POJOKSATU.id, JAKARTA— Soeharto sebagai penguasa Orde Baru ternyata pernah memenjarakan Pahlawan Nasional Bung Tomo selama satu tahun gara-gara mengkritik pembangunan TMII.
Soeharto memenjarakan tokoh pertempuran Surabaya Bung Tomo selama satu tahun dari tahun 1978 hingga 1979 di Pondok Gede, Jakarta Timur.
Diketahui pada tahun 1978, Siti Hartinah, istri mantan Presiden Soeharto, sedang sibuk merancang pembangunan TMII.
Baca Juga: Bila Ganjar Berduet dengan Sandi Uno, Peluang Prabowo Menang Sangat Tipis
Bung Tomo mendapat informasi bahwa Bu Tien meminta para pengusaha memberikan 10 persen keuntungan usahanya untuk pembangunan TMII.
Lalu Bung Tomo menyampaikan informasi itu dan mengkritik pembangunan TMII itu dalam setiap pidatonya.
Pada 11 April 1978, Bung Tomo pun ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Ia dikerangkeng tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.
Menurut Sulistina, istri Bung Tomo tahun 2015 lalu seperti dilansir dari detikcom, Soeharto dan istrinya Tien Soeharto sepertinya tersinggung dengan kritik Bung Tomo sehingga menangkap Bung Tomo.
Baca Juga: Tukin PNS DKI Jakarta Bikin Ngiler, TPP Camat dan Kapus Ngalahin Gaji Presiden
Kritik Bung Tomo terhadap Soeharto sejatinya bukan cuma soal TMII saja. Sebelumnya, ia mengritik keras peran asisten pribadi Soeharto yaitu Ali Moertopo dan Sudjono Humardani, dan keluarga Presiden Soeharto.
Juga praktek cukongisme sebagai realisasi nepotisme dan klik, melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha nonpribumi.
Menjelang hari Pahlawan 1972, Majalah Panji Masyarakat No 855 Tahun XIII memuat wawancara dengan Bung Tomo dengan judul "Bung Tomo Menggugat: Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan Semangat 10 November 1945 telah dikhianati".
Artikel ini berisi kritikan Bung Tomo kepada Presiden Soeharto, Gubernur Ali Sadikin, dan Bulog yang seolah-olah menganakemaskan etnis Tionghoa.
Sulistina tentu saja tidak terima sang suami diperlakukan secara tidak adil oleh Presiden Soeharto.
Istri dari tokoh pertempuran Surabaya itu lalu marah dan mengirim surat protes kepada Soeharto pada 6 Juli 1978.
Sulistina dalam suratnya menyebut Bung Tomo sebagai orang yang sudah mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya, dan tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri.
"Nyatanya, tuduhan yang ditujukan kepada Bung Tomo dengan memenjara selama setahun tidak terbukti," kisah Sulistina tahun 2015 lalu.
Keluar dari penjara, Bung Tomo tidak sungkan langsung menunjukkan rasa cintanya pada Sulistina.
Bung Tomo langsung memeluk dan menggendong Sulistina di depan umum di kantor kejaksaan.
Tentang pemenjaraan dirinya itu, Bung Tomo menganggapnya sebagai risiko perjuangan. Risiko seorang Angkatan 45 yang ingin membela nama baik Angkatan 45 dan ingin membela nama baik TNI.
"Untuk semua itu, untuk Tanah Air tiada pengorbanan yang terlalu besar. Itulah pendirian saya," tulisnya dalam buku "Romantisme Bung Tomo: Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan yang diterbitkan Yayasan Bung Tomo, 2006.
Kepada Pangkopkamtib Laksamana Sudomo dan Jaksa Agung Ali Said, Bung Tomo pernah menulis surat terkait penahanannya.
Ia berjanji bila sudah keluar dari tempat dirinya ditahan, bila dibebaskan sama sekali atau dalam status tahanan luar, Bung Tomo tidak akan berbicara lagi mengenai hal-hal yang sensitif dan dapat mengeruhkan suasana saat itu.***




