Penulis: Srie Harmiasih, Vera Risman, Yanti Komala
Program Pasca Sarjana Universitas Panca Sakti Bekasi
POJOKSATU.id - Thoriqul Iman, atau jalur iman, adalah konsep yang sangat penting dalam agama Islam. Ini mengacu pada keyakinan yang teguh dan kuat terhadap Rasulullah Muhammad SAW dan kitab suci Al-Qur'an sebagai wahyu langsung dari Allah SWT.
Thoriqul Iman adalah jalan yang harus diikuti oleh setiap Muslim yang ingin memperkuat hubungannya dengan Allah dan menemukan petunjuk hidup yang benar.
Bagi umat Muslim, iman terhadap Rasulullah dan kitab Allah, Al-Qur'an, adalah aspek yang sangat penting dalam memperkuat dan mengokohkan iman mereka.
Artikel ini akan membahas pentingnya Thoriqul Iman dalam mengembangkan kepercayaan terhadap Rasul dan kitab Allah serta bagaimana aspek-aspek ini mempengaruhi kehidupan seorang Muslim.
A. Proses Keimanan Kepada Rasul
1. Dalil tentang kewajiban iman kepada para rasul, ialah sebagai berikut:
Allah berfirman:
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya.
(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”.
(Mereka berdoa): “Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali”. [Al Baqarah (2) : 285].
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقاَمَ الصَّلَوةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Beriman kepada Nabi dan Rasul termasuk ushul (pokok) iman. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana beriman kepada Nabi dan Rasul dengan pemahaman yang benar.
Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya.
1) Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105).
Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.
2) Mengimani nama-nama Nabi dan Rasul yang kita ketahui dan mengimani secara global nama-nama Nabi dan Rasul yang tidak ketahui. – akan datang penjelasannya –
3) Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul.
4) Mengamalkan syari’at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau diutus untuk seluruh umat manusia.
Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk dan berserah diri pada Islam.
Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-NisaA’ 4:65)
2. Hikmah diturunkan Rasul
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Adalah manusia tadinya satu umat. Maka saat mereka berselisih, Allah pun mengutus para Nabi untuk memberikan kabar gembira dan peringatan, dan Allah turunkan bersama meraka kitab suci dengan membawa kebenaran, agar menghakimi manusia dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Dan tidaklah berselisih tentang kitab suci kecuali orang-orang yang telah diberikan kepada mereka kitab suci tersebut, setelah datang kepada mereka keterangan akibat kedzaliman di antara mereka. Maka Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah memberikan hidayah siapa yang Allah kehendaki kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213)
a) Mengajak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hikmah diutusnya rasul diantaranya mengajak manusia kepada menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan melarang penyembahan kepada selain-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”. (QS. Adz-Zariyat : 56)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah Subhanahu wa Ta’ala (saja), dan jauhilah Thagut itu”, … (QS. An-Nahl:36)
b) Menyampaikan kabar baik dan kabar buruk
Allah Ta’ala mengutus para rasul ‘alaihimus salam untuk memberi kabar gembira kepada mu’minin tentang janji-janji kebaikan berupa nikmat yang abadi sebagai balasan bagi ketaatan mereka; dan memperingatkan orang-orang kafir tentang akibat buruk yang akan mereka terima, juga untuk membatalkan alasan mereka di akhirat karena sesungguhnya para rasul ‘alaihimus salam telah menyampaikan kebenaran kepada mereka.
Tidak ada alasan bagi orang-orang kafir untuk mengatakan, ‘belum mengenal kebenaran’.
Allah Ta’ala berfirman,
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa, 4: 165)
c) Menyampaikan syariat Allah dan menjelaskan agama yang diturunkan kepada manusia
Sebagaimana firman Allah:
يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآأُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya.
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al Maidah/5 :67)
بِالبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”. (An Nahl/16 :44)
d) Memperbaiki manusai dengan teladan dan contoh yang baik dalam perkataan dan perbuatan
Para rasul ‘alaihimus salam diutus untuk memberikan uswah hasanah (keteladanan yang baik) bagi manusia bagaimana berperilaku yang lurus, berakhlak yang utama, beribadah yang shahih dan beristiqamah di atas petunjuk Allah Ta’ala.
Dia berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab, 33: 21)
3. Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul
Sebagai Penghubung antara manusia dan Penciptanya yaitu Allah ﷻ, setiap manusia membutuhkan bimbingan Allah Ta’ala melaui petunjuk dari para rasul. Karena tanpa bimbingan-Nya manusia akan terjerumus pada kesesatan.
Oleh karena itu, dengan kasih sayang-Nya, Allah Ta’ala telah mengutus para Rasul untuk memberikan petunjuk yang benar agar mereka ma’rifatul khaliq (mengenal Penciptanya).
Melalui bimbingan para rasul, manusia pun akan mengenal minhajul hayah (pedoman hidup). Allah Ta’ala berfirman,
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 151).
Setiap ibadah akan tertolak jika tidak mengikuti apa yang telah ditentukan rasul sesuai dengan wahyu yang diterimanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim)
B. Proses Keimanan terhadap Al Qur’an
Al Qur’an itu datang dari Allah Subhanahu wata’ala, adapun bukti yang sangat mudah dapat dilihat dari kenyataan/fakta bahwa Al Qur’an adalah sebuah kitabyang berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam.
Karena fakta tersebut, maka dalam upaya menentukan dari mana asal Al Qur’an itu, dapat kita buktikan dengan tiga kemungkinan itu, tidak ada yang lain. Ketiga kemungkinan tersebut adalah:
Pertama: Al Qur’an merupakan karangan bangsa Arab. Kemungkinan yang pertama ini, yang mengatakan bahwa Al Qur’an merupakan karangan bangsa Arab adalah suatu kemungkinan yang bathil.
Sebab, Al Qur’an sendiri menantang mereka (bangsa Arab) untuk membuat karya yang serupa, sebagaimana tertera dalam ayat:
أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا۟ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِۦ مُفْتَرَيَٰتٍ وَٱدْعُوا۟ مَنِ ٱسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
Artinya: Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS. Hud (11) : 13)
أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ مَنِ ٱسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
Artinya: Atau (patutkah) mereka mengatakan, "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar". (QS. Yunus (10) : 38)
Bangsa Arab telah berusaha untuk menghasilkan karya yang serupa, tetapi mereka tidak juga berhasil. Jadi Al Qur’an bukan berasal dari perkataan orang Arab, karena ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan karya yang serupa.
Kedua: Kemungkinan yang mengatakan bahwa Al Qur’an merupakan karangan Muhammad Salallahu’alaihi wassalam. Ada pun kemungkinan kedua ini pun bathil pula. Sebab Muhammad Salallahu’alaihi wassalam adalah orang Arab juga.
Bagaimana pun jeniusnya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari bangsanya.
Selama bangsa Arab tidak manpu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula jika Muhammad Salallahu’alaihi wassalam yang orang Arab itu juga tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Jelaslah bahwa Al Wur’an bukan karangannya.
Hal tersebut makin diperkuat dengan banyaknya hadits-hadits shohih dan mutawatir dari Muhammad Salallahu’alaihi wassalam.
Jika setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat mana pun dalam Al Qur’an maka tidak akan dijumpai adanya kemiripin dari segi bahasa (Uslub), padahal keduanya berasal dari orang yang sama.
Akan tetapi, keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahsanya. Bagaimana pun kerasnya seseorang menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap akan terdapat kemiripan antara gaya bahasa yang satu dengan gaya bahasa yang lain.
Karena tidak ada kemiripan antara gaya bahsa Al Qur’an dengan gaya bahsa hadits maka yakinlah bahwa Al Qur’an itu bukan perkataan Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wassalam.
Dengan demikian, terbantahlah kemungkinan pertama dan kedua. Kini tinggal tuduhan lain yang mereka lontarkan, yaitu bahwa Al Qur’an itu disadur oleh Muhammad Salallahu’alaihi wassalam dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr.
Tuduhan itu ditolak keras oleh Allah Subhanahuwata’ala, melalui Firmannya :
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ ٱلَّذِى يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِىٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِىٌّ مُّبِينٌ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)".
Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.
Inilah pembuktian yang jelas bahwa Al Qur’an itu bukan karangan bangsa Arab atau karangan Muhammad Salallahu’alaihi wassalam. Al Qur’an adalah perkataan Allah ( Kalamullah) yang menjadi mukjizat bagi pembawanya (Muhammad Salallahu’alaihi wassalam).
Tidak ada kemungkinan lain selain ini, diliat dari kenyataan bahwa Al Qur’an itu berbahasa Arab.
Ketiga: Al Qur’an berasal dari Allah semata, sebagaimana pernyataan pembawanya.
Setelah kedua kemungkinan tersebut terbantahkan, kini hanya tinggal satu kemungkinan yaitu bahwa Al Qur’an itu adalah Kalamullah. Kemungkinan inilah yang Shohih diantara ketiga kemungkinan yang ada.
Kemungkinan ini sekaligus membuktikan bahwa Muhammad Salallahu’alaihi wassalam adalah Rosulullah karena tidak ada yang membawa syariat dan mukjizat kecuali seorang Nabi dan Rosul.
Adapun yang membawa syariat (Al Qur’an) tersebut tidak lain adalah Muhammad Salallahu’alaihi wassalam.
Demikian uraian-uraian singkat namun jelas dan tegas tentang dalil aqli untuk beriman kepada (wujudnya) Allah subhanahuwata’ala, kepada kebenaran kerosulan Muhammad Salallahu’alaihi wassalam dan kepada Al Qur’an, bahwa Al Qur’an merupakan Kalam Allah.
Thoriqul Iman, yaitu kepercayaan terhadap Rasul dan kitab Allah, merupakan pijakan utama bagi seorang Muslim dalam mengembangkan iman yang kuat.
Kepercayaan ini membentuk landasan moral dan etika, serta memberikan petunjuk dan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Thoriqul Iman memberikan kekuatan dan kepastian kepada seorang Muslim, serta mendorongnya untuk mengamalkan ajaran Islam dalam setiap aspek kehidupan.
Dengan memperkuat Thoriqul Iman, seorang Muslim dapat menjalani hidup dengan penuh keyakinan, integritas, dan keteladanan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan ditunjukkan dalam Al-Qur'an. (*/pojoksatu)



