JAKARTA, POJOKSATU.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (2/10/2026).

Sejumlah agenda ekonomi domestik dan global menjadi faktor yang akan menentukan arah pergerakan mata uang Garuda sepanjang pekan ini.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.220 per dolar AS.

Menurut Yusuf, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), terutama angka inflasi Oktober 2026 dan neraca perdagangan September 2026.

Kedua indikator tersebut dinilai penting untuk membaca kondisi fundamental ekonomi Indonesia sekaligus menentukan prospek pergerakan rupiah.

Sebagai gambaran, inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY). Angka ini lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 3,19 persen.

Sementara secara bulanan, inflasi September berada di level 0,30 persen, meningkat dari 0,21 persen pada bulan sebelumnya.

Dari sektor perdagangan, Indonesia membukukan surplus sebesar 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026. Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan surplus Juli 2026 yang hanya mencapai 0,13 miliar dolar AS.

Surplus tersebut ditopang nilai ekspor sebesar 26,61 miliar dolar AS atau tumbuh 6,72 persen secara tahunan.

Meski demikian, Yusuf memperkirakan surplus perdagangan berpotensi menyusut sehingga belum cukup kuat untuk menjadi pendorong penguatan rupiah.

"Untuk Senin, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.100 sampai Rp18.220 per dolar AS," kata Yusuf dikutip Senin (2/11/2026).

Ia menyebutkan, level Rp18.100 dan Rp18.080 menjadi area penopang terdekat rupiah.

Sementara itu, tekanan berpotensi meningkat ketika rupiah bergerak menuju Rp18.200 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Apabila data ekonomi Indonesia lebih baik dari perkiraan dan harga minyak dunia mengalami penurunan, rupiah berpeluang mendekati level Rp18.100.

Sebaliknya, penyusutan surplus perdagangan yang lebih dalam serta berlanjutnya arus keluar modal asing dapat membawa rupiah menuju Rp18.200 per dolar AS.

Ketegangan Politik dan Harga Minyak Ikut Membayangi Rupiah

Selain indikator ekonomi, kondisi politik dalam negeri juga menjadi perhatian investor.

Yusuf menilai ketegangan politik menyusul aksi protes mahasiswa serta kekhawatiran terhadap integritas pasar saham Indonesia turut memengaruhi persepsi investor.

Perhatian pasar juga tertuju pada langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi mengenai status pasar saham Indonesia.

Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan premi risiko aset domestik sehingga membatasi minat investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan risiko kenaikan harga minyak dunia.

Sebelumnya, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75 persen hingga 4 persen dalam keputusan 28 Oktober 2026.

Pekan Pertama November Jadi Ujian bagi Pasar Keuangan

Tekanan terhadap rupiah juga tidak terlepas dari padatnya kalender ekonomi global pada pekan pertama November 2026.

Pasar keuangan akan menghadapi sejumlah agenda penting, mulai dari pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, keputusan suku bunga bank sentral sejumlah negara, hingga publikasi data inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Di Amerika Serikat, pemilihan paruh waktu atau US Midterm Elections pada 3 November 2026 menjadi salah satu agenda yang diperhatikan investor.

Pemilu tersebut akan menentukan komposisi 435 kursi House of Representatives, 35 kursi Senat, serta pemilihan gubernur di 36 negara bagian.

Hasil pemilu berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal, perpajakan, perdagangan, dan regulasi ekonomi AS.

Sementara dari sisi kebijakan moneter, sejumlah bank sentral juga dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga.

Bank of England (BoE) diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4 persen pada 5 November 2026.

Berbeda dengan Inggris, Bank Negara Malaysia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya di level 2,75 persen.

Investor juga akan mencermati data aktivitas manufaktur dan jasa China yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian negara tersebut.

Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, data inflasi Oktober dan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 menjadi indikator penting yang akan diperhatikan pelaku pasar.

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia pada Oktober mencapai 3,31 persen secara tahunan, sedikit meningkat dibandingkan September yang sebesar 3,28 persen.

Sementara konsensus pasar memperkirakan inflasi Oktober berada di level 3,25 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diproyeksikan melambat menjadi 5,17 persen, dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,29 persen.

Bloomberg Economics menilai tekanan dari sektor keuangan berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi, terutama investasi modal.

Kombinasi inflasi yang relatif tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat memengaruhi persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Pasar juga akan mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada 6 November 2026.

Data tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat kekuatan pasar tenaga kerja AS dan memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Selain itu, perkembangan harga minyak dunia masih menjadi faktor risiko. Konflik di Timur Tengah dan gangguan di sekitar Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada pekan pertama November 2026 diperkirakan masih akan berlangsung dinamis.

Investor akan mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik sekaligus perubahan kebijakan moneter dan kondisi geopolitik global sebelum menentukan arah investasi.