JAKARTA, POJOKSATU.id - Acungan tiga jari yang muncul dalam aksi demonstrasi mahasiswa bukan sekadar gestur tangan.

Simbol yang populer melalui film The Hunger Games tersebut telah berkembang menjadi bahasa visual perlawanan terhadap kekuasaan dan seruan untuk memperjuangkan demokrasi.

Pada Rabu (28/102026) simbol three-finger salute digaungkan di sosial media dan demo mahasiswa hari ini yang diinisiasi oleh kelompol mahasiswa tergabung dalam Komite Sadar.

Mereka merupakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, serta BEM Universitas Diponegoro.

Pada aksi kali ini, Komite Sadar mengusung tema "Tepati atau Pergi."

Di media sosial, mereka menonjolkan simbol tiga jari (three-finger salute) yang dipopulerkan novel The Hunger Games sebagai materi kampanye.

BEM UI menyatakan bahwa three-finger salute "telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas melampaui batas-batas fiksi."

"Mulai dari penolakan kudeta militer di Thailand dan Myanmar hingga perlawanan terhadap represi di Hong Kong. Terinspirasi dari semangat Revolusi Prancis, setiap jari membawa manifestasi nilai liberté atau kebebasan, égalité atau kesetaraan, dan fraternité atau persaudaraan," ucap BEM UI.

Dengan simbol itu, BEM UI mengungkapkan "sudah saatnya kita merebut kembali ruang demokrasi."

"Penggunaan simbol ini adalah identitas kita bersama untuk merapatkan barisan, baik di jalanan maupun dalam aktivisme digital," tegas mereka.

Berawal dari Film, Berkembang Menjadi Simbol Protes

Istilah three-finger salute dikenal luas melalui serial film The Hunger Games.

Dalam cerita tersebut, gestur tiga jari digunakan sebagai tanda penghormatan, solidaritas, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

Simbol fiksi itu kemudian keluar dari layar dan digunakan dalam gerakan politik di dunia nyata. Salah satu momen penting terjadi di Thailand setelah kudeta militer pada Mei 2014.

Dikutip dari The Guardian, sejumlah demonstran Thailand mengadaptasi gestur tersebut untuk menyatakan penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Dalam perkembangannya, tiga jari menjadi simbol yang mudah dikenali dalam aksi prodemokrasi Thailand.

Aktivis Sirawith Seritiwati menjelaskan bahwa gestur tersebut dapat merepresentasikan kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas.

Pesan perlawanan terhadap pemerintahan otoriter dalam The Hunger Games dinilai memiliki kedekatan dengan pengalaman anak muda yang menentang kekuasaan militer.

Sejak saat itu, penggunaan gestur tiga jari meluas ke berbagai gerakan pro-demokrasi di negara lain.

Maknanya dapat berubah mengikuti konteks politik, tuntutan, dan pengalaman masyarakat yang menggunakannya.

Simbol Sederhana dengan Pesan Politik

Salah satu kekuatan three-finger salute terletak pada kesederhanaannya.

Gestur ini dapat dilakukan siapa saja dan mudah dikenali dalam dokumentasi aksi, foto jurnalistik, maupun unggahan media sosial.

Di tengah demonstrasi, simbol tersebut dapat membangun identitas kolektif sekaligus memperlihatkan bahwa sejumlah orang memiliki keresahan atau tuntutan yang sama.

Ketika foto massa yang mengacungkan tiga jari tersebar di ruang digital, pesan aksi juga dapat menjangkau masyarakat yang tidak hadir secara langsung di lokasi demonstrasi.

Dengan demikian, simbol politik tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi di jalanan, tetapi juga menjadi bagian dari komunikasi gerakan sosial di media digital.

Meski demikian, makna tiga jari tidak selalu seragam. Penafsirannya tetap bergantung pada konteks, pihak yang menggunakannya, serta tuntutan yang disampaikan dalam suatu gerakan.

Dari Simbol ke Tuntutan Nyata

Penggunaan simbol visual juga terlihat dalam berbagai gerakan mahasiswa di daerah.

Dalam aksi bertajuk Jogja Memanggil, misalnya, mahasiswa bersama elemen masyarakat menyuarakan beragam persoalan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, lingkungan, dan kesejahteraan warga.

Tuntutan yang disuarakan mencakup penetapan kebakaran hutan sebagai bencana nasional, penghentian perampasan tanah rakyat, pemenuhan hak pengemudi ojek daring, serta jaminan upah layak bagi pekerja.

Massa juga menyampaikan penolakan terhadap pembangunan batalion teritori militer, tuntutan pendidikan gratis, penolakan program Makan Bergizi Gratis, serta desakan penyelesaian kasus korupsi Stadion Mandala Krida.

Beragam tuntutan tersebut menunjukkan bahwa aksi demonstrasi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai persoalan yang dianggap mendesak oleh kelompok masyarakat.

Pada akhirnya, acungan tiga jari hanyalah salah satu cara untuk menyampaikan pesan politik.

Arti pentingnya tidak berhenti pada gestur yang terlihat dalam foto atau video, melainkan pada aspirasi yang dibawa serta tindak lanjut atas tuntutan yang disampaikan.

Simbol dapat menyatukan perhatian publik, tetapi perubahan tetap membutuhkan pengawalan, partisipasi masyarakat, dan respons nyata dari pihak yang memiliki kewenangan.