JEMBER, POJOKSATU.id - Musim kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Jember memicu krisis air bersih dan berdampak luas pada ribuan kepala keluarga (KK).

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, wilayah terdampak kekeringan terus meluas dari perkiraan sebelumnya.

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengungkapkan bahwa perluasan wilayah terjadi karena kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dari estimasi awal.

Hingga laporan terbaru, catatan darurat menunjukkan sebanyak 3.340 KK di 12 kecamatan, 22 desa/kelurahan, dan 32 dusun mengalami krisis air bersih.

“Kalau dua hari lalu kita masih pada posisi 10 kecamatan, per sore kemarin sudah berkembang lagi menjadi 12 kecamatan, 22 desa atau kelurahan dan 32 dusun,” ujar Edy, Sabtu (24/10/2026).

Dampak kekeringan ini tidak hanya menyulitkan kebutuhan air minum warga, tetapi juga melumpuhkan fasilitas umum seperti mushola yang terpaksa menutup kamar mandi.

Guna mengatasi darurat air bersih tersebut, BPBD Jember telah mendistribusikan sekitar 1,9 juta liter air bersih kepada warga di wilayah terdampak.

Operasi kemanusiaan ini didukung penuh oleh armada truk tangki lintas instansi dari BPBD, PDAM, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP), PMI, hingga dukungan tambahan dari BPBD Provinsi Jawa Timur dan Baznas Jatim.

Selain pengiriman air secara berkala, pihak BPBD juga telah menyalurkan lebih dari 100 tandon air untuk membantu penyimpanan di lokasi yang membutuhkan.

Kendati demikian, tantangan besar menghadang seiring prakiraan cuaca yang menyebutkan bahwa musim hujan baru akan mulai turun pada akhir November hingga awal Desember 2026.

Kondisi geografis Jember yang berbukit-bukit dan terjal, seperti di wilayah Kecamatan Silo, turut memerlukan kerja sama ekstra bersama pemerintah desa agar distribusi bisa menjangkau pemukiman di lereng.

Edy juga tidak menampik kekhawatiran terkait kesiapan armada serta logistik tandon apabila musim kemarau terus berlanjut.

“Kalau ini terus berkembang sampai dengan awal Desember, kekhawatiran kami stok tandon kami juga habis. Kemudian truk-truk kami juga tentu saja sudah banyak kerusakan,” kata Edy.

Sebagai langkah antisipasi ke depan, BPBD Jember turut mendorong mitigasi jangka panjang melalui program Pamsimas, pembangunan sumur bor permanen, hingga reboisasi pelestarian sumber mata air.

Pemerintah daerah menghimbau masyarakat agar senantiasa menggunakan air secara bijak di tengah ancaman kekeringan yang masih berlangsung.