POJOKSATU.id - Hujan mulai turun di sejumlah wilayah setelah melewati musim kemarau yang cukup panjang.
Suasana ini tentu menyegarkan, bahkan membuat sebagian orang ingin langsung bermain hujan.
Namun, apakah air hujan yang pertama kali turun benar-benar aman untuk terkena tubuh atau dimanfaatkan sehari-hari?
Hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi lingkungan dan kualitas air hujan itu sendiri.
Air hujan dapat membawa partikel pencemar dari udara, sementara air yang mengalir melalui atap dan talang juga berpotensi tercampur debu, jelaga, kotoran, serta material lain yang menumpuk selama musim kemarau.
Risiko tersebut patut menjadi perhatian, terutama di wilayah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Air hujan pertama setelah periode pencemaran udara dapat membawa polutan yang tersapu dari atmosfer maupun permukaan atap.
Karena itu, air hujan pertama tidak sebaiknya langsung ditampung untuk diminum atau memasak tanpa memperhatikan kualitasnya.
Apakah aman langsung hujan-hujanan?
Terkena air hujan dan meminum air hujan merupakan dua hal yang berbeda.
Tingkat pencemaran udara dan kondisi lingkungan tetap perlu dipertimbangkan.
Jika hujan turun di daerah yang terdampak asap tebal atau pencemaran, sebaiknya hindari aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara belum aman.
Anak-anak juga perlu diawasi saat bermain hujan, terutama jika terdapat genangan yang berpotensi tercemar.
Setelah kehujanan, segera bersihkan tubuh, ganti pakaian basah, dan keringkan badan agar tetap nyaman.
Air hujan pertama sebaiknya tidak langsung ditampung
Bagi masyarakat yang memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga, ada langkah penting yang perlu dilakukan, yakni membuang aliran air pertama sebelum mengumpulkan air berikutnya.
Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan pengalih aliran awal atau first-flush diverter.
Perangkat ini membantu mencegah air pertama yang mencuci permukaan atap masuk ke tangki penampungan.
Jumlah air awal yang perlu dibuang tidak bisa ditentukan dengan satu ukuran untuk semua rumah.
Kebutuhannya dipengaruhi luas atap dan tingkat pencemaran di lingkungan sekitar.
Setelah aliran awal dibuang, penampungan dapat dilakukan ketika kondisi aliran membaik.
Meski demikian, air yang tampak jernih dan tidak berbau belum tentu bebas dari mikroorganisme maupun bahan kimia berbahaya.
Atap dan talang perlu dibersihkan secara berkala. Tangki penampungan juga harus terawat dan tertutup, sementara saluran masuk sebaiknya dilengkapi penyaring untuk menahan daun, serangga, serta material berukuran besar.
Jangan asal menggunakan air hujan untuk minum
Air hujan yang digunakan untuk kebutuhan nonkonsumsi perlu dibedakan dari air untuk minum atau memasak.
Untuk kebutuhan konsumsi, pengolahan harus disesuaikan dengan jenis pencemar yang mungkin terkandung di dalamnya.
Mengendapkan atau menyaring air secara sederhana memang dapat membantu mengurangi partikel tertentu, tetapi tidak menjamin air bebas dari kuman dan senyawa kimia.
Merebus air juga dapat membunuh banyak mikroorganisme, tetapi tidak otomatis menghilangkan logam atau bahan kimia terlarut.
Karena itu, pemeriksaan kualitas air menjadi langkah penting untuk memastikan kelayakannya, terutama jika air hujan digunakan secara rutin sebagai sumber air minum.
Air yang berwarna hitam, berbau asap, atau mengandung banyak endapan sebaiknya tidak langsung digunakan untuk minum maupun memasak.
Siapkan diri menghadapi musim hujan
Selain memperhatikan kualitas air, masyarakat juga perlu menyiapkan diri menghadapi perubahan cuaca.
Membawa payung atau jas hujan saat bepergian dapat membantu mengantisipasi hujan yang turun mendadak.
Kebersihan lingkungan pun tidak boleh diabaikan.
Saluran drainase, selokan, dan area resapan air perlu dibersihkan dari sampah serta dedaunan agar aliran air tidak tersumbat dan risiko banjir dapat dikurangi.
Menjaga asupan makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengenakan pakaian sesuai kondisi cuaca juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Biasakan mencuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah beraktivitas.
Hujan setelah kemarau panjang memang membawa harapan bagi warga yang membutuhkan air.
Namun, memanfaatkan air hujan tetap perlu dilakukan secara bijak.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengelola penampungan secara benar, dan memperhatikan kondisi udara, masyarakat dapat menyambut musim hujan dengan lebih aman dan siap.***







