JAKARTA, POJOKSATU.id - Rocky Gerung punya jawaban untuk para pengkritik dan pencaci usai keputusannya masuk ke lingkaran kekuasaan.
Bukan meminta publik menilai kinerjanya dalam 100 hari, bukan pula menjanjikan evaluasi setelah setahun menjabat.
Rocky justru meminta para pengkritiknya menunggu sampai 10 tahun mendatang.
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu bahkan yakin orang-orang yang kini meragukan pilihannya suatu saat akan meminta maaf kepadanya.
"Tunggu aja 10 tahun lagi mereka minta maaf ke gue. Sama seperti 10 tahun yang lalu mereka minta maaf ke gue," kata Rocky Gerung dalam tayangan YouTube Akbar Faizal Uncensored, seperti dilihat Pojoksatu.id pada Minggu 11 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kritik terhadap langkah Rocky menerima jabatan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sosok yang selama ini dikenal vokal mengkritik kekuasaan itu kini justru berada lebih dekat dengan pusat pengambilan keputusan.
Rocky tampaknya percaya bahwa waktu akan membuktikan dirinya tetap konsisten.
Namun, di sinilah persoalannya.
Sepuluh tahun merupakan waktu yang panjang untuk menagih pembuktian, terutama ketika yang sedang diperdebatkan adalah integritas seseorang yang baru saja memasuki lingkaran kekuasaan.
Publik tentu boleh memberikan kesempatan. Tetapi apakah untuk menilai seorang penasihat presiden, masyarakat harus menunggu sampai satu dekade berlalu?
Kalau begitu, bagaimana nasib kritik terhadap kebijakan yang bermasalah hari ini?
Apakah harus ditunda dulu sampai tahun kesepuluh, sambil menunggu Rocky membuktikan bahwa dirinya tidak berubah?
Rocky Yakin Pengkritiknya Bakal Minta Maaf
Dalam perbincangan bersama Akbar Faizal, Rocky menanggapi keraguan yang muncul setelah dirinya menjadi anggota Wantimpres.
Ia menolak anggapan bahwa menerima jabatan otomatis membuat seseorang kehilangan kebebasan berpikir.
Menurut Rocky, kedekatan dengan kekuasaan justru menjadi kesempatan untuk menguji integritas, bukan alasan untuk langsung menyimpulkan seseorang telah menyerah kepada penguasa.
Rocky bahkan menyampaikan pandangannya bahwa ujian integritas yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang berada dekat dengan kekuasaan.
"Pada akhirnya ujian tertinggi dari integritas orang adalah dempet di kekuasaan. Di situ dia diuji," ujar Rocky dalam tayangan tersebut.
Pernyataan ini menarik karena standar yang ia kemukakan sekarang dapat digunakan untuk menilai dirinya sendiri.
Jika kedekatan dengan kekuasaan merupakan ujian tertinggi integritas, maka jabatan Wantimpres bukanlah bukti bahwa Rocky telah lulus.
Sebaliknya, jabatan itu justru menjadi awal dari ujian yang ia bicarakan.
Di sinilah publik perlu membedakan antara keyakinan pribadi dan pembuktian nyata.
Rocky boleh percaya bahwa dirinya akan tetap kritis. Namun, orang lain juga berhak menunggu bukti sebelum mempercayai klaim tersebut.
Sebab, integritas tidak bisa ditentukan melalui seberapa yakin seseorang berbicara tentang dirinya sendiri.
Ukurannya terlihat dari keputusan, konsistensi, serta keberanian menyampaikan kritik ketika kepentingan kekuasaan tidak sejalan dengan prinsip yang dipegangnya.
1 Dekade untuk Minta Maaf, tapi Siapa yang Menilai?
Kalimat Rocky menjawab para pengkritiknya yang kelak akan meminta maaf menyimpan ironi tersendiri.
Ia seolah sudah mengetahui bagaimana akhir dari perdebatan yang baru dimulai.
Mereka yang sekarang meragukannya, menurut prediksinya, akan berubah pikiran setelah melihat apa yang dilakukannya.
Namun, keyakinan bahwa orang lain akan meminta maaf bukanlah ukuran keberhasilan seorang pejabat.
Yang lebih penting adalah apakah perannya benar-benar memberikan manfaat, apakah kritiknya tetap konsisten, dan apakah keberadaannya di lingkungan Istana mampu mendorong pengambilan keputusan yang lebih baik.
Jika Rocky berhasil mempertahankan sikap kritis, publik tentu memiliki alasan untuk mengakui konsistensinya.
Tetapi jika dalam perjalanan waktu muncul tindakan yang bertentangan dengan prinsip yang pernah ia suarakan, masyarakat juga berhak menyampaikan kritik.
Tidak ada kewajiban bagi publik untuk mengunci penilaian hari ini sampai satu dekade mendatang.
Perlu diingat, dalam demokrasi, kepercayaan bukan cek kosong.
Ia dapat tumbuh ketika seseorang menunjukkan konsistensi, tetapi juga bisa berkurang jika perkataan dan tindakannya tidak sejalan.
Karena itu, tantangan Rocky sebaiknya tidak dipahami sebagai permintaan agar publik berhenti menilai.
Justru, keputusan masuk ke lingkungan kekuasaan membuat pengawasan terhadap dirinya semakin relevan.
Sepuluh tahun boleh menjadi rentang waktu yang ia sebutkan.
Namun, pembuktian integritas semestinya berlangsung sejak hari pertama seseorang menerima jabatan.
Terakhir, Rocky memang tak harus langsung dihakimi, tapi ia juga tidak bisa bebas dari evaluasi.
Siapa yang berhak mengevaluasi Rocky Gerung? Ya, Anda-Anda inilah. Rakyat, tentu saja.







