POJOKSATU.id - Pergerakan saham perbankan besar diperkirakan semakin menentukan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai awal November 2026. 

Perubahan ini terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan 82 saham berkategori high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan indeks utama tersebut mulai Senin, 2 November 2026.

Kebijakan ini mengubah komposisi saham yang memengaruhi pergerakan IHSG. 

Saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tidak lagi memberikan pengaruh langsung terhadap indeks, sedangkan bobot saham lain yang tersisa diperkirakan meningkat.

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai perubahan tersebut berpotensi membuat pergerakan IHSG lebih stabil karena saham-saham HSC tidak lagi menjadi penggerak indeks.

"Saham HSC tidak lagi menggerakkan IHSG, sehingga volatilitas indeks ke depan berpotensi lebih rendah," ujar Wawan, Sabtu 24 Oktober 2026.

Meski begitu, perubahan komposisi indeks bukan berarti kerugian investor yang sudah terjadi akan otomatis pulih. 

Dampak kebijakan ini perlu dilihat dari cara indeks dihitung dan seberapa besar pengaruh saham-saham yang tersisa terhadap pergerakannya.

IHSG Tertekan, Saham HSC Berkontribusi Negatif

Kebijakan BEI muncul ketika pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar sepanjang 2026. 

Pada 16 Oktober, IHSG anjlok 11,57 persen ke level 5.185. Penurunan harian tersebut menjadi yang terdalam sejak 1998.

Tekanan itu terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Hingga penutupan perdagangan 22 Oktober 2026, IHSG berada di level 5.387,90. 

Angka tersebut turun 37,69 persen dibandingkan penutupan akhir 2025 yang mencapai 8.646,94.

Berdasarkan perhitungan Infovesta, saham-saham HSC turut memperbesar tekanan terhadap indeks. 

Enam saham HSC dengan bobot terbesar saja memberikan kontribusi negatif sebesar 10,75 persen terhadap penurunan IHSG sepanjang tahun berjalan. 

Jika seluruh saham HSC diperhitungkan, kontribusi negatifnya mendekati 13 persen.

Infovesta juga membuat simulasi yang menunjukkan bahwa IHSG secara ilustratif bisa berada di kisaran 5.800 jika saham-saham HSC tidak diperhitungkan. 

Angka tersebut sekitar 400 poin di atas posisi indeks pada 22 Oktober.

Namun, simulasi itu hanya menggambarkan kontribusi saham HSC terhadap penurunan IHSG. 

Angka tersebut bukan proyeksi bahwa indeks akan langsung naik ke level 5.800 setelah kebijakan baru berlaku.

Penghapusan Saham HSC Tidak Otomatis Mengerek IHSG

Ada hal penting yang perlu dipahami investor. Pengeluaran 82 saham HSC tidak serta-merta membuat IHSG melonjak atau terkoreksi pada 2 November 2026.

BEI akan menyesuaikan pembagi indeks atau divisor agar perubahan komposisi saham tidak menimbulkan perubahan level IHSG secara aritmetis. 

Dengan mekanisme tersebut, penghitungan indeks setelah kebijakan berlaku akan berlanjut dari posisi penutupan perdagangan 30 Oktober 2026.

Perubahan utamanya terletak pada saham yang diperhitungkan dalam pergerakan indeks berikutnya.

Dalam simulasi Infovesta, apabila saham-saham HSC turun 20 persen sementara harga saham lain tidak berubah, IHSG dengan komposisi lama diperkirakan merosot sekitar 198 poin menjadi 5.190.

Sebaliknya, dengan komposisi baru, indeks dalam simulasi tersebut tetap berada di level 5.388 karena saham HSC tidak lagi memengaruhi penghitungannya.

Skenario berbeda muncul ketika pasar secara bersamaan pulih 5 persen. 

IHSG dengan komposisi lama diperkirakan naik ke level 5.409, sedangkan indeks dengan komposisi baru dalam simulasi mencapai 5.657.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh saham HSC terhadap indeks akan berkurang, baik ketika saham-saham itu melemah maupun menguat. 

Meski demikian, angka simulasi tersebut tidak menjamin pergerakan IHSG yang sebenarnya setelah kebijakan diterapkan.

Bobot Saham Bank Besar Berpotensi Meningkat

Di sisi lain, berkurangnya jumlah saham yang diperhitungkan dalam IHSG membuat bobot saham-saham yang tersisa semakin besar. 

Berdasarkan simulasi Infovesta, bobot saham tersebut meningkat sekitar 22 persen.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diperkirakan mencapai batas maksimum bobot atau capping sebesar 9 persen.

Sementara itu, bobot PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diproyeksikan naik dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen. 

Bobot PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga diperkirakan meningkat dari 3,59 persen menjadi 4,48 persen.

Secara keseluruhan, sepuluh saham dengan bobot terbesar diperkirakan menguasai hampir 47 persen IHSG, meningkat dari posisi sebelumnya sebesar 39,83 persen. 

Adapun bobot empat bank besar naik dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen.

Dengan komposisi tersebut, pergerakan saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, akan semakin berpengaruh terhadap arah indeks. 

Dalam simulasi Infovesta, perubahan harga BBCA sebesar 1 persen diperkirakan setara dengan pergerakan sekitar 4,76 poin IHSG.

Artinya, investor perlu semakin memperhatikan pergerakan saham-saham besar tersebut ketika membaca arah indeks secara keseluruhan. 

Namun, kenaikan bobot dalam IHSG tidak otomatis berarti kinerja bisnis atau prospek saham terkait ikut membaik.

Apa Dampaknya bagi Investor?

Perubahan komposisi indeks berpotensi memengaruhi transaksi saham dalam jangka pendek. 

Produk investasi yang menggunakan IHSG sebagai acuan dapat menyesuaikan portofolio dengan melepas saham HSC yang tidak lagi masuk dalam perhitungan indeks.

Penyesuaian tersebut berpotensi menekan harga saham tertentu, khususnya yang memiliki likuiditas rendah dan jumlah saham beredar di publik terbatas. 

Meski demikian, besar dampaknya bergantung pada kondisi perdagangan dan keputusan masing-masing pengelola investasi.

Di sisi lain, kebijakan ini dapat mempermudah pengelola reksa dana saham dalam meniru pergerakan IHSG. 

Sebelumnya, pengelola dana menghadapi dilema antara membeli saham HSC agar mengikuti indeks atau menghindarinya karena keterbatasan likuiditas dan risiko kesulitan menjual saham.

Setelah perubahan berlaku, pengelola dana memiliki peluang menyesuaikan portofolio tanpa harus membeli saham yang likuiditasnya terbatas.

Bagi investor individu, ada perbedaan penting antara perubahan bobot saham dalam indeks dan perubahan fundamental perusahaan. 

Saham yang bobotnya meningkat tidak otomatis menjadi lebih menarik, begitu pula saham yang dikeluarkan dari perhitungan IHSG tidak serta-merta memiliki prospek bisnis yang buruk.

Karena itu, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi, likuiditas, dan risiko masing-masing saham, bukan hanya perubahan komposisinya dalam indeks.

BEI Evaluasi Saham HSC Setiap Tiga Bulan

Sebelum diterapkan pada IHSG, BEI telah mengeluarkan saham HSC dari indeks LQ45, IDX30, dan IDX80. 

Mulai 2 November 2026, kebijakan serupa diberlakukan pada IHSG sebagai indeks utama pasar saham Indonesia.

Meski tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG, saham-saham HSC tetap tercatat di bursa dan masih dapat diperdagangkan seperti biasa. 

BEI akan mengevaluasi daftar saham HSC setiap tiga bulan. 

Saham yang tidak lagi memenuhi kategori tersebut berpeluang kembali menjadi konstituen indeks.

Jadwal evaluasi IHSG juga bergeser menjadi hari bursa pertama pada Februari, Mei, Agustus, dan November.

Bagi investor asing, perubahan ini berpotensi menjadi langkah untuk memperbaiki kualitas representasi indeks. 

Namun, kebijakan tersebut belum otomatis menjawab seluruh persoalan yang menjadi perhatian MSCI, termasuk transparansi kepemilikan saham, free float, dan penegakan aturan pasar modal.

MSCI dijadwalkan menyampaikan keputusan final mengenai klasifikasi pasar Indonesia paling lambat pada akhir Juni 2027.***