JAKARTA, POJOKSATU.id, Aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia berdasarkan pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Hingga Sabtu, 7 November 2026 pukul 17.00 WIB, BNPB memperkirakan terdapat sekitar 1.430 hektare area yang masih terbakar dan membutuhkan upaya pemadaman.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa pemantauan nasional menemukan 2.733 titik hotspot.
Sementara itu, titik yang terindikasi sebagai firespot atau lokasi dengan indikasi kebakaran tercatat sebanyak 928 titik.
“Berdasarkan pemantauan BNPB hingga 7 November 2026 pukul 17.00 WIB, secara nasional masih terdeteksi 2.733 titik hotspot, dengan 928 titik firespot yang teridentifikasi sebagai indikasi kebakaran,” ujar Berton.
Menurut dia, luasan area yang belum berhasil dipadamkan tersebut masih memerlukan penanganan dari petugas di lapangan.
Kendati demikian, perkembangan terbaru menunjukkan adanya penurunan aktivitas karhutla jika dibandingkan dengan kondisi pada 5 November 2026.
Saat itu, BNPB mencatat jumlah hotspot masih mencapai 4.737 titik, sedangkan firespot berada di angka 1.962 titik.
Adapun estimasi area yang masih terbakar dan belum padam pada 5 November mencapai 5.191 hektare.
Papua Selatan Catat Hotspot Terbanyak
Sejumlah daerah masih menjadi perhatian BNPB karena memiliki titik panas maupun luasan lahan terbakar yang relatif tinggi.
Papua Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling banyak dalam pemantauan terbaru, yaitu sebanyak 396 titik.
BNPB juga memperkirakan sekitar 362 hektare lahan di wilayah tersebut masih dalam kondisi belum padam.
“Untuk wilayah yang masih membutuhkan perhatian, Papua Selatan mencatat jumlah hotspot tertinggi, yaitu 396 titik, dengan estimasi luas 362 hektare masih belum padam,” kata Berton.
Selain Papua Selatan, Kalimantan Tengah juga masuk dalam daftar wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan karhutla.
Luas lahan yang masih belum padam di Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai 382 hektare.
Pada saat yang sama, wilayah tersebut memiliki 364 titik hotspot dan 241 firespot.
BNPB juga terus memantau perkembangan karhutla di beberapa daerah lainnya, antara lain Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah.
Ancaman Bencana Mulai Bergeser ke Banjir dan Longsor
BNPB tidak hanya berfokus pada penanganan kebakaran yang masih berlangsung, tetapi juga mulai mempersiapkan mitigasi menghadapi ancaman bencana pada penghujung tahun.
Memasuki periode musim hujan, potensi terjadinya banjir serta tanah longsor menjadi perhatian yang perlu diantisipasi sejak dini.
Langkah tersebut dinilai penting, khususnya untuk daerah yang sebelumnya mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Berton, wilayah yang pernah dilanda karhutla perlu diwaspadai karena kondisi lingkungan dan hidrologisnya dapat membuat daerah tersebut lebih rentan terhadap banjir maupun longsor.
“Antisipasi musim hujan: mulai mengantisipasi potensi banjir dan longsor, terutama di wilayah yang sebelumnya mengalami kebakaran dan memiliki kerentanan hidrologis,” tutur Berton.
Meskipun jumlah titik dan luas karhutla secara nasional mengalami penurunan, penanganan terhadap area yang masih terbakar tetap perlu dilanjutkan.
Di sisi lain, BNPB mulai menguatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir dan longsor seiring masuknya musim hujan pada akhir 2026.***






