POJOKSATU.id - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyiapkan program riset khusus untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Program tersebut akan dibuka melalui skema Call for Proposal dalam rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., mengatakan riset yang diusulkan nantinya ditargetkan mulai berjalan pada Januari 2027.
"Kami lakukan, namanya Call for Proposal. Jadi kita akan membuka riset yang akan kita mulai nanti, di bulan Januari tahun depan. Nanti riset-riset ini akan mendukung kalau untuk kebakaran hutan," ujar Fauzan.
Pernyataan tersebut disampaikan seusai Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI Tahun 2026 di Gedung D Kemendiktisaintek, Jalan Pintu Satu Senayan, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Fauzan menjelaskan, Kemendiktisaintek ingin memastikan penelitian terkait karhutla memiliki arah yang jelas.
Riset tidak hanya menghasilkan kajian ilmiah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk yang benar-benar dibutuhkan untuk penanganan kebakaran.
Karena itu, kementeriannya turut menggandeng pemerintah daerah, baik pemerintah kota maupun pemerintah provinsi.
"Kita mengembangkan produk ini kan perlu. Jadi nanti siapa yang akan memanfaatkan. Oleh karena itu kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah kota, pemerintah provinsi," tuturnya.
Dengan keterlibatan pemerintah daerah, hasil penelitian diharapkan bisa menjawab kebutuhan di lapangan dan memberikan manfaat nyata dalam penanganan karhutla.
Water Bombing Efektif, tetapi Ada Kendala di Lahan Gambut
Selain menyiapkan riset khusus, Kemendiktisaintek juga menyoroti efektivitas metode pemadaman kebakaran hutan dan lahan menggunakan water bombing atau pengeboman air dari udara.
Fauzan mengungkapkan, berdasarkan penjelasan para pakar, metode tersebut masih efektif digunakan apabila kebakaran tidak terjadi di kawasan lahan gambut.
Pasalnya, lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan biasa. Api tidak hanya dapat menyebar di permukaan, tetapi juga merambat hingga lapisan bawah tanah.
Kondisi tersebut membuat proses identifikasi sumber api dan pemadaman menjadi lebih rumit.
Bahkan, kebakaran di lahan gambut berpotensi menyisakan bara di bawah permukaan tanah. Penyiraman air dari udara yang hanya menjangkau bagian atas belum tentu mampu memadamkan bara di lapisan bawah.
Akibatnya, bara yang masih bertahan dapat memicu munculnya titik api baru meskipun permukaan lahan sudah disiram.
"Apakah yang water bombing itu bermanfaat? Pakar menyampaikan bahwa kalau dia bukan lahan gambut itu sebetulnya masih bisa kita manfaatkan," ujarnya.
Fauzan mengatakan, informasi mengenai karakteristik penanganan karhutla tersebut juga telah disampaikan para pakar kepada Presiden Prabowo.
Menurut dia, penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan pendekatan yang tidak sederhana. Persoalan ini melibatkan aspek penegakan hukum sekaligus penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Riset Diharapkan Cegah Karhutla Terulang
Kemendiktisaintek berharap pengembangan riset berbasis sains dapat membantu pemerintah menemukan solusi yang lebih tepat dalam menghadapi persoalan karhutla.
Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempercepat penanganan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Fauzan berharap hasil kajian para pakar dan pengembangan teknologi dapat memberikan solusi yang bisa diterapkan secara nyata.
"Mudah-mudahan bisa ada secara cepat, tetapi lebih penting lagi ke masa depan supaya ini tidak terulang," ujarnya.
Melalui program Call for Proposal ini, perguruan tinggi dan kalangan peneliti diharapkan dapat berkontribusi menghasilkan inovasi yang mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. ***






