POJOKSATU.id - Ikrar Sumpah Pemuda kembali bergema dalam peringatan satu tahun program Sekolah Rakyat yang digelar di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026).

Momen tersebut terasa istimewa ketika seorang siswa Sekolah Rakyat bernama Muhammad Yusuf maju ke depan untuk memandu pembacaan ikrar yang diikuti para hadirin.

Kegiatan itu berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.

Acara dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, para siswa, guru, serta undangan dari berbagai daerah.

Sebelum pembacaan ikrar, para hadirin menyanyikan lagu Kebyar-kebyar ciptaan Gombloh. Setelah itu, Yusuf meminta seluruh peserta berdiri dan mengikuti pembacaan Sumpah Pemuda.

"Bapak dan Ibu, mohon berdiri. Mohon ikuti saya," kata Yusuf.

Hadirin kemudian mengikuti ikrar yang dibacakan Yusuf, dimulai dengan pengakuan terhadap satu tanah air, Indonesia.

"Sumpah Pemuda. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia," ujar Yusuf.

Pembacaan dilanjutkan dengan ikrar untuk mengakui satu bangsa dan menjunjung bahasa persatuan.

"Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia," lanjutnya.

Yusuf menutup rangkaian pembacaan dengan ucapan, "Selamat Hari Sumpah Pemuda, jayalah selalu Indonesia-ku."

265 Sekolah Rakyat Selesai Dibangun

Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat juga menjadi momentum bagi pemerintah untuk menyampaikan perkembangan program pendidikan yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa hingga Oktober 2026, sebanyak 265 Sekolah Rakyat telah selesai dibangun. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di 131 kabupaten/kota di Indonesia.

Pemerintah juga menyebut lebih dari 45 ribu anak telah memperoleh kesempatan kembali mengenyam pendidikan melalui program tersebut.

Sekolah Rakyat tidak hanya menyediakan fasilitas belajar. Para siswa juga mendapatkan tempat tinggal, sarana olahraga, makanan bergizi, dan layanan kesehatan.

Program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Pemerintah berharap mereka tetap memiliki kesempatan belajar, mengembangkan potensi, dan membangun masa depan yang lebih baik.

Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah juga berupaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi dengan memperluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat rentan.

Sekolah Rakyat Menjangkau Anak yang Kesulitan Mengakses Pendidikan

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya menyampaikan bahwa jumlah siswa Sekolah Rakyat diperkirakan mencapai sekitar 45 ribu orang pada 2026.

Jumlah tersebut meningkat setelah pemerintah menambah alokasi peserta didik untuk tahun ajaran baru.

Pada Juli 2026, Kemensos menyebut penambahan sekitar 30 ribu siswa pada tahun tersebut, melengkapi lebih dari 15 ribu siswa yang telah mengikuti program sebelumnya.

Sekolah Rakyat menyasar anak-anak dari keluarga rentan, terutama mereka yang belum bersekolah, putus sekolah, atau berisiko putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.

Penjangkauan calon siswa dilakukan dengan memperhatikan data sosial ekonomi dan kondisi keluarga.

Dengan pendekatan ini, program diharapkan dapat menjangkau anak-anak yang membutuhkan dukungan agar bisa kembali memperoleh pendidikan.

Sekolah Rakyat juga menerapkan sistem pendidikan berasrama. Selain mengikuti pembelajaran, siswa memperoleh pendampingan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendukung perkembangan akademik, karakter, dan keterampilan sosial.

Sulawesi Selatan Targetkan 16 Sekolah Rakyat

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan bahwa sembilan Sekolah Rakyat telah dibangun di wilayahnya. Pemerintah daerah berencana menambah tujuh sekolah sehingga jumlahnya menjadi 16 unit.

Dengan asumsi kapasitas sekitar 1.000 siswa per sekolah, perluasan tersebut diproyeksikan membuka kesempatan pendidikan bagi hingga 16 ribu anak dari keluarga kurang mampu.

Andi juga menyampaikan bahwa anggaran pembangunan Sekolah Rakyat tahap pertama di Sulawesi Selatan mencapai Rp2,2 triliun. Pemerintah provinsi menyatakan akan terus mendukung pelaksanaan program tersebut.

Dukungan lainnya berupa penyediaan perlengkapan sekolah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, telah menyerahkan 2.000 seragam Pramuka lengkap dengan sepatu dan tas bagi siswa Sekolah Rakyat.

Menurut Andi, program ini diharapkan dapat memperluas kesempatan pendidikan sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu berkontribusi bagi Indonesia pada 2045.

Siswa Sekolah Rakyat Raih Prestasi Internasional dan Nasional

Satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat juga diwarnai capaian siswa dalam berbagai bidang.

Dalam peringatan di Makassar, Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa siswa Sekolah Rakyat telah meraih 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi tingkat nasional. Selain itu, lebih dari 1.100 siswa mencatatkan prestasi di bidang olahraga, seni, dan sains.

Menurut Gus Ipul, capaian siswa tidak hanya diukur melalui medali atau penghargaan. Kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan memiliki cita-cita juga menjadi bagian penting dari keberhasilan program tersebut.

Pengembangan siswa dilakukan melalui berbagai kegiatan yang menyesuaikan minat dan bakat, termasuk olahraga, seni, sains, bahasa asing, serta kegiatan kepramukaan.

Pemerintah berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengenali kemampuan diri dan mengembangkan potensi mereka.

Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa kesempatan memperoleh pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun masa depan bangsa. ***