POJOKSATU.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya berkaitan dengan meluasnya titik api, tetapi juga polutan yang dihasilkan dan terbawa angin.
Salah satu gas yang perlu diperhatikan adalah karbon monoksida (CO), yang persebarannya dapat dipantau melalui citra satelit NASA.
Visualisasi pada platform NASA Eyes on the Earth memperlihatkan distribusi karbon monoksida dengan konsentrasi relatif tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.
Peta tersebut menggunakan gradasi warna untuk menggambarkan persebaran gas di atmosfer.
Warna oranye dan merah menandakan konsentrasi relatif lebih tinggi, sedangkan biru dan ungu menunjukkan tingkat yang lebih rendah.
Data yang ditampilkan merupakan rata-rata persebaran selama tiga hari terakhir pada ketinggian sekitar 18.000 kaki atau 5,5 kilometer.
Artinya, visualisasi tersebut memberikan gambaran mengenai gas di atmosfer, bukan pengukuran langsung kualitas udara yang dihirup masyarakat di permukaan tanah.
Mengapa Karbon Monoksida Perlu Diwaspadai?
Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak memiliki warna, bau, maupun rasa.
Gas ini terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon mengalami pembakaran tidak sempurna, misalnya ketika pasokan oksigen tidak mencukupi.
Sumber karbon monoksida cukup beragam. Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran bahan bakar fosil, hingga kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan gas tersebut.
Dalam peristiwa karhutla, pembakaran vegetasi melepaskan berbagai polutan ke atmosfer.
Karbon monoksida yang dihasilkan dapat terbawa pergerakan angin sehingga dampaknya berpotensi menjangkau wilayah di luar lokasi kebakaran.
Selain berkaitan dengan pencemaran, gas ini juga terlibat dalam reaksi kimia atmosfer yang memengaruhi konsentrasi metana dan ozon di lapisan atmosfer bawah.
Itulah sebabnya pemantauan karbon monoksida menjadi salah satu bagian penting dalam memahami dinamika polusi udara.
Langkah Sederhana Melindungi Keluarga dari Asap
Ketika kualitas udara memburuk akibat asap, kebiasaan sehari-hari dapat membantu mengurangi paparan.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menekankan pentingnya langkah pencegahan yang mudah diterapkan masyarakat.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memantau kualitas udara secara berkala.
Jangan hanya mengandalkan penampilan langit karena udara yang terlihat cerah belum tentu menunjukkan kondisi yang aman.
Periksa informasi resmi sebelum merencanakan aktivitas di luar rumah.
Jika kualitas udara sedang buruk, kurangi kegiatan di luar ruangan, terutama aktivitas yang membutuhkan tenaga besar.
Olahraga berat di luar rumah sebaiknya dihindari karena napas yang lebih cepat dan dalam dapat meningkatkan jumlah polutan yang terhirup.
Apabila harus bepergian, gunakan masker yang sesuai dan terpasang rapat.
Masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik dapat membantu mengurangi paparan partikel asap, meskipun tidak semua jenis masker mampu melindungi dari gas karbon monoksida.
Kondisi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan.
Ketika asap pekat berada di luar, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap.
Hindari merokok di dalam rumah karena asap rokok dapat menambah pencemaran udara di ruangan.
Perlindungan ekstra diperlukan bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki riwayat asma atau penyakit jantung.
Jika muncul sesak napas, pusing, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, segera cari pertolongan medis.
Dugaan paparan karbon monoksida perlu ditangani serius, terutama bila beberapa orang mengalami gejala serupa di tempat yang sama.***





