JAKARTA, POJOKSATU.id - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengkritik pandangan Rocky Gerung soal pemenuhan gizi anak dengan anggaran gaji guru.
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri, menilai kebutuhan nutrisi anak dan kesenjangan para guru tidak menjadi pertentangan, apalagi seolah-olah salah satu dari kedua itu harus dikorbankan.
Kata Iman banyak para guru saat ini mengeluhkan keterlambatan pembayaran tunjangan dan persoalan anggaran pendidikan sementara MBG diperdebatkan.
"Rocky Gerung menyerang guru demi membela MBG. Pernyataannya bahwa gaji guru diambil dari nutrisi anak, sehingga MBG tidak masalah mengambil gaji guru," ujar Iman
Iman juga mempertanyakan bagaimana dengan guru yang belum mendapat gaji berbulan-bulan?
"Kalau gurunya tidak punya gaji berbulan-bulan, yang bisa diambil darahnya aja. Berarti lu ngisep darah guru, Rock," tulis Iman melalui akun X nya yang dikutip pada Selasa (13/10/2026).
Iman mengkritik Rocky Gerung terkait cara Wantimpres itu membingkai hubungan antara program pemenuhan gizi anak dan penghasilan guru.
Menurut Iman, pembahasan mengenai kebutuhan nutrisi peserta didik semestinya tidak menjadi persoalan kesejahteraan pendidik untuk kehilangan perhatian.
Ditegaskan Iman, bahwa gaji guru telah menjadi bagian dari pembiayaan pendidikan sebelum program MBG dijalankan.
Ditambahkan Iman, tidak tepat jika penghasilan guru digambarkan seolah-olah mengambil jatah yang seharunya digunakan untuk pemenuhan gizi anak.
"Gaji guru tidak pernah mengambil dana MBG, karena gaji guru sudah ada sebelum MBG. Justru MBG yang mengambil anggaran pendidikan yang selanjutnya berdampak pada gaji guru," tambah Iman di postingannya.
Iman menyoroti penggunaan anggaran pendidikan untuk mendanai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan sumber pembiayaan lain agar pelaksanaan program tersebut tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan utama sektor pendidikan, termasuk hak finansial para guru.
Ia merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinilainya membuka ruang bagi pemerintah untuk membiayai MBG di luar alokasi minimal 20 persen anggaran pendidikan dalam APBN.
Dengan demikian, kebutuhan pendanaan program tersebut dapat dipenuhi tanpa mengurangi porsi anggaran yang diperuntukkan bagi sektor pendidikan.
“Gaji guru dari 20% pendidikan, maka MBG bisa ambil 80% APBN. Kenapa harus berfilsafat buat ngambil 20% pendidikan? kurang gede apa lagi 80% APBN?” tulis Iman.
Ia juga menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan mengenai penolakan terhadap upaya pemenuhan gizi anak.
Menurutnya, pemerintah perlu mengatur prioritas dan sumber pendanaan secara tepat agar program MBG tetap berjalan tanpa mengorbankan kesejahteraan tenaga pendidik.
Kritik Iman ini muncul di tengah perbincangan mengenai hubungan antara pemenuhan gizi siswa dan kesejahteraan guru yang dibahas Rocky Gerung dalam siniar di kanal YouTube Bagas Muljadi.
Dalam diskusi tersebut, Rocky menyoroti pentingnya kedua aspek itu bagi keberlangsungan pendidikan.
Ia menggambarkan dampak yang mungkin terjadi apabila anggaran pendidikan sepenuhnya dialihkan untuk MBG, maupun jika seluruh anggaran MBG digunakan untuk membiayai guru.
“Kalau misalnya seluruh dana Pendidikan dipindahkan ke MBG, gurunya mati tuh. Begitu pun sebaliknya, seluruh dana MBG dipindahkan untuk guru, gurunya cerdas tapi saat memulai mengajar anaknya bego, karena anaknya gak dapat nutrisi,” ujar Rocky, dikutip Selasa (13/10/2026).
Rocky menekankan bahwa kualitas pendidikan membutuhkan dukungan terhadap tenaga pendidik sekaligus pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Namun, Iman menilai persoalan tersebut seharusnya tidak berhenti pada perbandingan antara kepentingan guru dan siswa, melainkan juga membahas keputusan pemerintah dalam menentukan sumber pendanaan program.
Menurut Iman, alokasi anggaran pendidikan dan pembiayaan MBG perlu ditempatkan secara proporsional.
Ia mempertanyakan alasan penggunaan anggaran pendidikan untuk program tersebut ketika pemerintah masih memiliki ruang pendanaan lain dalam APBN.







