POJOKSATU.ID - Kehadiran Artificial Intelligence (AI) sebagai produk dari kemajuan algoritma dan teknologi machine learning membawa perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Namun, di tengah pesatnya adopsi teknologi ini, muncul kesepakatan penting bahwa posisi AI harus tetap dijaga sebagai alat pendukung pembelajaran dan tidak boleh menggeser posisi sentral seorang pendidik.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan bahwa pendidikan pada dasarnya adalah proses pembangunan karakter manusia yang tidak dapat didelegasikan kepada mesin.
Baca Juga: TPG Guru Non ASN Mulai Cair Februari 2026, SKTP Jadi Kunci Utama
Fokus utama pendidikan adalah mencetak individu yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga mampu mengendalikan teknologi demi kemaslahatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Dalam pandangannya, teknologi hanyalah sarana, sementara ruh pendidikan terletak pada interaksi manusiawi.
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Bahasa Inggris UHAMKA, Herri Mulyono, menyoroti perlunya redefinisi peran guru.
Baca Juga: Catat! Ini Jadwal Sekolah Ramadan 2026, Belajar di Rumah hingga Libur Panjang
Alih-alih hanya menjadi sumber informasi atau penyampai materi, guru kini harus bertransformasi menjadi fasilitator yang mengasah kemampuan berpikir kritis, refleksi etis, dan kesadaran budaya siswa.
Integrasi AI dalam kelas menuntut penguatan identitas profesional guru agar mereka tidak terjebak dalam ketergantungan berlebihan pada teknologi.
Guru memegang kendali untuk memastikan bahwa penggunaan AI tetap berada dalam koridor etika dan mendukung perkembangan mental siswa secara sehat.***




