JAKARTA, POJOKSATU.id - Sebuah skenario besar yang akan memunculkan Gibran Rakabuming Raka gagal lantaran sejumlah jenderal penyadap Presiden Prabowo Subianto keburu ditangkap.
Dalam skenario tersebut, terjadi demo besar-besaran pada 20 Oktober 2026 yang mengepung Istana.
Hari itu juga bertepatan dengan tanggal Prabowo dilantik sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024.
Saat demo besar-besaran dan Istana yang tekepung itulah Gibran Rakabuming Raka muncul sebagai penyelamatnya.
Akan tetapi skenario tersebut gagal terlaksana lantaran sejumlah jenderal Polri penyadap Prabowo lebih dulu tertangkap.
Menilik pada runut perjalanan kasus ini, penyadapan presiden itu dinilai sudah mengarah pada tindakan makar.
"Jadi, kira-kira memang tujuannya (penyadapan) agak-agak makar, gitu," ungkap Mahfud MD, dikutip Pojoksatu.id, Rabu 4 Oktober 2026.
Mahfud lantas menceritakan perjalanan isu yang sempat ramai dan berkembang pada 2024, saat Prabowo baru saja dilantik.
Dimana saat itu, Connie Rahakundini Bakrie pernah mengungkap dalam sebuah podcast.
Disebut Connie, bahwa ada skenario Prabowo Subianto 'disetting' menjabat sebagai Presiden hanya untuk dua tahun saja.
"(Connie mengatakan) Bahwa Jokowi bilang melalui Rosan, bahwa Pak Prabowo, tuh, jadi presiden diberi jatah 2 tahun," tutur Mahfud.
Akibat pernyataannya, pengamat militer, dan pakar pertahanan-keamanan serta hubungan internasional itu lantas 'dikejar-kejar'.
Bahkan untuk menghindari kejaran itu, Connie Rahakundini sampai 'melarikan diri' ke luar negeri.
"Nah, waktu itu Bu Connei dikejar-kejar sampai pergi ke Rusia, ngajar lagi. Padahal ngajar lagi karena mau ditangkap, mau apa gitu," kata Mahfud.
"Padahal yang bilang ke Connie itu Rosan, gitu," sambungnya.
Namun seiring perjalanan waktu, momen itu berlalu begitu saja.
Dipicu Masalah Ijazah
Dalam perkembangan terbaru, situasi dan kondisi politik bergerak dinamis. Salah satunya adalah munculnya kasus ijazah Jokowi dan Gibran.
Dimana kasus ijazah Jokowi dan ijazah Gibran terus diumbar panjang berjilid-jilid.
"Karena ijazahnya Pak Jokowi terus dibuka, Gibran ijazahnya dipersoalkan, itu konon sudah hidup lagi wacana (Prabowo 2 tahun)," ucap Mahfud.
"Kalau gitu, Pak Pak Prabowo di-'ini' aja. Itulah pokoknya, seperti dulu itu sudah ada pematangan," sambungnya.
Mahfud juga kemudian menyinggung pernyataan orang dekat Jokowi sekaligus Ketua Projo, Budie Arie Setiadi, yang saat itu juga memicu kontroversi.
Dalam video yang beredar, Budi Arie Setiadi menyinggung soal kemungkinan Prabowo lengser.
Salah satu ucapan Budi Arie yang kemudian viral adalah kesiapan ketika Prabowo nantinya benar-benar lengser.
"Dan ada Budi, itu yang yang bilang, kan, kalau terjadi kita siap gak. Itu, kan dianggap sebagai isyarat," papar Mahfud.
Gibran Sang Juru Selamat
Lebih lanjut Mahfud memaparkan bahwa kemudian ada sebuah skenario yang dirancang sedemikian rupa.
"Nah, yang terakhir kemudian persis 20 Oktober (2026) itu ada rencana demo buruh besar-besaran di (Bundaran) HI dan mengepung Istana," beber Mahfud.
Akan tetapi skenario demo besar-besaran itu lebi dulu diendus dan dicegah.
"Sebelum terjadi (demo), diketahui oleh Kapolri yang baru ini, Pak Suyudi," kata dia.
Dari hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan penelusuran.
Ini perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan dan target demo besar-besaran yang gagal digelar pada 20 Oktober 2026 itu.
"Nah, di situlah terus diselidiki apa tujuan demo besar-besaran itu." kata Mahfud.
Dari demo besar-besaran itu juga, dalam skenario dimaksud, nantinya memunculkan Gibran sebagai sang juru selamat.
"Tujuannya nanti buruh turun semua. Lalu nanti yang mengamankan situasi Gibran, buruh akan pulang atas perintah Gibran, gitu," papar Mahfud MD.






