POJOKSATU.id - Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka, para pemuda dari berbagai daerah telah memikirkan satu hal besar: bagaimana menyatukan masyarakat yang memiliki latar belakang suku, bahasa, dan budaya berbeda menjadi satu bangsa.

Pada masa penjajahan Belanda, perjuangan melawan kolonialisme masih banyak bergerak melalui organisasi dan kepentingan kedaerahan.

Namun, di tengah tumbuhnya kesadaran nasional, muncul keyakinan bahwa kemerdekaan akan lebih mungkin diperjuangkan jika seluruh rakyat bersatu.

Dari semangat itulah lahir sebuah peristiwa penting pada 28 Oktober 1928.

Para pemuda yang berkumpul dalam Kongres Pemuda II menyatakan tekad untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

Ikrar tersebut kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Di balik lahirnya pernyataan bersejarah itu, terdapat sosok Mohammad Yamin, seorang pemuda asal Sumatra Barat yang berperan dalam merumuskan naskahnya.

Lantas, siapa sebenarnya Mohammad Yamin? Bagaimana perjalanan Kongres Pemuda II hingga melahirkan Sumpah Pemuda?

Mohammad Yamin, Sosok di Balik Naskah Sumpah Pemuda

Mohammad Yamin, yang juga dikenal dengan penulisan Muhammad Yamin, merupakan tokoh pergerakan nasional yang memiliki perhatian besar terhadap bahasa, sastra, sejarah, dan cita-cita kebangsaan.

Ia lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat, pada 23 Agustus 1903. Ayahnya bernama Oesman gelar Bagindo Khatib, sedangkan ibunya bernama Siti Saadah.

Sejak muda, Yamin menempuh pendidikan di sejumlah sekolah dengan latar pembelajaran yang berbeda. Ia pernah bersekolah di Volkschool, kemudian melanjutkan pendidikan ke Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS pada 1918, Yamin melanjutkan perjalanan pendidikannya ke sejumlah sekolah, termasuk Algemeene Middelbare School (AMS) di Solo. Di sekolah tersebut, ia mendalami bidang sastra Timur.

Pengalaman pendidikan dan pergaulannya dengan kalangan terpelajar turut membentuk pemikirannya tentang identitas bangsa.

Yamin tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, tetapi juga sebagai salah satu tokoh muda yang mendorong tumbuhnya kesadaran nasional.

Ia menjadi bagian dari Jong Sumatranen Bond, organisasi pemuda yang menghimpun kaum muda asal Sumatra.

Pada masa itu, organisasi-organisasi pemuda mulai menyadari bahwa identitas kedaerahan tidak harus menjadi penghalang untuk membangun persatuan yang lebih luas.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi lahirnya gagasan Indonesia sebagai tanah air dan bangsa yang satu.

Kongres Pemuda II, Pertemuan yang Mengubah Sejarah

Sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan, para pemuda Indonesia telah lebih dahulu mengupayakan persatuan melalui berbagai pertemuan dan organisasi.

Salah satu tonggak awalnya adalah Kongres Pemuda I pada 1926. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses panjang untuk mempertemukan gagasan para pemuda yang berasal dari berbagai daerah.

Dua tahun kemudian, semangat persatuan kembali dibawa ke dalam Kongres Pemuda II yang berlangsung di Batavia, kini Jakarta, pada 27-28 Oktober 1928.

Kongres tersebut mempertemukan perwakilan berbagai organisasi pemuda, antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, dan Jong Ambon.

Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda. Namun, di tengah perbedaan itu, terdapat cita-cita yang sama: membangun persatuan untuk memperjuangkan masa depan bangsa.

Kongres Pemuda II berlangsung dalam tiga kali rapat di tempat yang berbeda.

Rapat pertama diselenggarakan pada Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Batavia.

Rapat kedua berlangsung pada Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop.

Adapun rapat ketiga digelar pada hari yang sama di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia. Bangunan tersebut kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Dalam rangkaian pertemuan itu, para peserta membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan cita-cita persatuan.

Pembahasan mengenai tanah air, bangsa, dan bahasa menjadi bagian penting dari upaya menyatukan pemikiran para pemuda.

Mereka tidak lagi hanya berbicara tentang kepentingan organisasi atau daerah masing-masing. Ada gagasan yang lebih besar yang ingin diwujudkan: Indonesia sebagai satu kesatuan.

Bagaimana Mohammad Yamin Merumuskan Sumpah Pemuda?

Di antara para peserta kongres, Mohammad Yamin memiliki peran penting dalam perumusan naskah Sumpah Pemuda.

Yamin dikenal sebagai sekretaris Kongres Pemuda II sekaligus perwakilan Jong Sumatranen Bond. Ia ikut merumuskan gagasan yang kemudian menjadi ikrar kebangsaan tersebut.

Naskah itu memuat tiga pokok pernyataan yang saling berkaitan, yakni pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan.

Ketiganya bukan sekadar rangkaian kalimat. Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang para pemuda yang ingin menempatkan identitas Indonesia di atas perbedaan kedaerahan.

Dalam sejarah yang dikenal luas, Mohammad Yamin disebut sebagai perumus naskah Sumpah Pemuda, sedangkan Soegondo Djojopoespito, yang menjabat sebagai ketua kongres, membacakannya.

Peran keduanya berada dalam satu rangkaian peristiwa yang sama.

Yamin berperan dalam penyusunan rumusan ikrar, sementara Soegondo memimpin jalannya kongres dan membacakan naskah tersebut.

Dari ruang pertemuan itulah, gagasan persatuan mendapatkan bentuk yang tegas. Para pemuda menyatakan bahwa tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia merupakan identitas bersama yang harus dijunjung.

Isi Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda terdiri atas tiga pernyataan yang menegaskan tekad para pemuda untuk bersatu.

Berikut isi naskahnya dalam ejaan bahasa Indonesia modern:

Pertama:

Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertumpah darah yang satu,
tanah air Indonesia.

Kedua:

Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku berbangsa yang satu,
bangsa Indonesia.

Ketiga:

Kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung bahasa persatuan,
bahasa Indonesia.

Naskah tersebut menjadi salah satu pernyataan paling penting dalam perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia.

Melalui tiga ikrar itu, para pemuda menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar nama wilayah yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah.

Indonesia adalah tanah air dan bangsa yang hendak dibangun bersama, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. ***