JAKARTA, POJOKSATU.id - Keputusan pemerintah Indonesia pangkas pasokan gas alam ke Singapura sebesar 31 BBTUD menjadi sorotan di forum energi internasional.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol bahkan melontarkan sindiran keras.

Meski tidak menyinggung dan menyebut nama Presiden Prabowo Subianto secara langsung.

Dalam pernyataannya, Fatih Birol menyinggung pentingnya kepercayaan dalam perdagangan energi, termasuk risiko reputasi bagi negara yang menggunakan energi sebagai instrumen politik.

Pernyataan tersebut disampaikan Fatih Birol saat membuka Singapore International Energy Week (SIEW) 2026 di Singapura, Senin, 26 Oktober 2026.

Momen itu terjadi dua hari setelah Indonesia mulai mengurangi pasokan gas pipa ke negara tetangganya tersebut.

Fatih tidak menyebut nama Presiden Prabowo Subianto secara langsung dalam pernyataannya.

Namun, penekanannya mengenai kepercayaan, komitmen eksportir, dan risiko reputasi muncul ketika keputusan Indonesia memangkas ekspor gas sedang menjadi perhatian pemerintah Singapura.

"Apa komoditas yang paling langka? Apakah minyak? Bukan. Apakah energi? Bukan. Apakah uranium? Bukan. Tembaga? Bukan," tegasnya seperti dikutip Pojoksatu.id pada Selasa 27 Oktober 2026.

Dia menegaskan bahwa semua komoditi yang selama ini dianggap langka itu sejatinya juga 'tidak langka'.

"Komoditas paling langka saat ini di dunia energi adalah kepercayaan. Orang-orang mencari mitra yang dapat dipercaya," tekan Fatih.

Fatih menekankan bahwa kepercayaan merupakan unsur penting dalam perdagangan energi internasional.

Menurut dia, negara pengimpor membutuhkan mitra pemasok yang dapat diandalkan.

Sebaliknya, negara eksportir yang dinilai mengingkari kepercayaan atau menggunakan pengaruh energi untuk kepentingan politik berisiko menghadapi dampak terhadap reputasi bisnisnya.

"Jika suatu negara pengekspor menggunakan energinya, pengaruh politiknya, saya dapat mengatakan kepada Anda, mereka menghadapi risiko reputasi yang dapat berujung pada bisnis mereka," papar dia.

Fatih juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi.

Negara pengimpor, menurut dia, sebaiknya tidak bergantung pada satu negara, satu jalur perdagangan, atau satu perusahaan.

Pernyataan tersebut relevan dengan situasi Singapura yang selama ini memperoleh sebagian pasokan gas melalui jaringan pipa dari Indonesia dan Malaysia.

Singapura juga mengimpor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari pasar internasional.

Meski demikian, pernyataan Fatih perlu ditempatkan secara proporsional.

Ia tidak secara eksplisit menyebut Prabowo ataupun menyatakan bahwa Indonesia telah melanggar kontrak dalam pidato tersebut.

Karena itu, pernyataan tersebut lebih tepat dipahami sebagai penekanan mengenai prinsip kepercayaan dan risiko reputasi dalam perdagangan energi, yang disampaikan ketika pengurangan pasokan gas Indonesia untuk Singapura menjadi isu aktual.