Kota Bandung, POJOKSATU.id, Musisi sekaligus penulis Fiersa Besari mengungkapkan sejumlah tantangan saat mendaki Gunung Elbrus di Rusia, puncak tertinggi di Eropa.

Selain menghadapi medan es yang membutuhkan teknik khusus, ia harus berhadapan dengan cuaca ekstrem yang menentukan keselamatan pendakian.

Menurut Fiersa, pengalaman mendaki gunung bersalju tidak serta-merta membuat seseorang siap menghadapi medan es seperti di Elbrus.

Teknik yang dibutuhkan berbeda sehingga pendakian menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menghadapi kondisi tersebut.

Cuaca menjadi kendala paling berat selama ekspedisi. Fiersa bersama tim bahkan harus menunggu hingga kondisi memungkinkan sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.

"Jadi ada satu hari di mana kita tuh udah menunggu cuaca buruk, baru bisa naik. Kita harus terus-terusan musyawarah. Jadi faktor terberat Elbrus adalah cuaca," ujar Fiersa saat menghadiri nonton bareng ekspedisi puncak Elbrus bertajuk "Menerjang Ketinggian Menembus Atap Eropa" di Outdoor Gear Arei, Jalan Cihampelas, Bandung, Rabu (28/10/2026).

Di tengah beratnya perjalanan, Fiersa mengaku sempat merasakan momen ketika cuaca berubah menjadi sangat bersahabat. Pemandangan di ketinggian itu membuatnya kembali memahami alasan dirinya mendaki gunung.

"Tapi ada satu hari di mana cuaca itu benar-benar bagus, benar-benar cantik, sampai saya baru ingat tujuan saya ke gunung adalah ini. Melihat semua ini yang tidak bisa saya rasakan di bawah sana gitu. Baru di situ hati saya bisa tenang," tuturnya.

Berkaca dari pengalamannya, Fiersa mengingatkan para pendaki agar tidak hanya berfokus pada kekuatan fisik.

Persiapan mental dan pengetahuan mengenai medan juga menjadi bekal penting sebelum memulai perjalanan.

Setelah ketiga aspek tersebut dipersiapkan, pendaki perlu meningkatkan daya tahan tubuh atau endurance. Salah satu caranya dengan rutin berlari, berjalan kaki, serta melatih otot kaki.

"Banyakin lari, banyakin jalan santai juga, jangan tiba-tiba olahraga. Banyakin leg day melatih otot kaki, jarang orang-orang di dunia pendakian yang membahas ini, tapi banyakin leg day. Fitness itu baik sebenarnya, fitness kan gak cuma berotot, tapi bisa otot kaki," imbuhnya.

Selain persiapan fisik, Fiersa menekankan pentingnya memilih pemandu dan operator perjalanan yang berpengalaman.

Menurutnya, kurangnya pengetahuan dan dukungan pemandu yang tepat sempat membuat dirinya mengalami stres selama pendakian.

"Jadi lebih baik bayar sedikit mahal, tapi dapat tour operator yang oke. Kalau ada barengan dari Indonesia, cari barengan dari Indonesia," katanya.

Ia juga mengingatkan pendaki Indonesia agar mempelajari situasi negara tujuan sebelum berangkat. Menurut Fiersa, kondisi Rusia yang tengah menghadapi perang turut memengaruhi akses dan komunikasi selama perjalanan.

"Sama jangan cuma fokus sama pendakiannya, tapi ketika kita datang, ke Rusia terutama dalam keadaan perang seperti ini, cari tahu sebaik-baiknya, karena akses kita sangat terbatas bahkan komunikasi pun sempat sulit," ungkapnya.

Fiersa menyebut urusan administrasi perjalanan, seperti dokumen identitas, penerbangan, durasi tinggal, serta maksud dan tujuan kunjungan, relatif dapat dipersiapkan dengan baik oleh pendaki asal Indonesia selama seluruh persyaratan disampaikan secara terperinci.

Namun, ia mengingatkan adanya perbedaan ketentuan asuransi di lokasi pendakian.

Menurutnya, perlindungan asuransi yang biasa digunakan belum tentu dapat berlaku untuk aktivitas pendakian di Elbrus.

Karena itu, pendaki perlu memastikan cakupan perlindungan sebelum berangkat.

Dari sisi anggaran, Fiersa mengungkapkan biaya ekspedisi tersebut mencapai tiga digit. Ia juga menceritakan kondisi fisiknya yang sempat sangat lemas hingga tidak mampu bangun selama satu hari.

"Anggarannya habislah tiga digit. Bukan sakit, tapi sempat lemas sampai satu hari itu gak bisa bangun," kisahnya.

Menurut Fiersa, kondisi cuaca turut memengaruhi kecepatan perjalanan tim. Ia melihat tim pendaki lain beruntung mendapatkan cuaca cerah sejak pagi hingga malam sehingga dapat bergerak lebih santai.

Sementara itu, timnya harus menghadapi pilihan antara kondisi cuaca buruk dan kondisi yang hanya sedikit lebih baik. Situasi tersebut membuat mereka harus bergerak cepat dan memperhatikan batas waktu untuk turun dari gunung.

"Kalau tim kami pilihannya cuma buruk atau kurang buruk, jadi kami benar-benar diburu-buru, jam 9 pagi itu dah harus turun, jadi kita cepat banget dan itu sedikit sulit," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Commanditaire Arei Outdoor Gear, Bryant Peter Budijanto, menjelaskan kolaborasi pihaknya dengan Fiersa dalam mendukung ekspedisi tersebut.

Arei menyiapkan jaket khusus untuk pendakian Elbrus yang dirancang menyesuaikan kebutuhan menghadapi kondisi lingkungan ekstrem. Produk tersebut juga dipasarkan secara terbatas.

"Kami memproduksi Arei jaket series Elbrus sih dan hari ini kita akan jual tiga unit. Jadi ini limited edition, jaket ini tidak mungkin digunakan sembarang, misal ke Gunung Gede bisa gerah nanti," ujar Bryant.

Ia mengatakan Arei berupaya mendukung kebutuhan perlengkapan Fiersa, meski tidak seluruh peralatan dapat disediakan.

Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan karakteristik produk yang dikembangkan di negara beriklim tropis.

Menurut Bryant, pengalaman ekspedisi tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kesesuaian sejumlah perlengkapan dalam menghadapi kondisi yang berbeda dari lingkungan pendakian di Indonesia.

Dukungan itu sekaligus menunjukkan pentingnya pemilihan perlengkapan yang sesuai dengan karakter medan, terutama ketika pendaki menghadapi suhu rendah, permukaan es, dan perubahan cuaca yang cepat seperti di Gunung Elbrus.