POJOKSATU.id, JAKARTA— Presiden Soekarno semakin benci terhadap Amerika Serikat. Bung Karno mengakui, ia berulang kali mencoba menjalin persahabatan dengan negara itu tapi selalu kandas.

Dikisahkan oleh Tjipta Lesmana dalam buku Dari Soekarno sampai SBY (2009), Bung Karno sudah merasa janggal dan kurang nyaman usai mendarat di Washington pada kunjungannya di tahun 1960.

Ternyata bukan Eisenhower yang menyambut kedatangannya sebagaimana protokol yang berlaku di Amerika saat itu ketika sesama kepala negara berkunjung.

Baca Juga: Cium Sang Saka Merah Putih, Eks Sekjen FPI Munarman Ucapkan Ikrar Setia Kepada NKRI

Sukarno tentu saja kecewa. Namun Presiden Sukarno berusaha memaklumi. Kemarahannya baru meledak ketika kejadian nyaris serupa terulang lagi di Gedung Putih.

Sukarno dijadwalkan bertemu dengan Eisenhower pada pukul 10.00 pagi waktu setempat.

Jam 09.58, ia sudah tiba di Gedung Putih, kemudian duduk menunggu si empunya rumah. Menit demi menit berlalu. Sukarno masih bertahan. Pukul 10.25, Bung Karno mulai gelisah karena Eisenhower tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Dan, 5 menit kemudian, genap 30 menit menunggu, murkalah sang pemimpin besar revolusi itu.

Baca Juga: Pakar Prediksi Kurungan Sambo dan Putri Candrawati akan Terus Berkurang, Lihat Fakta-fakta Hukumnya

Ajudan Presiden Sukarno, Bambang S. Widjanarko, menceritakan fragmen menegangkan ini dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno (2010). Sukarno mendatangi petugas protokoler lantas menghentak:

"Apa-apaan ini! Kalian yang menetapkan pertemuan pukul 10.00, hingga pukul 10.30 presiden kalian belum datang juga! Apakah kalian memang bermaksud menghina saya? Sekarang juga saya pergi!" bentak Sukarno.

Cindy Adams melalui buku : Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams (1966) yang dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan dengan judul Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy juga menuturkan kisah serupa yang didengarnya dari mulut Bung Karno sendiri.

Setelah Sukarno mengancam pergi, petugas protokoler Gedung Putih buru-buru meminta maaf, kemudian masuk ke dalam ruangan.

Tak lama berselang, Eisenhower keluar dan mempersilakan Sukarno masuk bersamanya. Namun, tidak ada kata maaf yang terucap dari Presiden AS itu.

“Ia tidak mohon maaf, juga tidak berniat memohon maaf ketika akhirnya saya diantarkan ke dalam,” sebut Sukarno yang ditulis Cindy Adams.

Perlakuan seperti itulah yang membuat Sukarno semakin benci terhadap Amerika Serikat. Bung Karno mengakui, ia berulang kali mencoba untuk menjalin persahabatan dengan negara itu, tapi selalu kandas.

“Bertahun-tahun lamanya aku sangat ingin menjadi sahabat Amerika, akan tetapi sisa-sia,” kata Sukarno dalam buku karangan Lesmana.

Pengalaman buruk dengan Eisenhower semakin menjauhkan Indonesia dari Amerika di era Presiden Sukarno. Bung Karno pun menolak bantuan yang hendak diberikan oleh negara adidaya itu.

“To hell with your aid!” sergahnya.


Bung Karno Murka di PBB

Presiden Sukarno memang bertipikal paling lugas dan tegas, lebih ekspresif, berkarakter keras, tanpa tedeng aling-aling dalam meluapkan perasaan, termasuk kemarahan.

Dan, murka Bung Karno tidak pandang bulu. Ia bisa marah kepada siapapun atau dalam persoalan apapun yang tidak berkenan di hatinya.

Presiden Sukarno pernah murka di forum internasional sekelas Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang kepala negara dari seluruh dunia.

Dengan suara keras bak gelegar halilintar, ia mengecam negara-negara Barat yang disebutnya tidak adil terhadap negara-negara berkembang. Pada 1963 itu, Sukarno sekaligus menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB.

Di periode yang sama, Sukarno juga meluapkan kemurkaannya terhadap Malaysia. Negeri tetangga yang masih serumpun ini dituding Bung Karno sebagai negara boneka, antek bangsa-bangsa kapitalis, terutama Inggris dan Amerika.

Sukarno tambah murka saat mendengar para pengunjukrasa anti-Indonesia di negeri jiran membawa-bawa lambang negara Garuda Pancasila ke depan gedung Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, dan merobek-robek foto dirinya.

Bahkan, para demonstran kemudian membawa Garuda Pancasila kepada Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tunku Abdul Rahman. Dan memaksanya untuk menginjak salah satu simbol kehormatan bangsa Indonesia tersebut.

Kampanye Ganyang Malaysia pun menjadi luapan amarah Presiden Sukarno kala itu.

 

Perang dengan Malaysia

Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia.

Pada 12 April, sukarelawan Indonesia mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase.

Tanggal 3 Mei 1964 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Soekarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:

1.Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia

2.Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia

Sementara pada 27 Juli 1964, Soekarno mengumumkan bahwa dia akan meng-Ganyang Malaysia. Pada 16 Agustus 1964, pasukan dari Rejimen Askar Melayu Diraja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.

Setelah Presiden Indonesia Soekarno digulingkan pada tahun 1966, perselisihan berakhir secara damai dan negara Malaysia terbentuk.***