POJOKSATU.id - Peribahasa merupakan salah satu kekayaan bahasa Indonesia yang digunakan untuk menyampaikan pesan, nasihat, dan petuah secara bijaksana.

Meski susunannya singkat, peribahasa sering mengandung makna mendalam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan mengiaskan maksud tertentu. Dalam pengertian ini, peribahasa juga mencakup bidal, ungkapan, dan perumpamaan.

Daya tarik peribahasa terletak pada penggunaan bahasa yang ringkas, padat, dan kaya makna.

Sebagian peribahasa menggunakan perbandingan, metafora, ironi, atau persajakan untuk menyampaikan pesan agar mudah diingat.

Peribahasa dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, lingkungan keluarga, hingga pembelajaran di sekolah.

Memahaminya tidak hanya menambah kosakata, tetapi juga membantu mengenali nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Contoh Peribahasa Indonesia dan Artinya

Berikut kumpulan peribahasa Indonesia beserta maknanya yang dapat dipelajari.

A. Peribahasa tentang Kehidupan dan Rezeki

  1. Ada air ada ikan: Di mana pun kita tinggal, rezeki akan selalu ada.

  2. Ada gula ada semut: Di tempat yang banyak kesenangan atau keuntungan, banyak orang akan datang.

  3. Ada harga ada rupa: Kualitas suatu barang biasanya sebanding dengan harganya.

  4. Besar pasak daripada tiang: Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.

  5. Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai: Hidup hemat dapat membawa kesejahteraan, sedangkan rajin belajar membuat seseorang pandai.

  6. Harapkan guntur di langit, air di tempayan dicurahkan: Mengharapkan sesuatu yang belum pasti hingga melepaskan sesuatu yang sudah dimiliki.

  7. Menggantang asap: Melakukan pekerjaan yang sia-sia.

  8. Nasi sudah menjadi bubur: Sesuatu sudah terlanjur terjadi dan tidak dapat diperbaiki seperti semula.

  9. Tambah air tambah sagu: Semakin banyak kebutuhan atau permintaan, semakin besar pula biaya yang diperlukan.

  10. Tiada rotan akar pun jadi: Jika tidak mendapatkan sesuatu yang terbaik, pilihan lain yang tersedia dapat dimanfaatkan.

B. Peribahasa tentang Sikap dan Perilaku

  1. Air beriak tanda tak dalam: Orang yang banyak bicara belum tentu memiliki banyak pengetahuan.

  2. Air tenang menghanyutkan: Orang yang terlihat pendiam bisa memiliki pengetahuan atau kemampuan yang besar.

  3. Ada udang di balik batu: Ada maksud tersembunyi di balik suatu tindakan.

  4. Bagai musang berbulu ayam: Orang jahat yang berpura-pura baik.

  5. Bagai pungguk merindukan bulan: Mengharapkan sesuatu yang sulit atau mustahil dicapai.

  6. Bagai ayam dibawa ke lampuk: Seseorang yang terlihat heran atau kebingungan.

  7. Katak hendak jadi lembu: Orang yang ingin menyamai orang lain yang lebih tinggi kedudukan atau kekayaannya, sering disertai sikap sombong.

  8. Kecil-kecil cabai rawit: Meski kecil, seseorang memiliki kecerdikan atau keberanian yang besar.

  9. Lain di mulut lain di hati: Perkataan seseorang berbeda dengan isi hatinya.

  10. Lidah tak bertulang: Mudah mengatakan atau menjanjikan sesuatu, tetapi belum tentu melaksanakannya.

  11. Pandai berminyak air: Pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksud tertentu.

  12. Tong kosong nyaring bunyinya: Orang yang kurang pengetahuan sering berbicara seolah-olah mengetahui banyak hal.

  13. Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang: Orang berilmu biasanya tidak banyak menyombongkan diri, sedangkan orang yang kurang berpengetahuan bisa banyak bicara.

  14. Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi: Orang yang semakin tua justru semakin menunjukkan perilaku yang dianggap berlebihan atau seperti anak muda.

C. Peribahasa tentang Nasihat dan Pendidikan

  1. Bahasa menunjukkan bangsa: Tutur kata seseorang dapat mencerminkan tabiat dan kepribadiannya.

  2. Berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi: Belajar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar memperoleh hasil yang baik.

  3. Bagaimana bunyi gendang, begitulah tarinya: Sesuatu harus dilakukan sesuai dengan keadaan atau ketentuan yang berlaku.

  4. Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan: Suatu persoalan sebaiknya dibicarakan atau dimusyawarahkan terlebih dahulu.

  5. Jangan disesar gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia: Sesuatu yang sudah pasti hendaknya dikerjakan dengan sabar dan tidak tergesa-gesa.

  6. Lancar kaji karena diulang, pasah jalan karena diturut: Kemampuan akan meningkat jika terus dilatih dan dipraktikkan.

  7. Sedap jangan ditelan, pahit jangan segera dimuntahkan: Pertimbangkan sesuatu dengan baik sebelum mengambil keputusan.

  8. Sehari selembar benang, setahun selembar kain: Pekerjaan yang dilakukan sedikit demi sedikit dengan tekun akan menghasilkan sesuatu.

  9. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna: Pertimbangkan akibat suatu tindakan sebelum melakukannya.

  10. Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri: Belajarlah mengendalikan diri dan meninggalkan kebiasaan bermalas-malasan.

  11. Yang buta peniup lesung, yang peka pelepas bedil: Setiap orang memiliki kegunaan masing-masing jika ditempatkan sesuai kemampuannya.

D. Peribahasa tentang Persahabatan dan Kebersamaan

  1. Duduk sama rendah, tegak sama tinggi: Memiliki kedudukan atau martabat yang setara.

  2. Jauh di mata, dekat di hati: Dua orang tetap merasa dekat meskipun tinggal berjauhan.

  3. Gigi dengan lidah ada kalanya bergigit juga: Orang yang dekat atau bersahabat pun terkadang mengalami perselisihan.

  4. Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh: Selalu seiya sekata dalam menghadapi keadaan.

  5. Tertangguk pada ikan sama menguntungkan, tertanggung pada rangsang sama mengiraikan: Keuntungan dan kesusahan dihadapi serta ditanggung bersama.

  6. Seorang makan cempedak, semua kena getahnya: Kesalahan satu orang dapat membuat orang lain ikut terkena akibatnya.

  7. Kepala sama berbulu, pendapat berlain-lainan: Setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda.

  8. Lain dulang lain kaki, lain orang lain hati: Setiap orang memiliki kehendak, perasaan, dan pemikiran yang berbeda.

  9. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung: Kita harus menghormati adat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal.

  10. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah: Selama hidup, seseorang perlu menghormati adat kebiasaan masyarakat.

E. Peribahasa tentang Kebaikan dan Keburukan

  1. Air susu dibalas dengan air tuba: Kebaikan dibalas dengan kejahatan.

  2. Ada asap ada api: Setiap kejadian biasanya memiliki penyebab.

  3. Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam: Rahasia atau sesuatu yang disembunyikan tidak selamanya dapat ditutupi.

  4. Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak: Kesalahan sendiri yang besar tidak disadari, tetapi kesalahan kecil orang lain terlihat.

  5. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari: Perilaku bawahan sering meniru perilaku atasannya.

  6. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga: Kesalahan kecil dapat merusak kebaikan yang telah dibangun.

  7. Lempar batu sembunyi tangan: Melakukan sesuatu, lalu berpura-pura tidak mengetahui akibatnya.

  8. Menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri: Perbuatan buruk dapat berbalik merugikan diri sendiri.

  9. Menohok teman seiring dalam lipatan: Mencelakakan teman sendiri secara diam-diam.

  10. Musang berbulu ayam: Orang jahat yang menyamar sebagai orang baik.

  11. Musuh dalam selimut: Musuh yang berasal dari lingkungan atau kelompok sendiri.

  12. Panas setahun hilang oleh hujan sehari: Kebaikan yang lama dilakukan dapat terlupakan karena satu kesalahan.

  13. Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga: Sepandai apa pun seseorang, suatu saat dapat melakukan kesalahan.

  14. Serigala berbulu domba: Orang yang terlihat baik atau tidak berbahaya, padahal memiliki niat buruk.

  15. Tangan merentang bahu memikul: Siapa yang berani berbuat harus berani bertanggung jawab.

F. Peribahasa tentang Kesabaran dan Perjuangan

  1. Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam: Setiap tahap kehidupan memiliki tantangan yang harus dihadapi.

  2. Esa hilang, dua terbilang: Terus berusaha dengan tekad kuat hingga tujuan tercapai.

  3. Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai: Keinginan yang besar terkadang tidak dapat diwujudkan karena keterbatasan.

  4. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih: Tidak semua kejadian dalam hidup dapat dikendalikan manusia.

  5. Ombak kecil jangan diabaikan: Masalah kecil jangan dianggap remeh karena dapat berkembang menjadi persoalan besar.

  6. Orang mau seribu daya, bukan seribu dalih: Orang yang sungguh-sungguh ingin mencapai tujuan akan mencari jalan, bukan alasan.

  7. Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera: Pengalaman mengajarkan seseorang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

  8. Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul: Orang yang mengalami penderitaan merasakan beban lebih berat daripada orang yang hanya melihatnya.

  9. Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga: Kemewahan tidak selalu membuat seseorang bahagia jika hidupnya terkekang.

  10. Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting: Sesuatu yang berlebihan atau terlalu sedikit dapat membawa akibat kurang baik.

G. Peribahasa tentang Perselisihan dan Risiko

  1. Bermain air basah, bermain api hangus: Setiap tindakan memiliki risiko dan akibat.

  2. Dalam lautan dapat diduga, dalam hati siapa tahu: Isi hati seseorang tidak mudah diketahui.

  3. Di laut boleh diajak, di hati siapa tahu: Seseorang mungkin terlihat terbuka, tetapi isi hatinya belum tentu dapat diketahui.

  4. Digenggam takut mati, dilepas takut terbang: Menghadapi pilihan yang sama-sama berisiko dan membingungkan.

  5. Kalah jadi abu, menang jadi arang: Perselisihan dapat merugikan kedua belah pihak, baik yang menang maupun yang kalah.

  6. Lepas dari mulut harimau, jatuh ke mulut buaya: Terlepas dari satu bahaya, tetapi kemudian menghadapi bahaya yang lebih besar.

  7. Jika ditampar sekali kena denda emas, dua kali setampar emas pula, lebih baik ditampar betul-betul: Menggambarkan keadaan ketika akibat dari perbuatan yang berbeda tetap sama beratnya.

  8. Menambak gunung, menggarami air laut: Memberikan bantuan kepada pihak yang sebenarnya tidak memerlukannya.

  9. Makan hati berulam rasa: Menderita karena perbuatan orang yang disayangi.

  10. Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja: Menunggu bantuan dari orang yang sebenarnya tidak dapat memberikan bantuan.

H. Peribahasa tentang Harga Diri dan Kehidupan Sosial

  1. Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah: Menggambarkan sikap yang lebih memilih kematian daripada menanggung rasa malu yang berat.

  2. Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang: Menggambarkan tekad untuk berjuang daripada menanggung kehinaan.

  3. Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri: Negeri sendiri tetap memiliki nilai meskipun negeri lain tampak lebih menguntungkan.

  4. Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri: Sebaik apa pun kehidupan di perantauan, negeri sendiri tetap memiliki tempat istimewa.

  5. Datang tampak muka, pulang tampak punggung: Saat datang dan pergi, hendaknya berpamitan atau memberi tahu.

  6. Elok basa akan kekal hidup, elok budi akan bekal mati: Orang yang baik tutur kata dan budi pekertinya akan dikenang.

  7. Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua: Kebaikan seseorang akan terus dikenang meskipun ia telah meninggal.

  8. Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan: Ketulusan dan kebaikan hati dapat terlihat melalui perilaku.

  9. Membelah dada melihat hati: Ungkapan untuk menyatakan kesungguhan atau menunjukkan isi hati.

  10. Membagi sama adil, memotong sama panjang: Membagi atau mengambil keputusan harus dilakukan secara adil.

I. Peribahasa tentang Pengalaman dan Pengetahuan

  1. Bak bergendang ke Sirukam, perut kenyang emas dapat: Menggambarkan keadaan ketika seseorang mendapat keuntungan atau imbalan dari kegiatan yang dilakukan.

  2. Bagai garam jatuh ke laut: Nasihat atau pemberian yang tidak memberikan pengaruh berarti.

  3. Bagai galah di tengah arus: Selalu berada dalam keadaan susah atau mengalami kemalangan.

  4. Bagai galah dijual: Harta kekayaan telah habis atau binasa.

  5. Bagai ayam bertelur di padi: Menggambarkan seseorang yang hidup dalam kemewahan.

  6. Bagai ayam lepas bertaji: Menggambarkan keadaan yang serba berbahaya.

  7. Barang siapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya: Orang yang berniat mencelakakan orang lain dapat terkena akibat perbuatannya sendiri.

  8. Dahan pembaji batang: Orang kepercayaan yang menyalahgunakan harta milik orang yang mempercayainya.

  9. Dahulu bajak daripada jawi: Orang muda yang belum berpengalaman mendahului orang tua yang lebih berpengalaman.

  10. Dahulu duduk dari cangkung: Cepat marah sebelum mengetahui perkara yang sebenarnya.

  11. Dagangan bersambut yang dia jual: Menceritakan sesuatu berdasarkan cerita yang diperoleh dari orang lain.

  12. Lubuk akal tepian ilmu: Seseorang yang dikenal memiliki banyak pengetahuan.

  13. Tahu asam garamnya: Memahami seluk-beluk suatu hal karena berpengalaman.

  14. Luka sudah hilang, parut tinggal juga: Perselisihan mungkin berakhir, tetapi bekasnya masih dapat tertinggal dalam hati.

  15. Menang jadi arang, kalah jadi abu: Kemenangan maupun kekalahan dalam perselisihan dapat berakhir dengan kerugian.

  16. Murah di mulut, mahal di timbangan: Mudah berjanji, tetapi sulit menepati janji.

J. Peribahasa tentang Perbedaan dan Keadaan

  1. Cuaca di langit pertanda akan panas, gabak di hulu tanda akan hujan: Setiap kejadian memiliki tanda atau petunjuk tertentu.

  2. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya: Setiap daerah memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda.

  3. Seperti cacing kepanasan: Keadaan seseorang yang tidak tenang dan selalu gelisah.

  4. Seperti durian dengan mentimun: Orang yang lemah menghadapi pihak yang jauh lebih kuat.

  5. Seperti lebah, mulut bawa madu, pantat bawa sengat: Seseorang yang tampak menyenangkan, tetapi dapat menyakiti orang lain.

  6. Membelah dada melihat hati: Mengungkapkan kesungguhan untuk membuktikan ketulusan.

  7. Menang jadi arang, kalah jadi abu: Kedua pihak dapat sama-sama menderita akibat pertikaian.

  8. Seludang menolak mayang: Sebutan bagi orang yang sombong dan melupakan pihak yang berjasa dalam hidupnya.

  9. Seperti burung di dalam sangkar: Seseorang yang merasa hidupnya terkekang.

  10. Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi: Menggambarkan bahaya yang berkembang dan sulit dihentikan.

  11. Bagaikan anak sepat ke tohor: Menggambarkan seseorang yang bermalas-malasan di tempat orang lain.

  12. Bagaikan ayam bertelur di padi: Menggambarkan kehidupan yang serba berkecukupan atau mewah.

  13. Menyusun kata untuk mencapai maksud: Berkaitan dengan kecakapan berbicara untuk memperoleh tujuan tertentu.

  14. Lancar kaji karena diulang, pasah jalan karena diturut: Pengulangan dan latihan membuat seseorang semakin terampil.

K. Peribahasa tentang Kekurangan dan Tanggung Jawab

  1. Tak ada gading yang tak retak: Tidak ada sesuatu yang benar-benar sempurna.

  2. Tangan merentang bahu memikul: Setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

  3. Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga: Kemewahan tidak menghilangkan perasaan terkekang.

  4. Seorang makan cempedak, semua kena getahnya: Perbuatan satu orang bisa berdampak kepada banyak orang.

  5. Pandai berminyak air: Pandai berbicara untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.

  6. Menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri: Perbuatan buruk dapat mencoreng diri sendiri.

  7. Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga: Setiap orang memiliki kelemahan dan dapat melakukan kesalahan.

  8. Air susu dibalas dengan air tuba: Kebaikan yang dibalas dengan keburukan.

  9. Ada asap ada api: Suatu peristiwa biasanya memiliki penyebab.

  10. Besar pasak daripada tiang: Pengeluaran yang melebihi pendapatan.

  11. Nasi sudah menjadi bubur: Sesuatu yang telah terjadi dan tidak bisa dikembalikan seperti semula.

  12. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna: Berpikir matang sebelum bertindak agar tidak menyesal.

Peribahasa, Warisan Bahasa yang Perlu Dilestarikan

Peribahasa bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya terdapat nilai moral, pengalaman, dan pandangan hidup yang masih relevan hingga sekarang.

Memahami peribahasa juga membantu seseorang menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih kaya dan tepat. Pesan yang disampaikan secara kiasan dapat membuat nasihat terasa lebih halus, menarik, dan mudah diingat.

Karena itu, peribahasa perlu terus dikenalkan kepada generasi muda, baik melalui pembelajaran di sekolah maupun percakapan sehari-hari.

Dengan mempelajarinya, masyarakat turut menjaga kekayaan bahasa Indonesia sekaligus merawat kearifan yang terkandung di dalamnya. ***