JAKARTA, POJOKSATU.id - 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diberikan nilai cuma rata-rata 4.
Hal ini berarti, jika diibaratkan seorang anak kuliahan maka pemerintahan Prabowo-Gibran dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang lagi dari awal.
Ada 4 orang yang memberikan penilaian antara lain Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Padjajaran Prof Susi Dwi Harijanti.
Lalu analis komunikasi politik Hendri Satrio dan Virdian Aurellio seorang aktivis sekaligus konten kreator politik.
Dan terakhir Feri Amsari pakar hukum tata negara dari Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Keempat narasumber tersebut masing-masing diberikan kertas putih kosong dan spidol besar.
Mereka diminta menuliskan berapa nilai yang diberikan untuk 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Nilai dituliskan dalam bentuk angka dengan skala 1-10.
Hasilnya, Prof Susi dan Feri Amsari kompak memberikan nilai 3, sementara Hendri Satrio memberikan nilai 6,9.
Nilai terkecil diberikan Virdian Aurellio dengan angka 11 dari 100.
Jika dirata-rata dari keempatnya maka nilai 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran cuma di angka 4 dari 10.
Sulit Temukan Hal Baik
Hensat, sapaan akrabnya, orang pertama yang ditanya alasannya kenapa memberikan nilai 6,9.
Sebagai catatan, nilai yang diberikan Hensat itu menjadi yang tertinggi dari lainnya.
Akan tetapi pendiri Lembaga survei dan kajian politik KedaiKOPI itu memiliki alasan yang cukup menggelitik di baliknya.
"Ya, nakal aja angkanya," ucap dia dikutip Pojoksatu.id, Rabu 21 Oktober 2026.
Sambil berseloroh dan menahan tawa, Hensat menyebut nilai itu ia berikan dengan penuh pertimbangan.
"Salah satunya adalah Jumat berkah. Kalau enggak hari Jumat mungkin ini lebih turun lagi," ungkap dia sembari tertawa.
Menurut Hensat, banyak sekali hal-hal yang harus dikritisi di pemerintahan saat ini.
"Tapi banyak juga hal baik yang harus disyukuri. Walaupun susah juga nyari yang disyukuri, ya," sindirnya.
'Mahasiswa' yang Tidak Lulus
Prof Susi yang juga dosen Unpad mengumpamakan nilai pemerintahan Prabowo-Gibran itu seperti mahasiswa yang tengah menempuh studi.
"Berarti ee mahasiswanya itu tidak memenuhi (tidak lulus). Kalau di kelas itu learning outcome, tujuan pembelajaran,"
Menurutnya, yang menentukan learning outcome dalam hal ini adalah rakyat. Semisal bidang hukum, kesehatan atau pendidikan.
"Karena saya orang pendidikan, maka learning outcome-nya itu menjadi sangat jelek," jelas dia.
ia lantas memaparkan kenapa bidang pendidikan di era pemerintaah saat ini sangat jelek.
"Karena anggaran-anggaran pendidikan itu dipakai untuk yang bukan pendidikan (MBG), gitu," papar Prof Susi.
"Itu alasan saya kenapa saya kasih nilai tiga. Jadi, learning outcome-nya itu enggak tercapai gitu, ya," tandasnya.
Harusnya Nilai 0
Sementara Feri Amsari menyebut, nilai 3 dari 10 yang ia berikan untuk pemerintahan saat ini sejatinya sudah bagus.
"Karena orang ini di hari pertamanya menjabat langsung menabrak konstitusi," tegas Feri.
Yang dimaksud Feri adalah keputusan Prabowo yang langsung mengangkat Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet atau Seskab.
Sebab saat pengangkatan Teddy, dinilai melanggar Pasal 47 ayat (2) UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.
Dimana aturan tersebut melarang prajurit TNI aktif menduduki jabatan sipil di luar kementerian/lembaga yang ditentukan.
Kecuali jika saat diangkat menjadi Seskab, Teddy lebih dulu telah pensiun dini.
"Harusnya nilainya nol. Hari pertama jadi Presiden sudah melanggar konstitusi," tekan dia.
"Tapi karena perlu rasa kasih dalam menjalankan negara, ya, kasih (nilai) tiga aja, yang pada dasarnya tidak lulus," papar dia.
Feri juga menyampaikan, nilai yang ia berikan itu konsisten dengan nilai yang terungkap dalam hasil survei Celios beberapa waktu lalu.
Dimana survei tersebut menggunakan 3 alat ukur yakni kepatuhan kepada konstitusi, kepatuhan kepada undang-undang, dan berdampak kepada publik.
"Tidak ada satupun dari tiga alat ukur itu yang dipenuhi oleh Presiden Prabowo," tegasnya.
Jauh di Bawah Ekspektasi
Sementara Virdian Aurellio tegas memberikan nilai 11 dari 100 karena menilai pemerintahan di bawah Presiden Prabowo memang jauh dari ekspektasi.
Pertama, ia meyakini pemerintahan itu tidak perlu dipuji sebelum benar-benar menuntaskan atau sampai pemerintahannya berakhir.
"Sama seperti Messi, setelah menang piala dunia baru kita sebut Greatest of All Time (GOAT). Pemerintah juga sama," jelas dia.
Kedua, sependapat dengan Prof Susi, ia melihat pemerintahan saat ini memang tidak memiliki learning outcome.
"Menurut saya situasi hari ini, negara bukan saja tidak punya learning outcome," sambung dia.
Lebih dalam, eks Ketua BEM Unpad yang mewakili Gen-Z ini mengaku pemerintahan saat ini benar-benar jauh dari ekspektasi.
Ia lalu mengilustrasikan penilaiannya dengan gestur mengukur tinggi menggunakan tangan setinggi pundak lalu turun setinggi lutut.
"Ketika Prabowo menang saya pikir segini, saya gak nyangka ternyata segini," tuturnya.
"Jadi nilai 11 dari 100 itu sudah alhamdulilah baik. Tadinya saya pengen kasih nilai 11 dari 19 juta," sindir Virdian Aurellio.








