POJOKSATU.id - Harga emas Antam kembali mencetak rekor tertinggi setelah melonjak Rp21 ribu menjadi Rp2,652 juta per gram pada perdagangan Selasa, 13 Januari 2026.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya logam mulia Antam dibanderol Rp2,631 juta per gram.
Bahkan, harga emas yang dijual melalui Pegadaian dilaporkan telah menembus level Rp2,7 juta per gram.
Kenaikan juga terjadi pada harga jual kembali atau buyback. Pada perdagangan hari ini, harga buyback emas Antam naik menjadi Rp2,503 juta per gram.
Artinya, investor yang melepas emasnya tetap menikmati kenaikan nilai seiring lonjakan harga pasar.
Baca Juga: Kuliah Gratis ke Brunei Darussalam, Ini 5 Universitas dan Beasiswa BDGS 2026
Tak hanya emas Antam, harga emas buatan Galeri24 dan UBS yang dijual di Pegadaian juga ikut melesat.
Harga emas Galeri24 naik Rp39 ribu dari Rp2,622 juta menjadi Rp2,661 juta per gram.
Sementara itu, emas UBS mengalami kenaikan Rp40 ribu menjadi Rp2,716 juta per gram, dari sebelumnya Rp2,676 juta.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, per Selasa harga emas dunia telah bergerak ke level 4.591 dolar AS per troy ons.
Sejalan dengan itu, harga logam mulia di dalam negeri sudah mencapai kisaran Rp2,65 juta per gram.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA ATR/BPN 2026! Direktorat PSKP Buka Rekrutmen Tenaga Pendukung Non-ASN
“Seandainya harga emas menguat, kemungkinan resisten pertama di 4.650 dolar AS per troy ons, kemudian logam mulia di Rp2,85 juta per gram. Jika naik kembali, resisten kedua di 4.700 dolar AS per troy ons,” ujar Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan.
Ia bahkan memprediksi, dalam waktu dekat harga emas berpeluang menembus level yang lebih tinggi.
“Berarti, dalam minggu ini ada kemungkinan besar harga emas dunia akan tembus di 4.700 dolar AS per troy ons dan logam mulia Rp3,1 juta per gram,” ungkapnya.
Menurut Ibrahim, secara umum terdapat dua faktor utama yang mendorong harga emas terus mengalami kenaikan, yakni dinamika perpolitikan di Amerika Serikat serta persoalan geopolitik di sejumlah kawasan dunia.
Baca Juga: Mengenal Syirkah dalam Perbankan Syariah: Pengertian, Dasar Hukum, Rukun, hingga Jenis-Jenisnya
Kedua faktor tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman seperti emas.
Dari sisi politik AS, Gubernur The Fed Jerome Powell dikabarkan menerima surat undangan dari Jaksa Agung AS terkait pembangunan gedung Bank Sentral AS.
Proyek tersebut diduga akan diselidiki karena adanya indikasi pembengkakan atau penguapan dana.
Dalam pidatonya, Powell menyampaikan bahwa pemanggilan tersebut berkaitan dengan indikasi adanya upaya politis untuk menjatuhkannya dari posisi pimpinan The Fed menjelang masa pensiunnya pada Mei 2026.
Isu ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.
Selain itu, kasus Gubernur The Fed Lisa Cook yang dipecat oleh Presiden AS Donald Trump juga masih menjadi sorotan.
Baca Juga: Tidak Ikut TKA Bukan Pelanggaran, Tapi Ini Dampaknya bagi Siswa ke Jenjang Berikutnya
Kejaksaan Agung AS disebut akan memanggil Lisa Cook untuk dimintai kesaksian terkait penyebab pemecatannya, yang dinilai sarat kepentingan politik.
Di sisi lain, persoalan perang dagang Amerika Serikat juga kembali menjadi perhatian utama pasar.
Isu ini dikabarkan akan kembali diangkat pada Januari, sehingga menambah tekanan geopolitik dan ekonomi global.
“Artinya, bukan di bulan Februari atau Maret 2026, tetapi di bulan Januari kemungkinan besar ada tiga agenda besar yang akan membuat perpolitikan AS memanas,” tutur Ibrahim.
Ia juga menyoroti adanya pemilu sela di Amerika Serikat pada kuartal I 2026 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Ibrahim memprediksi Partai Republik berpotensi dikalahkan oleh Partai Demokrat, yang bisa membuka jalan menuju proses pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump akibat kebijakan yang dinilai bertentangan dengan amanat undang-undang.
Baca Juga: Beasiswa Keolahragaan 2026 Segera Dibuka, Ini Syarat, Jadwal, dan Cara Ajukan Rekomendasi Kemenpora
Di tengah ketidakpastian global tersebut, emas kembali menunjukkan perannya sebagai aset lindung nilai.
Lonjakan harga yang terus berlanjut seakan menjadi pengingat bahwa ketika dunia bergejolak, emas selalu menemukan jalannya untuk bersinar dan menjadi tempat berlindung bagi para investor.***




