OJOKSATU.id - Bulan Bahasa dan Sastra menjadi salah satu momentum yang bisa dimanfaatkan sekolah untuk membuat kegiatan literasi lebih menarik bagi siswa.
Di Indonesia, Bulan Bahasa dan Sastra diselenggarakan setiap Oktober.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyebut kegiatan tersebut telah dikembangkan sejak 1980 dan berkaitan erat dengan peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Karena itu, kegiatan Bulan Bahasa 2026 tidak harus selalu berupa lomba pidato, membaca puisi, atau cerdas cermat.
Sekolah bisa menggabungkan kemampuan berbahasa dengan kreativitas, teknologi digital, budaya daerah, kerja sama, hingga kemampuan menyampaikan gagasan.
Baca Juga: Ancaman Pemalsu Dokumen SLHS Bisa 8 Tahun Penjara, Yakin Cuma 6 Yang Dipalsukan?
Nah, berikut 30 ide lomba yang bisa disesuaikan untuk jenjang SD, SMP, maupun SMA.
1. Musikalisasi Puisi
Siswa tidak hanya membacakan puisi, tetapi menggabungkannya dengan musik, vokal, perkusi sederhana, atau beatbox.
Tema bisa diarahkan pada persahabatan, lingkungan, budaya, bahasa persatuan, atau semangat Sumpah Pemuda.
Untuk SD, formatnya dapat dibuat sederhana. Sementara SMP dan SMA bisa diberi ruang untuk mengaransemen musik secara lebih kreatif.
2. Pidato Tiga Bahasa
Peserta menyampaikan pidato menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah.
Tidak harus membagi waktu secara sama rata. Panitia dapat menentukan bagian tertentu yang wajib menggunakan masing-masing bahasa.
3. Cipta Puisi Spontan
Panitia memberikan tiga kata kunci, misalnya "bahasa", "merdeka", dan "digital".
Peserta kemudian membuat puisi dalam waktu 10–15 menit.
Lomba ini bisa menjadi cara sederhana untuk menguji kreativitas sekaligus kemampuan mengolah kata.
4. Mendongeng Digital
Peserta membawakan cerita rakyat dengan dukungan visual berupa presentasi, ilustrasi digital, atau video sederhana.
Untuk siswa SD, durasinya bisa dibuat lebih singkat. SMP dan SMA dapat diberi tantangan berupa adaptasi cerita rakyat ke konteks kehidupan masa kini.
5. Debat Bahasa
Lomba ini cocok untuk SMP dan SMA.
Contoh mosi yang bisa digunakan antara lain "Bahasa gaul memperkaya bahasa Indonesia" atau "Konten media sosial perlu menggunakan bahasa Indonesia yang baik".
Penilaian dapat mencakup argumentasi, ketepatan data, kemampuan menyanggah, struktur penyampaian, dan penggunaan bahasa.
Baca Juga: Beasiswa Garuda 2026, Ini Daftar 26 Universitas di AS, Cek Kemungkinan Penambahan Kampus
6. Resensi Buku Satu Menit
Peserta membuat video vertikal maksimal 60 detik untuk memperkenalkan dan mengulas buku yang dibacanya.
Format ini dapat dibuat seperti konten media sosial, tetapi tetap harus memuat identitas buku, gambaran isi, alasan buku menarik, dan rekomendasi kepada penonton.
7. Menulis Cerpen 500 Kata
Peserta diberi tema yang sama, kemudian membuat cerita pendek dengan batas maksimal 500 kata.
Contoh tema: "Andai Bahasa Indonesia Tidak Ada", "Pesan dari Masa Depan", atau "Satu Kata yang Mengubah Hidupku".
8. Podcast Bahasa
Siswa membuat podcast berdurasi sekitar 5–10 menit.
Topiknya bisa berupa bahasa gaul, bahasa daerah, pengalaman membaca buku, istilah di media sosial, perkembangan bahasa di era AI, atau cerita di balik sebuah kata.
Baca Juga: Cara Cek Rapor Pendidikan 2026 Terbaru, Link Resmi, Login Kepala Sekolah dan Cara Download
9. Vlog Jelajah Bahasa Daerah
Peserta berkeliling sekolah atau lingkungan sekitar untuk mencari kosakata bahasa daerah yang mulai jarang digunakan.
Setiap kata dapat dilengkapi arti, contoh penggunaan, dan cerita singkat dari narasumber.
Kegiatan seperti ini sekaligus bisa menjadi dokumentasi kekayaan bahasa daerah.
10. Desain Poster Tipografi
Peserta membuat poster digital bertema bahasa, literasi, Sumpah Pemuda, atau budaya membaca.
Sekolah dapat menggunakan aplikasi desain yang mudah diakses siswa, sementara penilaian berfokus pada pesan, keterbacaan, kreativitas, dan komposisi.
11. Meme Edukasi Bahasa
Meme tidak hanya untuk hiburan.
Peserta dapat membuat meme yang menjelaskan kesalahan umum dalam penggunaan bahasa, misalnya perbedaan "di mana" dan "dimana", "ke mana" dan "kemana", atau penggunaan tanda baca.
Materi lomba sebaiknya mengacu pada pedoman resmi seperti Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V.
Baca Juga: Rekrutmen Psikolog TNI Gelombang II 2026, Simak Syarat, Formasi dan Cara Daftar
12. Esai Populer "Bahasa di Era AI"
Siswa SMA atau SMP dapat diminta menulis esai ringan mengenai perubahan cara manusia menggunakan bahasa setelah hadirnya kecerdasan artifisial.
Topik dapat mencakup chatbot, penerjemahan otomatis, penulisan dengan AI, hingga tantangan menjaga kualitas bahasa di ruang digital.
13. Kaligrafi Aksara Daerah
Peserta membuat karya menggunakan aksara daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, Bugis-Lontara, atau aksara daerah lain yang relevan dengan wilayah sekolah.
Panitia sebaiknya menyediakan referensi aksara yang benar dan melibatkan guru atau pihak yang memahami aksara tersebut sebagai juri.
14. Dubbing Film Bisu
Peserta memberikan dialog berbahasa Indonesia pada video tanpa suara.
Tantangannya bukan hanya membuat dialog lucu, tetapi menyesuaikan ekspresi, karakter, alur cerita, dan pilihan kata dengan adegan.
Baca Juga: Ortu Wajib Tahu, TKA, AN, dan Sulingjar 2026 untuk Siapa? Bagaimana Hasil Evaluasi Itu Digunakan?
15. Stand Up Comedy Bahasa
Peserta menyampaikan materi komedi yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari menggunakan bahasa.
Panitia perlu menetapkan batasan materi sejak awal, terutama terkait penghinaan terhadap fisik, suku, agama, kondisi pribadi, atau kelompok tertentu.
16. Mading 3D Bulan Bahasa
Setiap kelas membuat majalah dinding dengan konsep tiga dimensi.
Isinya bisa berupa puisi, cerpen, komik, teka-teki bahasa, kosakata daerah, profil penulis, hingga rekomendasi buku.
17. Yel-Yel Bahasa
Setiap kelas membuat yel-yel dengan memasukkan pantun, permainan kata, atau kosakata daerah.
Lomba ini cocok untuk kegiatan bersama karena dapat melibatkan banyak siswa sekaligus.
Baca Juga: Rotasi Besar Polresta Karawang, Sejumlah Pejabat Utama Berganti Posisi
18. Fashion Show Pakaian Adat dan Bahasa Daerah
Peserta mengenakan pakaian adat dan memperkenalkan diri atau menjelaskan pakaian yang dikenakan menggunakan bahasa daerah.
Setelah itu, peserta dapat menyampaikan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Dengan format tersebut, kegiatan tidak berhenti pada parade pakaian, tetapi juga mengangkat bahasa dan budaya daerah.
19. Drama Sejarah Sumpah Pemuda
Siswa mementaskan drama yang terinspirasi dari peristiwa Kongres Pemuda II 1928.
Panitia sebaiknya memberikan ruang kreativitas dalam pementasan, tetapi tetap meminta peserta membedakan fakta sejarah dengan bagian dramatisasi.
20. Lomba Cerdas Cermat Bahasa
Materi dapat mencakup kosakata, peribahasa, makna kata, EYD Edisi V, sastra, bahasa daerah, dan pengetahuan kebahasaan.
Untuk soal kebahasaan, sekolah dapat merujuk EYD Edisi V dan KBBI Daring sebagai sumber resmi.
Baca Juga: 176 Mahasiswa Terpilih Jadi Tanoto Scholars 2026, Disiapkan Jadi Pemimpin Masa Depan Indonesia
21. Kelas dengan Sudut Literasi Terbaik
Setiap kelas membuat sudut literasi yang berisi koleksi bacaan, rekomendasi buku, karya siswa, kosakata pilihan, atau papan ekspresi.
Penilaian bisa mencakup kreativitas, keterbacaan, pemanfaatan ruang, kebermanfaatan, dan keterlibatan siswa.
22. Baca Cepat dan Paham
Peserta diberikan satu teks, misalnya berita atau artikel populer, untuk dibaca dalam waktu tertentu.
Setelah itu, peserta menjawab pertanyaan yang menguji pemahaman isi, informasi tersurat, makna kata, dan kemampuan menarik kesimpulan.
23. Scrabble Bahasa Indonesia
Gunakan permainan susun kata dengan kosakata bahasa Indonesia.
Jika ingin dibuat lebih meriah, sekolah dapat membuat papan permainan berukuran besar dan menjadikannya pertandingan antarkelompok.
Baca Juga: YOGREEN UMS Lolos KMI Expo XVII 2026, Bawa Inovasi Yoghurt dari Ekstrak Daun Pakis
24. Teka-Teki Silang Bahasa Raksasa
Panitia membuat TTS berukuran besar di aula atau lapangan.
Petunjuk dapat berkaitan dengan kosakata, sastra, tokoh bahasa, peribahasa, budaya, dan bahasa daerah.
25. Surat untuk Penulis Favorit
Peserta menulis surat kepada penulis yang mereka sukai.
Alih-alih sekadar memuji, siswa dapat diminta menceritakan buku yang paling berkesan, tokoh favorit, atau pertanyaan yang ingin mereka ajukan kepada penulis.
26. Lomba Bahasa Isyarat
Lomba dapat berupa penyampaian cerita, puisi, lagu, atau pesan singkat menggunakan bahasa isyarat.
Agar tidak sekadar menjadi pertunjukan, sekolah sebaiknya menggandeng guru, komunitas, atau narasumber yang memahami bahasa isyarat.
Baca Juga: 21 Lowongan Magang BUMN di Magenta September 2026, Cek Posisi, Syarat dan Cara Daftar
27. Cipta dan Berbalas Pantun
Dua peserta saling berbalas pantun dengan tema tertentu.
Untuk tingkat SD, tema dapat dibuat ringan seperti persahabatan atau sekolah. Untuk SMP dan SMA, tema bisa diperluas menjadi lingkungan, teknologi, budaya, atau kehidupan remaja.
28. Reporter Cilik
Peserta berperan sebagai reporter yang melakukan wawancara dengan guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, atau siswa.
Tantangannya adalah membuat pertanyaan yang menarik, mendengarkan jawaban, mencatat informasi, lalu menyampaikannya kembali secara runtut.
29. Membaca Teks Bersejarah dengan Ekspresi
Peserta membacakan teks Sumpah Pemuda atau teks sejarah lain dengan memperhatikan artikulasi, intonasi, jeda, ekspresi, dan penghayatan.
Penilaian sebaiknya tidak hanya berdasarkan suara yang keras, tetapi juga ketepatan pembacaan dan pemahaman terhadap teks.
Baca Juga: TKA, ANBK, dan AKM 2026 Bedanya Apa? Jangan Gagal Paham, Cek Fungsi, Peserta, Jadwalnya
30. Kuis Kosakata Interaktif
Sekolah dapat menggunakan platform kuis digital untuk membuat pertandingan kosakata secara langsung.
Materinya bisa berupa padanan kata, lawan kata, makna kata, peribahasa, kata baku, tanda baca, dan pengetahuan sastra.
Jika fasilitas internet atau perangkat terbatas, format yang sama dapat dibuat secara luring menggunakan kartu soal dan papan skor.
Cara Membuat Bulan Bahasa 2026 Lebih Menarik
Dari 30 ide tersebut, sekolah tidak harus menjalankan semuanya.
Justru lebih efektif jika lomba dibagi berdasarkan karakter peserta.
- Untuk SD, kegiatan seperti mendongeng, pantun, mading, kuis kosakata, reporter cilik, dan fashion show bahasa daerah bisa lebih mudah diterapkan.
- Untuk SMP, sekolah dapat menambahkan podcast, vlog, debat sederhana, cerpen, desain poster, dan dubbing.
- Untuk SMA, format debat, esai, podcast, resensi buku, drama sejarah, stand up comedy, serta konten digital dapat dibuat lebih menantang.
Sekolah juga bisa menggabungkan lomba individu dengan lomba kelompok agar tidak hanya siswa yang percaya diri tampil di panggung yang memiliki kesempatan berpartisipasi.
Perhatikan Jadwal TKA dan Asesmen Nasional 2026
Ada satu hal penting untuk sekolah pada Oktober 2026.
Pelaksanaan Bulan Bahasa sebaiknya tidak mengganggu agenda asesmen nasional.
Berdasarkan jadwal terbaru Kemendikdasmen, pendaftaran TKA dan AN berlangsung 27 Juli–27 September 2026, simulasi 21–27 September, gladi bersih 5–18 Oktober, sedangkan pelaksanaan utama TKA dan AN berlangsung bertahap pada 26 Oktober–8 November 2026.
Pelaksanaan susulan dijadwalkan 16–29 November 2026.
Artinya, sekolah dapat mengatur kegiatan Bulan Bahasa secara bertahap, misalnya lomba karya digital dan lomba kelas pada awal atau pertengahan Oktober, kemudian menjadikan 28 Oktober sebagai salah satu momentum puncak kegiatan apabila jadwal sekolah memungkinkan.
Jangan memaksakan seluruh lomba selesai dalam satu hari. Pembagian kegiatan menjadi beberapa hari justru membuat siswa dan guru tidak terlalu terbebani. ***




