MADIUN, POJOKSATU.id - Tersangka Dwi Bagus Martono (40) ternyata baru pulang haji bersama istri sahnya Martha Amalia Iflahah (34) pada tahun 2025 lalu.

Dwi Bagus juga terlihat bersimpuh meminta maaf pada istri sahnya saat prarekontruksi digelar di rumahnya di Jalan Kunir, Kelurahan Ngegong, Manguharjo, Kota Madiun, Selasa (27/10/2026).

Sang istri yang mengenakan jilbab dan pakaian serba hitam terlihat memeluk tersangka usai prarekonstruksi digelar.

Sembari menangis ia menengadah menatap wajah Bagus sambil terus berbicara menatap dalam-dalam mata suaminya tersebut.

Pertemuan tersebut terjadi setelah penyidik Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim melakukan Prarekonstruksi di halaman belakang rumah tersebut.

Dirkrimum Polda Jatim, Kombespol Roy Hutton Marulamrata Sihombing mengatakan istri sah tidak mengetahui aktivitas sang suami saat melakukan pencacahan dan pembakaran jenazah di halaman belakang rumahnya yang merupakan kebun bonsai.

"Istri sah memang tidak mengetahui adanya peristiwa ini, memang betul dilakukan di rumahnya dan halamannya cukup luas sehingga bisa menyembunyikannya di belakang dari rumahnya," kata Roy saat memberikan keterangan kepada awak media di Mapolda Jatim, Selasa (27/10/2026).

Selain itu, dari informasi yang dihimpun, selama ini, istri sah yang berprofesi sebagai guru ini tidak mengetahui jika Bagus memiliki istri siri yang sudah dinikahi secara agama 2 tahun silam.

Meski begitu, kehidupan mereka terbilang harmonis. Istri sah memiliki kesibukan mengajar di sekolah, dan saat pulang ke rumah masih menyempatkan membuka fasilitas bimbingan les privat.

Gemar Menonton Thriller

Dwi Bagus Martono ternyata gemar menonton film bergenre thriller.

Hobi tersebut terungkap dari hasil pemeriksaan yang disampaikan Polda Jawa Timur.

Polisi juga mengungkap hasil tes psikologi Dwi Bagus yang menunjukkan kecenderungan memiliki kecerdasan superior.

Dirreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Roy HM Sihombing mengatakan, kegemarannya menonton film diduga menjadi dorongan kuat bagi pelaku untuk melakukan pembunuhan.

"Berdasarkan hasil (tes) psikologi, dia punya keinginan yang cukup dengan kemampuan dan dia juga suka menonton film-film itu (genre thiller)," kata Roy.

Ia juga membeberkan hasil tes psikologi Dwi Bagus.

Dari hasil tes tersebut, tersangka memiliki kecerdasan superior atau IQ tinggi.

"Terhadap pelaku juga kita sudah lakukan tes psikologis ya."

"Memang kasus tes psikologi-nya sudah keluar dan sudah disampaikan kemarin."

"Memang ada kecenderungan tersangka ini bersifat superior," ujarnya di Rumah Konferensi Pers Gedung Bidang Humas Mapolda Jatim, pada Selasa (27/10/2026).

Kecerdasan di atas rata-rata tersebut diduga membuat pelaku bisa merencanakan upaya penghilangan jejak pembunuhan.

"Dia mempunyai kelebihan dari sisi IQ, juga pintar. Kemudian juga dia juga memiliki kepintaran yang tinggi,"

"Waktu yang dibutuhkan, yaitu 2 hari. Mulai dari dia melakukan peristiwa pembunuhan sampai dia mengamankan seluruh perbuatan yang dia lakukan," tegasnya.***