POJOKSATU.id - Sebanyak 115 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan mengikuti A.I. IoT Robotics Challenge (AIROC) 2026, kompetisi robotika berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) yang digelar di Grand Hermina Ballroom, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kompetisi yang berlangsung pada Sabtu (31/10/2026) tersebut diikuti 45 tim dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Menariknya, AIROC 2026 tidak berhenti pada kompetisi nasional di Jakarta. Ajang robotika ini berlanjut ke tingkat internasional yang dijadwalkan berlangsung di Vietnam pada 29 November 2026.
Mengusung tema "Synapse City - Road to Hanoi", kompetisi nasional mempertandingkan tiga kategori, yakni Explorer, Innovator, dan Master.
Dalam kompetisi ini, peserta ditantang mengembangkan dan menguji kemampuan robotika melalui konsep kota masa depan.
Mereka menggunakan teknologi Leanbot untuk mempelajari pemrograman, sensor, mekanisme robot, serta penerapan teknologi dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah dan institusi pendidikan, antara lain Head of the High School Learning Sub-Team, Directorate of Senior High School, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Devy Fadli Kurniawan.
Hadir pula President Director Politeknik SSR, Sandra Yap Dianggorobles; Pembina Industri Madya Ditjen KPAII Kementerian Perindustrian, Setyoko Pramono; serta Ketua Tim Pengembangan Kerja Sama dan Koordinasi Pendidikan Vokasi Industri, Mufidah.
AIROC Dorong Pelajar Menjadi Pencipta Teknologi
Project Director AIROC 2026, Hani Dwi Irfani, mengatakan kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan peserta mengoperasikan robot, tetapi juga melatih mereka memahami teknologi dan mengembangkan solusi atas berbagai permasalahan.
Menurutnya, pelajar perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, menciptakan, dan memanfaatkannya untuk menghasilkan inovasi.
"Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, anak-anak perlu dipersiapkan bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai generasi yang mampu memahami, menciptakan, dan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan solusi," ujarnya.
Ia menjelaskan, pendidikan perlu memberikan ruang bagi pelajar untuk bereksplorasi, mencoba, melakukan kesalahan, mengevaluasi, dan menemukan cara yang lebih baik.
Proses tersebut penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah sejak dini.
Penggunaan Leanbot dalam kompetisi juga membantu peserta memahami penerapan teknologi secara langsung.
Mereka dapat menyusun program, menguji pergerakan robot, membaca respons sensor, hingga memperbaiki kesalahan dalam pemrograman.
"Leanbot kami hadirkan sebagai media pembelajaran agar peserta tidak hanya melihat teknologi sebagai sesuatu yang digunakan, tetapi juga memahami proses di baliknya.
Ketika mereka menyusun program, menguji pergerakan robot, membaca respons sensor, lalu memperbaiki kesalahan, sesungguhnya mereka sedang belajar berpikir logis, menganalisis masalah, mengambil keputusan, dan berkolaborasi," jelas Hani.
Ia berharap AIROC dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak sekolah serta pelajar dari berbagai daerah.
Tantangan Internasional: Selamatkan Kota Masa Depan dari Polusi
Pada kompetisi internasional, tema Synapse City dirancang sebagai simulasi kota masa depan yang menghadapi persoalan pencemaran lingkungan.
Peserta ditantang memprogram robot agar mampu bekerja secara mandiri untuk menangani sumber polusi. Ada tiga misi utama yang harus diselesaikan, yaitu:
Containment: Memindahkan blok yang menjadi sumber polusi ke area penampungan yang telah ditentukan.
Neutralization: Mengirimkan perangkat penetral ke zona tercemar dengan mencocokkan warna perangkat dan blok polusi.
Analysis: Mengambil blok polusi dan membawanya ke stasiun analisis.
Robot harus menyelesaikan misi dalam batas waktu dua menit. Selama pelaksanaan tantangan, robot tidak boleh mendapatkan campur tangan manusia.
Dengan sistem tersebut, peserta tidak sekadar dituntut membuat robot bergerak sesuai perintah.
Mereka juga harus merancang algoritma, membaca kondisi lingkungan, menentukan langkah, dan mengoordinasikan perangkat secara otomatis.
Sistem Penilaian Kompetisi Internasional
Penyelenggara menetapkan sistem poin berdasarkan keberhasilan robot menyelesaikan setiap tantangan.
Berikut rincian poin yang diperebutkan peserta:
Memindahkan blok polusi: 45 poin per blok.
Mengirim perangkat penetral: 160 poin per pasangan.
Mengambil sampel polusi: 100 poin per blok.
Mengambil blok misteri: 150 poin per blok.
Mengembalikan robot ke stasiun: 40 poin per robot.
Penentuan pemenang tidak hanya mempertimbangkan skor tertinggi. Konsistensi hasil, efisiensi percobaan, dan kecepatan menyelesaikan tantangan juga menjadi aspek penilaian.
Kompetisi Internasional Punya 4 Kategori Reguler dan Open Category
Ada perbedaan antara kategori kompetisi nasional Indonesia dan kompetisi internasional AIROC 2026.
Pada babak nasional Indonesia, kompetisi mempertandingkan tiga kategori, yaitu Explorer, Innovator, dan Master.
Sementara itu, kompetisi internasional memiliki empat kategori reguler dan satu kategori terbuka (Open Category).
Berikut pembagian kategori internasional berdasarkan usia dan teknologi yang digunakan:
1. Explorer
Usia: 6-9 tahun.
Robot: Leanbot Standard.
Pemrograman: Blockly.
2. Creator
Usia: 9-12 tahun.
Robot: Leanbot Standard.
Pemrograman: Blockly.
3. Innovator
Usia: 11-15 tahun.
Robot: Leanbot IoT.
Pemrograman: Blockly, C++, atau Python.
4. Master
Usia: 15-18 tahun.
Robot: Leanbot IoT.
Pemrograman: Blockly, C++, atau Python.
5. Open Category
Usia: 13-20 tahun.
Teknologi: Proyek robotika berbasis solusi nyata.
Berbeda dengan kategori reguler yang mengikuti tantangan dan perangkat sesuai tingkatannya, Open Category memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan proyek robotika sendiri.
Peserta dapat memanfaatkan berbagai perangkat cerdas dan pendekatan teknologi untuk menghasilkan solusi atas persoalan nyata sesuai tema kompetisi.
Jadwal Final Internasional AIROC 2026 di Vietnam
Penyelenggara menjadwalkan final internasional AIROC 2026 pada Minggu, 29 November 2026.
Kompetisi akan berlangsung di Phu Tho Provincial Gymnasium, Kota Viet Tri, Provinsi Phu Tho, Vietnam. Peserta internasional diarahkan melakukan perjalanan melalui Hanoi.
Berikut agenda penting yang perlu diperhatikan:
Batas pendaftaran kompetisi internasional: 8 November 2026.
Batas pengumpulan proyek Open Category: 17 November 2026.
Persiapan dan pembekalan: 28 November 2026.
Final internasional: 29 November 2026.
Dengan demikian, pendaftaran internasional akan ditutup sehari setelah tanggal publikasi artikel ini, sehingga calon peserta perlu memperhatikan tenggat tersebut.
Pythaverse Indonesia Kembangkan Pendidikan Robotika
AIROC 2026 diselenggarakan oleh Pythaverse Indonesia, lembaga yang berfokus pada pengembangan pendidikan berbasis teknologi, robotika, coding, dan inovasi digital.
Penyelenggaraan kompetisi ini melibatkan Feliks Kiedrowsky sebagai Ketua Pelaksana, Hani Dwi Irfani sebagai Project Director, serta Rasyid Azzikra Ashjid sebagai Ketua Tim Teknis dan Pengembangan Kompetisi.
Melalui AIROC 2026, Pythaverse Indonesia ingin memperluas kesempatan bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan teknologi dan menciptakan inovasi sejak dini.
Kompetisi ini mengusung semangat From Technology Users to Technology Creators, yakni mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan dan menciptakan teknologi.
Perjalanan dari kompetisi nasional di Jakarta menuju panggung internasional di Vietnam menjadi kesempatan bagi pelajar untuk menguji kemampuan sekaligus memperluas pengalaman. ***






