kompas100: Terpangkas 0,05% ke 656,74
Indonesia Sharia Stock Index (ISSI): Merosot 0,32% ke 169,72
Aktivitas transaksi pada awal sesi mencatatkan volume sebanyak 3,59 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp129 miliar. Peta pergerakan saham memperlihatkan kondisi yang relatif seimbang namun cenderung tertekan, di mana 267 saham menguat, 285 saham melemah, dan 411 saham bergerak stagnan.
Dibayangi Pemilu Sela AS dan Wait and See KSSK
Dinamika pergerakan pasar saham hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari mancanegara, melorotnya harga minyak mentah dunia sejatinya menjadi angin segar yang diharapkan mampu menopang pergerakan rupiah dan pasar saham. Namun, sikap waspada investor meningkat seiring berlangsungnya pemilu sela (midterm election) di Amerika Serikat yang berpotensi memicu volatilitas global.
Sementara dari dalam negeri, para pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see mencermati hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta rilis data inflasi nasional terbaru.
Kedua poin ini menjadi fokus utama investor untuk mengukur ketahanan pasar keuangan domestik di tengah berbagai tekanan global***



