POJOKSATU.id - Ada sebuah jejak pendidikan tokoh Indonesia yang masih tersimpan di salah satu kampus ternama dunia.
Bukan hanya namanya yang diabadikan, salinan ijazahnya juga dipajang di lingkungan kampus tersebut.
Tokoh itu adalah Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia.
Salinan ijazah perguruan tinggi Bung Hatta dipajang di Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda, kampus yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan pendidikan dan kehidupan intelektualnya.
Yang membuat kisah ini semakin menarik, nama Mohammad Hatta juga diabadikan sebagai nama sebuah gedung di kampus tersebut.
Gedung itu adalah Hatta Building yang berada di Woudestein Campus dan kini digunakan sebagai hunian mahasiswa.
Erasmus University Rotterdam mencatat Hatta Building sebagai salah satu fasilitas akomodasi mahasiswa di kampus.
Di aula bangunan tersebut, salinan ijazah Hatta dipajang bersama ringkasan biografinya.
Pemajangan itu menjadi bagian dari penghormatan terhadap sosok yang pernah menjadi mahasiswa di Rotterdam sebelum kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Dari Rotterdam, perjalanan intelektual Hatta dimulai
Jauh sebelum menjadi Wakil Presiden pertama RI, Hatta datang ke Belanda sebagai seorang pemuda yang ingin menempuh pendidikan.
Ia tiba di Belanda pada 5 September 1921 untuk melanjutkan pendidikan ekonomi di Nederlandsche Handels-Hoogeschool, yang pada masa itu merupakan nama institusi yang kemudian menjadi bagian dari Erasmus School of Economics.
Hatta menempuh pendidikan di sana selama lebih dari satu dekade. Erasmus University Rotterdam mencatat Hatta lulus dari Nederlandsche Handels-Hoogeschool pada 5 Juli 1932.
Namun, Rotterdam bagi Hatta bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar akademik.
Di kota tersebut, ia juga mulai membangun pemikiran mengenai ekonomi, politik, kolonialisme, dan masa depan Indonesia.
Hatta aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia kemudian terlibat dalam Perhimpunan Indonesia yang menjadi salah satu ruang penting bagi mahasiswa Indonesia untuk menyuarakan gagasan kemerdekaan.
Pengalaman tersebut membuat masa pendidikan Hatta di Belanda menjadi bagian penting dari perjalanan intelektualnya.
Dari mahasiswa menjadi nama sebuah gedung
Puluhan tahun setelah Hatta menyelesaikan pendidikannya, namanya justru kembali hadir di lingkungan kampus yang pernah menjadi tempatnya belajar.
Erasmus University Rotterdam memberikan nama Hatta Building sebagai bentuk penghormatan kepada Mohammad Hatta.
Bangunan tersebut berada di Woudestein Campus dan diperuntukkan sebagai hunian mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional.
Dengan demikian, nama Hatta kini menjadi bagian dari kehidupan kampus yang terus digunakan oleh generasi mahasiswa setelahnya.
Penghormatan tersebut tidak hanya berupa nama bangunan.
Salinan ijazah Hatta juga ditempatkan di aula Hatta Building bersama informasi mengenai perjalanan hidupnya.
Hal itu membuat mahasiswa dan pengunjung kampus dapat melihat secara langsung salah satu dokumen yang menjadi bagian dari perjalanan akademis tokoh tersebut.
Keluarga Hatta baru mengetahui keberadaan gedung itu
Menariknya, keberadaan Hatta Building ternyata tidak langsung diketahui oleh keluarga Hatta.
Erasmus School of Economics mencatat bahwa pada 24 Mei 2014, Prof. Wim Lammerts van Bueren mengunjungi dua putri Hatta dan menantunya di rumah tempat Hatta dahulu tinggal.
Dalam kunjungan tersebut, ia menyerahkan foto berbingkai bangunan hunian mahasiswa internasional yang kemudian dikenal sebagai Hatta Building.
Momen tersebut menjadi bentuk penghubung antara keluarga Hatta dan institusi pendidikan tempat sang tokoh pernah menimba ilmu.
Bagi Erasmus University Rotterdam, Hatta bukan sekadar alumnus.
Kampus tersebut mencatatnya sebagai sosok yang sejak menjadi mahasiswa telah aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Hatta kemudian menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia dan bersama Soekarno dikenal sebagai salah satu Proklamator Kemerdekaan.
Mengapa ijazah Hatta dipajang?
Pemajangan salinan ijazah Hatta memiliki makna lebih besar daripada sekadar memamerkan dokumen akademik seorang alumni.
Ijazah tersebut menjadi penanda perjalanan seorang pemuda Indonesia yang pernah datang ke Rotterdam untuk belajar ekonomi, kemudian terlibat dalam gerakan kebangsaan, dan akhirnya menjadi salah satu tokoh utama dalam lahirnya Republik Indonesia.
Dengan kata lain, dokumen itu menjadi pintu masuk untuk mengenang perjalanan intelektual Hatta.
Dari bangku kuliah di Rotterdam, Hatta mendapatkan pendidikan yang kemudian turut membentuk pemikirannya tentang ekonomi dan kehidupan berbangsa.
Pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan aktivitasnya dalam pergerakan mahasiswa Indonesia di Belanda.
Karena itu, ketika salinan ijazahnya kini dipajang di Hatta Building, yang dihadirkan bukan hanya riwayat akademik seorang mahasiswa.
Yang diabadikan adalah perjalanan hidup seorang tokoh yang pernah belajar di Rotterdam dan kemudian menggunakan pengetahuan serta gagasannya dalam perjuangan kemerdekaan.
Jejak Hatta yang terus hidup di Rotterdam
Hampir satu abad setelah Hatta memulai pendidikannya di Rotterdam, namanya masih dapat ditemukan di lingkungan kampus tersebut.
Ada Hatta Building yang menjadi hunian mahasiswa.
Ada salinan ijazah dan biografi yang dipajang di dalamnya.
Dan ada catatan sejarah tentang seorang mahasiswa Indonesia yang kemudian menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Erasmus University Rotterdam sendiri masih mencatat Hatta sebagai bagian penting dari sejarah institusinya.
Ia disebut sebagai alumnus yang kemudian menjadi salah satu pendiri dan Proklamator Indonesia.
Jejak itu memperlihatkan bahwa pendidikan dapat meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang daripada sebuah gelar.
Hatta datang ke Rotterdam sebagai mahasiswa dari Hindia Belanda.
Ia meninggalkan kota itu dengan bekal ilmu dan pengalaman yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Indonesia merdeka.
Kini, namanya justru tetap hidup di tempat ia dahulu belajar.
Bukan hanya dalam buku sejarah, tetapi juga dalam nama sebuah gedung dan sebuah dokumen akademik yang dipajang untuk mengingat perjalanan seorang mahasiswa yang kelak menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.







