PAPUA, POJOKSATU.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Papua Selatan mulai mengancam kelestarian ekosistem Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke.
Kawasan konservasi yang menjadi habitat ratusan spesies burung tersebut berisiko mengalami kerusakan akibat meluasnya kebakaran dan kepulan asap.
Berdasarkan data Balai Taman Nasional Wasur, kawasan konservasi ini menjadi habitat bagi 403 spesies burung.
Sebanyak 74 spesies di antaranya merupakan burung endemik Papua, sementara sekitar 114 spesies termasuk satwa yang dilindungi.
TN Wasur juga menjadi lokasi persinggahan burung migran dari Australia dan Selandia Baru.
Karena itu, kebakaran yang terjadi di kawasan sekitarnya dikhawatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem sekaligus mengancam keberlangsungan habitat satwa.
Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, luas kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan mencapai 695 hektare.
Dari total area tersebut, sebanyak 253 hektare masih berstatus belum padam. BNPB juga mendeteksi 379 titik panas dan 171 titik api yang masih membutuhkan penanganan.
Meski demikian, kondisi karhutla Papua Selatan menunjukkan perkembangan positif dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 31 Oktober 2026, luas area terbakar tercatat mencapai 1.742 hektare, dengan 577 hektare di antaranya belum padam.
Penurunan luas kebakaran tersebut belum menjamin seluruh wilayah telah aman. Pemantauan dan verifikasi lapangan masih diperlukan untuk memastikan perkembangan titik api yang tersisa.
Habitat Burung Endemik Papua Terancam
Ancaman karhutla terhadap TN Wasur tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi akibat kobaran api.
Kebakaran juga berpotensi menghilangkan kawasan mencari makan, tempat berlindung, hingga lokasi berkembang biak bagi satwa liar.
Kerusakan lahan basah dan tutupan vegetasi dapat mengganggu rantai kehidupan berbagai spesies yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Dampak kebakaran juga dapat berlangsung setelah api berhasil dipadamkan. Perubahan kondisi lingkungan dan paparan asap berpotensi memengaruhi kehidupan satwa, termasuk burung endemik yang memiliki habitat terbatas.
Kondisi ini membuat penanganan karhutla di Papua Selatan menjadi penting, bukan hanya untuk melindungi permukiman dan aktivitas masyarakat, tetapi juga menjaga kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati Papua.
BNPB Perkuat Pemadaman Karhutla Papua Selatan
Untuk mengendalikan kebakaran, BNPB bersama BMKG memperkuat pemantauan melalui citra satelit, drone, dan sistem digital guna mengidentifikasi persebaran titik api.
Penanganan di lapangan turut melibatkan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, serta sejumlah unsur terkait lainnya.
BNPB dan BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah terdampak.
Hingga 31 Oktober 2026, operasi tersebut telah melaksanakan 13 sorti penerbangan penyemaian awan dengan total penggunaan 13.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal telah melakukan pemantauan udara pada 31 Oktober 2026 lalu.
Dari hasil pemantauan tersebut, kepulan asap dan sejumlah titik api di Kabupaten Merauke masih terlihat.
Berton mengatakan, penanganan karhutla terus diperkuat melalui pemantauan dan koordinasi lintas instansi agar titik api yang tersisa dapat segera ditangani.
"Karena itu, penanganan terus diperkuat melalui pemantauan berbasis satelit dan drone, verifikasi titik api, serta koordinasi dengan BPBD, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, dan unsur terkait untuk mempercepat respons di lokasi kebakaran," kata Berton.
Upaya pemadaman dan pencegahan karhutla di Papua Selatan diharapkan dapat terus ditingkatkan untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas, terutama di kawasan konservasi yang menjadi habitat penting satwa endemik Papua.








