POJOKSATU.id - Ketika wabah atau bencana terjadi, kemampuan tenaga kesehatan menangani pasien bukan satu-satunya hal yang menentukan keberlangsungan layanan.
Obat, alat kesehatan, hingga berbagai kebutuhan pendukung juga harus tersedia dan dapat dikelola di tengah kondisi yang serba terbatas.
Persoalan itulah yang menjadi perhatian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan National University of Singapore (NUS) melalui Workshop Logistics & Supply Chain During Disease Outbreak and Disaster di Yogyakarta, Rabu 23 September 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, 23–24 September 2026, di Convention Hall Lantai 4 Gedung Skillab Erwin Santosa, RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Baca Juga: Skandal Muktamar NU, Nama Presiden Diduga Dicatut Bagi-bagi Uang Rp400 M
Akademisi, praktisi, dan tenaga kesehatan dipertemukan untuk membahas bagaimana sistem rantai pasok dapat tetap berjalan ketika layanan kesehatan menghadapi tekanan akibat wabah penyakit maupun bencana.
Pembukaan workshop dilakukan oleh Dr. Med. dr. Supriyatiningsih, Sp.OG., M.Kes., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi UMY.
Dari NUS, hadir Dr. Robert de Souza, Executive Director The Logistics Institute–Asia Pacific, beserta sejumlah akademisi NUS.
Krisis Kesehatan Butuh Perencanaan Logistik
Menurut Dr. Supriyatiningsih, persoalan dalam menghadapi krisis kesehatan tidak berhenti pada kemampuan medis.
Baca Juga: Terkait Kontroversi Sidak di Lapas Cibinong, Hari Ini Ombudsman Siap Bawa Bukti- bukti ke DPR
Institusi kesehatan juga perlu memiliki kemampuan merencanakan kebutuhan dan memastikan berbagai sumber daya tersedia ketika kondisi darurat terjadi.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang memiliki karakter sebagai negara kepulauan sekaligus menghadapi beragam risiko bencana.
Kondisi geografis tersebut membuat pengelolaan obat, perlengkapan kesehatan, dan kebutuhan pendukung membutuhkan perencanaan yang matang.
Apalagi, dalam situasi krisis, kebutuhan dapat berubah dengan cepat sementara sumber daya yang tersedia terbatas.
Baca Juga: Kikin
“Dalam situasi krisis, kita membutuhkan tenaga yang tidak hanya memiliki kemampuan medis, tetapi juga kemampuan untuk merencanakan kebutuhan, mengelola suplai, memastikan ketersediaan peralatan dan obat-obatan, serta mengambil keputusan dalam kondisi sumber daya yang terbatas,” ujar Dr. Supriyatiningsih saat menyampaikan sambutan pembuka pada Rabu, 23 September 2026.
Karena itu, pemahaman mengenai logistik dan rantai pasok dipandang sebagai bagian dari kesiapan institusi kesehatan.
Perencanaan yang dilakukan sejak awal diharapkan membuat respons terhadap situasi darurat lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
NUS: Dua Keahlian Perlu Disatukan
Bagi NUS, tantangan menghadapi wabah dan bencana tidak dapat dilihat hanya dari satu bidang keilmuan.
Baca Juga: Laka Lantas Mobil Tangki LPG di Tol Jagorawi, Pertamina Lakukan Pengamanan Produk
Dr. Robert de Souza menilai pengetahuan tenaga kesehatan mengenai penyakit dan wabah perlu berjalan bersama kemampuan pengelolaan logistik serta rantai pasok.
“Kami memahami bidang logistik dan manajemen rantai pasok, sementara Anda memahami bidang penyakit dan wabah.
Kami ingin menggabungkan kedua bidang tersebut,” ujar Dr. Robert dalam sambutannya.
Kolaborasi itulah yang kemudian menjadi salah satu dasar pelaksanaan workshop.
Peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep respons terhadap wabah, tetapi juga bagaimana sistem logistik dapat menopang respons tersebut.
Baca Juga: Anggota DPD Dailami Firdaus Minta Penegak Hukum Usut Buku Cerpen Memburu Muhammad
Materi yang dibahas mencakup kesiapsiagaan, pengadaan, distribusi, hingga upaya menjaga keberlanjutan rantai pasok dalam situasi krisis.
Kerja sama UMY dan NUS dalam kegiatan ini juga dipandang sebagai bagian dari proses kolaborasi yang terus dikembangkan.
Dr. Robert menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan akademik selama dua hari, tetapi bagian dari perjalanan bersama untuk menghasilkan dampak yang lebih luas.
Tidak Berhenti di Ruang Workshop
Menariknya, peserta tidak hanya diajak memahami konsep melalui pemaparan materi.
Baca Juga: Lima Tahun Berlalu, Timnas Indonesia dan Malaysia Kembali Bertemu: Apa yang Berubah?
Workshop juga menggunakan simulasi serta latihan langsung atau hands-on exercise.
Metode tersebut dirancang agar peserta dapat mencoba menerapkan strategi yang dipelajari dalam situasi yang lebih mendekati kondisi pekerjaan sebenarnya.
Dengan pendekatan praktik, pengetahuan mengenai pengadaan dan pengelolaan suplai diharapkan tidak berhenti sebagai teori yang dipahami selama kegiatan berlangsung.
Dr. Robert bahkan menekankan bahwa ukuran keberhasilan kegiatan bukan semata-mata apa yang dipelajari peserta selama workshop.
“Peserta harus membawa pembelajaran ini dan menerapkannya. Peserta harus menciptakan dampak,” kata Dr. Robert.
Baca Juga: Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina di Malaysia
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penguatan logistik kesehatan membutuhkan keberlanjutan setelah kegiatan selesai.
Pengetahuan yang diperoleh perlu diterapkan dalam pengelolaan layanan sehari-hari, terutama ketika institusi harus menghadapi keterbatasan sumber daya atau gangguan rantai pasok.
Melalui workshop ini, UMY dan NUS berharap kapasitas sumber daya manusia di bidang logistik kesehatan semakin kuat.
Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan institusi kesehatan agar tidak hanya mampu memberikan pelayanan secara klinis, tetapi juga mampu menjaga ketersediaan kebutuhan penting ketika situasi berubah menjadi darurat.***




