JAKARTA, POJOKSATU.id - Rocky Gerung lain dulu lain sekarang. Dulu ngritik sampai bilang dungu, sekarang sebut pengkritiknya medioker dan cengeng.

Rocky Gerung selama ini dikenal sebagai sosok yang selalu lantang melontarkan kritik kepada pemerintah.

Namun, setelah menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Presiden Prabowo Subianto, ia justru melontarkan kritik balik kepada orang-orang yang mempersoalkan keputusannya.

Dalam tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored, Rocky menanggapi kekecewaan sebagian pihak yang mempertanyakan pilihannya masuk ke lingkungan Istana.

Ia bahkan menyebut para pengkritiknya dengan istilah yang cukup keras. Tapi bukan dungu.

"Bagi gue ya ternyata ini orang-orang ini medioker juga, cengeng gitu, fighting spirit-nya enggak ada," ujar Rocky dalam tayangan tersebut, dilihat Pojoksatu.id pada Minggu 11 Oktober 2026.

"Takut masuk kekuasaan, nanti lu lenyap di situ. Ya, kalau lu takut, lu di luar (Pemerintahan) aja terus," sambung dia.

Pernyataan itu menjadi menarik karena Rocky selama bertahun-tahun membangun reputasi sebagai pengkritik yang tidak segan berhadapan dengan kekuasaan.

Kini, ketika keputusannya sendiri dipersoalkan, ia justru mempertanyakan kualitas dan keberanian orang-orang yang mengkritiknya.

Di sinilah ironi politiknya terasa.

Ketika Rocky mengkritik pemerintah, kritik sering dipandang sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

Namun, ketika Rocky masuk ke lingkungan kekuasaan, publik yang mempertanyakan konsistensinya justru dinilai medioker dan cengeng.

Lantas, apakah mengkritik keputusan Rocky berarti seseorang tidak memiliki keberanian?

Atau, jangan-jangan, kritik memang terasa lebih menyenangkan ketika diarahkan kepada orang lain?

Perlu diingat pula, video sinias tersebut ditayangkan pada 6 Oktober 2026.

Sementara Rocky resmi dilantik menjadi Wantimpres pada 2 Oktober.

Dengan demikian antara pelantikan Wantimpres dengan balasan Rocky soal kritik terhadap dirinya hanya berselang 4 hari saja.


Dulu Mengkritik Kini Dikritik

Dalam tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored, Rocky menjelaskan alasan di balik keputusannya menerima posisi Wantimpres. Ia mempertahankan pandangan bahwa masuk ke lingkungan kekuasaan tidak otomatis berarti menyerahkan sikap kritis.

Rocky juga menantang anggapan bahwa seseorang yang menerima jabatan akan langsung berubah watak.

Menurutnya, integritas seseorang justru diuji ketika berada dekat dengan kekuasaan.

"Ujian tertinggi dari integritas orang adalah dempeti kekuasaan. Di situ dia diuji," kata Rocky.

"Tapi orang bilang, "Coba kasih dia kekuasaan baru kelihatan wataknya, tuh." Nah, sekarang gue bilang, "Ini ada di gue kekuasaan itu." sambungnya.

Sosok yang dulu dianggap filsuf oleh para pendukungnya itu lantas meyakinkan bahwa kekuasaan tidak akan bisa mengubah sama sekali esensi dirinya.

"Tunggu aja 10 tahun lagi, mereka minta maaf ke gue. Sama seperti 10 tahun yang lalu mereka minta maaf ke gue, kan," ucapnya.

Argumen tersebut tentu bisa diperdebatkan. Masuk ke pemerintahan tidak otomatis membuat seseorang kehilangan prinsip.

Sebaliknya, berada di luar pemerintahan juga tidak otomatis menjadikan seseorang lebih berintegritas.

Namun, persoalannya bukan hanya apakah Rocky benar atau salah menerima jabatan.

Persoalan lainnya adalah apakah publik masih boleh mempertanyakan pilihannya tanpa harus dicap tidak memiliki keberanian.

Sebab, kekecewaan terhadap tokoh publik bukan selalu tanda kelemahan.

Bisa jadi, kekecewaan itu muncul karena ada perbedaan antara sikap yang selama ini ditampilkan dengan keputusan yang akhirnya diambil.

Rocky berhak menjelaskan pilihannya. Para pengkritiknya pun berhak menguji penjelasan tersebut.

Demokrasi tidak mengenal kewajiban bagi masyarakat untuk selalu menyetujui keputusan seorang tokoh, betapapun tajam reputasi kritiknya pada masa lalu.

Kalau setiap kritik dibalas dengan penilaian bahwa pengkritiknya cengeng, perdebatan akhirnya berisiko bergeser dari substansi menuju adu label.

Padahal, pertanyaan publik sebenarnya sederhana: apakah Rocky masih akan konsisten mengkritik kekuasaan setelah dirinya menjadi bagian dari lingkungan kekuasaan?

Pertanyaan itu tidak otomatis menjadikan Rocky pengkhianat. Tapi juga tidak adil jika orang yang mengajukannya langsung dianggap tidak punya nyali.

Namun fakta yang ada hari ini adalah bahwa dulu Rocky Gerung mengkritik penguasa, kini ia menyemprot para pengkritiknya.