SUMUT, POJOKSATU.id - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) kembali memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen mulai Rabu, 21 Oktober 2026.

Kebijakan ini diambil setelah kondisi kualitas udara di wilayah Sumut dilaporkan semakin membaik.

Pemberlakuan kembali pembelajaran secara langsung tersebut sekaligus mengakhiri kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sebelumnya diterapkan untuk mengantisipasi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Sekolah SD Terpadu Muhammadiyah 36, Hasnah Rangkuti, membenarkan pengembalian kegiatan belajar mengajar secara penuh di sekolah saat dikonfirmasi pada Selasa (20/10/2026).

"Iya, bahwa besok kembali diberlakukan PTM 100 persen," ujar Hasnah.

Keputusan tersebut diperkuat melalui surat Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 400.3/006/X/2026 tertanggal 20 Oktober 2026 yang ditandatangani Penjabat Sekretaris Daerah Sumut, Timur Tumanggor.

Surat itu merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Nomor 400.3/005/X/2026 tertanggal 16 Oktober 2026 mengenai penyesuaian kegiatan pembelajaran di tengah kondisi kabut asap.

Dalam surat terbaru tersebut, Pemprov Sumut menginstruksikan seluruh kepala satuan pendidikan di bawah pembinaan Dinas Pendidikan provinsi, kabupaten/kota, serta Kementerian Agama untuk menghentikan PJJ dan kembali melaksanakan PTM secara penuh mulai 21 Oktober 2026.

Meski kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung di sekolah, pemerintah daerah tetap diminta memastikan pelaksanaannya berjalan tertib dan lancar.

Sementara itu, Sekretaris Daerah kabupaten/kota, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara diinstruksikan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut.

Langkah ini diperlukan untuk memastikan kegiatan pembelajaran berjalan sesuai ketentuan dan protokol kesehatan yang berlaku.

Dengan diberlakukannya kembali PTM 100 persen, aktivitas pendidikan di Sumatera Utara diharapkan dapat kembali berjalan normal setelah sebelumnya menyesuaikan metode pembelajaran akibat dampak kabut asap karhutla.