POJOKSATU.id - Kemampuan berbicara di depan orang lain bukan cuma soal tampil percaya diri.
Bagi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK), kemampuan berkomunikasi bisa menjadi bekal penting untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.
Hal itu yang terus dibangun di SLB Negeri Sugihwaras Bojonegoro.
Para siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran keterampilan vokasi seperti tata boga atau perbengkelan, tetapi juga diberi ruang untuk belajar menyampaikan keinginan, bertanya, menjawab, dan berinteraksi dengan orang lain.
Baca Juga: BRI Borong Pengakuan Global, Dinobatkan Bank Terbaik Dunia untuk UMKM Pertanian dan Pedesaan
Konsepnya pun tidak dibuat seragam. Metode komunikasi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Bagi siswa tunarungu, misalnya, pembelajaran komunikasi dapat dilakukan melalui Bahasa Isyarat Komunikasi Total dan pendekatan oral.
Sementara bagi siswa dengan hambatan kecerdasan, guru menggunakan pengkonsepan sederhana serta kalimat yang mudah dipahami dan diulang sesuai kebutuhan.
Dengan cara tersebut, latihan berbicara tidak berhenti di ruang kelas.
Baca Juga: Ternyata Begini Detail Peta Persebaran Ribuan Manajer Kopdes yang Sempat Heboh dalam Penempatan!
Justru situasi sehari-hari menjadi tempat siswa mengasah kemampuan mereka.
Belajar dari pengalaman nyata
Sekolah memberikan berbagai kesempatan agar murid berani berhadapan langsung dengan masyarakat.
Mereka dapat terlibat sebagai panitia bazar, melayani pembeli, menjalankan tugas dalam kegiatan sekolah, hingga melakukan transaksi secara mandiri di minimarket.
Ada pula aktivitas di kantor pos yang menjadi sarana bagi siswa untuk belajar berkomunikasi sekaligus memahami prosedur layanan publik.
Pengalaman-pengalaman sederhana itu menjadi latihan yang berharga.
Siswa belajar bagaimana menyampaikan kebutuhan, menerima informasi, merespons orang lain, sekaligus mengambil keputusan dalam situasi nyata.
Kemampuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi PDBK, keberanian untuk membuka percakapan atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain dapat menjadi bagian penting dari proses menuju kemandirian.
Bukan sekadar berani tampil
Latihan komunikasi juga dikembangkan melalui berbagai aktivitas ekspresif.
Murid diberikan kesempatan menjadi petugas acara, menari, membaca puisi, hingga terlibat dalam kegiatan sekolah.
Baca Juga: Lewat Pusaka Tani, Pertamina Bantu Warga Pondok Kopi Dongkrak Produksi Melon Hidroponik
Tujuannya bukan semata-mata membuat siswa tampil di depan banyak orang.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun keberanian dan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara masing-masing untuk mengekspresikan dirinya.
Nah, ketika kesempatan itu terus diberikan, rasa percaya diri pun dapat tumbuh secara bertahap.
Murid yang awalnya mungkin masih ragu untuk berbicara atau berinteraksi perlahan mendapatkan pengalaman bahwa suara dan keberadaan mereka juga memiliki tempat di tengah masyarakat.
Membuka cara pandang masyarakat
Kemampuan bersosialisasi juga membawa dampak yang lebih luas.
Baca Juga: Kemenag Usulkan 3 Skema Penghasilan Layak Guru Non-ASN, Segini Besaran dan Anggarannya
Ketika masyarakat melihat langsung murid SLB bertransaksi, melayani pembeli, mengikuti kegiatan, tampil di depan umum, atau berkomunikasi dengan orang lain, potensi mereka dapat terlihat secara lebih utuh.
Disabilitas tidak lagi hanya dipandang dari keterbatasan yang dimiliki.
Ada keterampilan, kreativitas, keberanian, dan kemampuan untuk berkontribusi yang juga perlu mendapatkan ruang.
Inilah yang menjadi bagian penting dari pendidikan yang inklusif.
Lingkungan yang inklusif bukan hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga memberi kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.
Baca Juga: Bukan Cuma Hunian Mewah, Ombudsman Soroti Keamanan dan Temuan Janggal di Lapas Cibinong
Karena itu, public speaking bagi murid berkebutuhan khusus bukan sekadar kemampuan mengucapkan kalimat di depan banyak orang.
Di baliknya ada proses panjang untuk membangun keberanian, kemandirian, dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.***




