POJOKSATU.id - Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sejumlah wilayah Indonesia menghadapi ancaman kekeringan.
Di tengah kondisi tersebut, umat Islam dapat menjalankan salat istisqa, yakni salat sunah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sekitar 75 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau.
Pada Dasarian III Oktober 2026, yang berlangsung pada 21-31 Oktober, sejumlah wilayah juga masuk kategori peringatan kekeringan Waspada, Siaga, hingga Awas.
Kemarau yang berlangsung lama dapat berdampak pada ketersediaan air, pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, upaya menghadapi kekeringan perlu dilakukan melalui langkah nyata sekaligus ikhtiar spiritual sesuai tuntunan agama.
Bagi umat Islam, salat istisqa menjadi salah satu bentuk permohonan agar Allah SWT menurunkan hujan dan memberikan pertolongan kepada makhluk-Nya.
Tata cara salat istisqa saat kemarau panjang
Pelaksanaan salat istisqa menurut kemenag mencakup persiapan sebelum salat, pelaksanaan dua rakaat, hingga khutbah. Berikut urutannya.
1. Berpuasa selama tiga hari
Mengajak masyarakat untuk berpuasa selama tiga hari sebelum pelaksanaan salat istisqa.
Puasa ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan.
2. Berkumpul untuk salat berjamaah
Pada hari keempat, masyarakat berkumpul di lapangan pada pagi hari untuk melaksanakan salat istisqa berjamaah.
Waktunya disebut menyerupai waktu pelaksanaan salat Idulfitri atau Iduladha.
3. Membaca niat salat istisqa
Niat salat istisqa dapat dilafalkan dalam bahasa Arab sebagai berikut:
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat salat sunah istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Taala.”
4. Melaksanakan salat dua rakaat
Tata cara salat istisqa dalam panduan tersebut menyerupai salat Id.
Setelah takbiratul ihram, jamaah melakukan tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.
Selanjutnya, salat diteruskan dengan rukuk, sujud, duduk tahiyat, hingga salam.
5. Mendengarkan dua khutbah
Setelah salat, khatib menyampaikan dua khutbah dengan berdiri dan diselingi sekali duduk di antara kedua khutbah.
Khatib dianjurkan membaca sembilan kali takbir pada khutbah pertama dan tujuh kali takbir pada khutbah kedua.
Isi khutbah juga dianjurkan mengajak jamaah untuk bertobat, memohon ampun atas dosa, serta memperbanyak istighfar.
Harapannya, Allah SWT mengabulkan permohonan hujan dan memberikan kebaikan bagi manusia serta makhluk hidup lainnya.
6. Memanjatkan doa memohon hujan
Pada akhir masing-masing khutbah, khatib disunahkan berdoa sambil menghadap kiblat dan membelakangi jamaah.
Khatib juga dianjurkan menukar posisi selendang atau sorban di pundaknya serta mengangkat kedua tangan ketika berdoa.
Melalui rangkaian ibadah ini, umat Islam diajak memperbanyak doa dan memohon pertolongan Allah SWT ketika menghadapi kemarau panjang.
Meski demikian, ikhtiar spiritual perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketersediaan air, menghemat penggunaan air bersih, dan mencegah kebakaran yang dapat memperburuk dampak kekeringan.***







