JAKARTA, POJOKSATU.id - Rocky Gerung kembali melontarkan pernyataan kontroversial setelah resmi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Presiden Prabowo Subianto.

Pengamat politik yang selama bertahun-tahun dikenal kritis terhadap kekuasaan itu kini berbicara dari lingkungan yang selama ini menjadi objek kritiknya.

Bahkan, Rocky menyebut Istana sebagai sarang korupsi. Ia mengklaim memiliki misi tersendiri setelah berada di lingkaran kekuasaan, yakni memberantas pihak-pihak yang menurutnya bersembunyi di balik jabatan dan kekuasaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Rocky dalam tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored bertajuk Rocky Gerung Jawab Keraguan Publik. Sebut Istana Sarang Korupsi, Desak Gibran Mundur, yang tayang pada 8 Oktober 2026.

Rocky mengaitkan persoalan korupsi dengan kekuasaan yang berlebihan dan minim pengawasan.

Menurut Rocky bahwa kekuasaan yang eksesif harus dikendalikan karena bisa menjadi sumber korupsi.

"Istana itu sarang korupsi, emang. Saya masuk ke situ buat berantas maling-maling yang sembunyi di bawah meja Istana dan pohon-pohon beringin," ucap Rocky seperti telah dilihat Pojoksatu.id, pada Minggu 11 Oktober 2026.

Pernyataan itu terdengar keras. Rocky bukan hanya berbicara tentang perlunya mengendalikan kekuasaan.

Tetapi juga menggunakan metafora maling yang bersembunyi di bawah meja dan pohon beringin untuk menggambarkan pihak-pihak yang menurutnya perlu diberantas.

Di sinilah ironi politiknya dimulai.

Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal sebagai salah satu pengkritik keras pemerintah.

Kini, setelah masuk ke lingkungan Istana, ia mengaku ingin menjalankan fungsi koreksi dari dalam.

Kalau dulu kritik disampaikan dari luar pagar kekuasaan, sekarang Rocky mengklaim memiliki akses yang lebih dekat untuk menyampaikan pandangannya kepada Presiden Prabowo.

Namun, pertanyaan yang muncul justru sederhana: apakah masuk ke dalam kekuasaan otomatis membuat seseorang lebih mampu mengendalikan kekuasaan itu sendiri?

Atau justru kedekatan dengan pusat pemerintahan menjadi ujian paling berat bagi konsistensi seorang pengkritik?


Siapa "Maling di Istana" yang Dimaksud Rocky?

Keputusan Rocky menerima posisi Wantimpres menempatkannya dalam situasi yang menarik sekaligus mengundang tanda tanya.

Di satu sisi, ia berpeluang menyampaikan pandangan secara langsung kepada presiden.

Di sisi lain, publik tentu ingin mengetahui bagaimana ia mempertahankan sikap kritis ketika kini berada di lingkungan pemerintahan.

Pernyataan Rocky tentang Istana sarang korupsi juga menimbulkan pertanyaan lanjutan.

Siapa sebenarnya pihak yang ia maksud dengan istilah maling?

Apakah ia merujuk pada persoalan sistemik dalam pengelolaan kekuasaan, atau ada dugaan tertentu yang dapat dijelaskan dengan bukti?

Pertanyaan tersebut penting karena pernyataan keras tidak bisa menggantikan pembuktian.

Menyebut Istana sarang korupsi merupakan penilaian Rocky, bukan bukti bahwa seluruh orang di lingkungan Istana terlibat tindak pidana korupsi.

Setiap dugaan pelanggaran tetap harus diperiksa berdasarkan fakta, dokumen, dan proses hukum yang berlaku.

Karena itu, publik layak menunggu penjelasan lebih jauh mengenai maksud pernyataan tersebut.

Jika Rocky benar-benar ingin memberantas praktik korupsi, ukuran keberhasilannya bukan seberapa tajam ia menyebut kata maling.

Ukurannya adalah apakah kritik tersebut menghasilkan masukan konkret, memperkuat pengawasan, dan mendorong perbaikan tata kelola pemerintahan.

Jangan sampai misi Rocky Gerung memberantas maling di Istana hanya terdengar gagah dalam sebuah podcast, sementara hasilnya sulit ditemukan di dunia nyata.